Menkes Optimis Bisa Kumpulkan Dana Pandemi $10,5 Miliar Meski Butuh Waktu

YOGYAKARTA (VOA) — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut sejumlah negara telah berkomitmen mendukung pendanaan penanganan pandemi di masa datang itu. Hingga saat ini, jumlah yang telah terkumpul sekitar $1,1 miliar. Indonesia akan memanfaatkan momen presidensi G20 untuk mendorong negara-negara meneguhkan komitmen dukungan pendanaan mereka.

“Orang mengatakan, ada gap antara $1,1 miliar dengan $10,5 miliar. Tetapi Anda tahu, untuk membangun pendanaan itu membutuhkan waktu. Saya banker selama 30 tahun, saya tahu bagaimana mengumpulkan dana. Dan sebenarnya $10,5 miliar tidak sebesar yang dibayangkan. Kita bisa mengumpulkan dana sejumlah itu, tetapi akan membutuhkan waktu,” kata Budi di Yogyakarta, Senin (20/6) petang.

Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan G20 di Bali pada November 2022. Sektor kesehatan adalah salah satu fokus pembicaraan. Pada 20-21 Juni 2022, diselenggarakan pertemuan pertama Menteri Kesehatan G20 yang dilanjutkan dengan pertemuan bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Keuangan G20. Pertemuan ini dimanfaatkan Indonesia untuk memastikan komitmen pendanaan, dalam skema yang disebut sebagai Financial Intermediary Fund (FIF).

Optimisme Budi tentu bukan tanpa dasar. Dia mengakui, seorang pejabat senior Bank Dunia telah mengatakan padanya bahwa FIF untuk pendanaan pandemi di masa datang ini adalah upaya pengumpulan komitmen pendanaan tercepat yang pernah ada. Bank Dunia sendiri memiliki sejumlah pendanaan yang juga menggunakan skema FIF.

Sejumlah negara telah menyampaikan komitmennya untuk kontribusi ke FIF. Di antaranya adalah Amerika Serikat ($450 juta), Uni Eropa ($450 juta), Jerman (50 juta Euro), Indonesia ($50 juta), Singapura ($10 juta) dan Wellcome Trust (10 juta Poundsterling).

Dana ini akan dikelola bersama oleh WHO dan Bank Dunia, dengan mengombinasikan keunggulan masing-masing.

BACA JUGA :  FKIP Unila dan Dinsos Provinsi Lampung Sepakat Kolaborasi Program Pelatihan Musik dan Tari Inklusif Bagi Penyandang Disabilitas

“WHO memiliki kepemimpinan dalam teknis kesehatan. Jadi jelas sekali bahwa sektor kesehatan akan dipimpin oleh WHO. Bank Dunia kuat dalam segala hal terkait uang, jadi mereka kuat dalam urusan uang, mengelola uang, meningkatkan pendanaan, itu kemampuan mereka. Mengombinasi kekuatan ini akan membuat kita bisa bergerak jauh ke depan,” tegas Budi.

Struktur FIF Inklusif

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut pembentukan FIF adalah satu dari sekitar 300 rekomendasi organisasi itu terkait pandemi. Sebuah skema pengumpulan dana baru diharapkan mampu mendukung negara-negara di dunia, memperkuat kemampuan mereka melawan epidemi dan pandemi.

Sepanjang pertemuan G20 di Yogyakarta, 20 Juni 2022, Ghebreyesus mengakui terjalin diskusi produktif, tentang akan seperti apa FIF dan bagaimana dana tersebut dioperasikan.

“Isu krusialnya adalah bagaimana pengelolaan FIF harus inklusif dengan struktur yang membuka kesempatan untuk perwakilan semua negara, dan itu harus koheren dengan bagian lain dari arsitektur global untuk kesiapan dan respons terhadap kedaruratan kesehatan,” tegas Ghebreyesus.

Selain FIF, WHO juga merekomendasikan pengembangan platform untuk produksi vaksin yang lebih cepat, menyeimbangkan akses terhadap vaksin bagi semua negara. WHO juga meminta ada terobosan dalam tes, perawatan dan upaya-upaya lain dalam menghadapi pandemi di masa depan.

“Platform ini juga menjadi kunci fokus bagi presidensi G20 Indonesia. Kami juga mendiskusikan prioritas G20 lain di bawah Menteri Budi, yaitu mengembangkan produksi vaksin lokal, tes dan perawatan. Ini adalah isu lain dari WHO untuk membuat dunia menjadi lebih aman,” tambahnya.

Dalam FIF, peran WHO diproyeksikan akan lebih banyak pada sektor teknis.

“Dan kami akan memastikan bahwa pendanaan itu akan digunakan berdasar pada bukti-bukti teknis, dan pada cara yang mampu memberikan dampak terbaik,” lanjut Ghebreyesus.

BACA JUGA :  Jokowi Tegaskan Indonesia Siap Jadi Jembatan Perdamaian Ukraina-Rusia

Meski FIF dimaksudkan untuk membuat negara-negara lebih mampu menghadapi pandemi di masa depan, tidak berarti otomatis penanganan pandemi selanjutnya akan lebih baik. Ghebreyesus mengatakan sebaik apa kemampuan negara di masa depan, tergantung sebaik apa pula mereka belajar dari pandemi saat ini.

Salah satu prioritas yang diminta WHO, adalah penyediaan sarana layanan kesehatan primer dan fokus negara pada kesehatan masyarakat. Indonesia dinilai Ghebreyesus telah memiliki skema yang baik terkait ini.

Indonesia Dukung Mekanisme Kerja Sama

Juru Bicara G20 Kementerian Kesehatan RI dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid menyebut Indonesia jelas mendukung pembentukan FIF. Dalam pertemuan dengan media, Senin (20/6) di Yogyakarta, Nadia mengatakan pembangunan sistem kesehatan global dilakukan dengan sinergi mobilisasi sumber daya keuangan dan kesehatan esensial.

“Kita perlu mendukung pembentukan dana perantara keuangan yang sesuai melalui pendanaan negara G20 dan gugus tugas kesehatan. Dana saja tidak akan cukup. Ke depan, kita harus membangun mekanisme untuk meningkatkan dan memobilisasi sumber daya sehingga penanggulangan medis darurat dapat diakses oleh semua negara saat krisis terjadi,” ujar dr. Nadia.

Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G20 di Jakarta 17 Februari 2022 lalu (foto: ilustrasi).

Ditambahkan Nadia, negara-negara juga perlu mengonsolidasi dan memastikan kemitraan multisektoral yang ada saat ini. Kemitraan yang telah terjalin selama epidemi dan pandemi utama, adalah Kelompok Koordinasi Internasional (ICG) tentang penyediaan vaksin, Kerangka Kesiapsiagaan Pandemi Influenza (PIP), dan ACT-Accelerator.

“Kemitraan ini dapat membantu negara-negara secara efektif menangani pandemi di masa depan,” tambahnya.***