Paus Izinkan Perempuan Beri Suara pada Pertemuan Uskup

KRAKATOA.ID, VATIKAN (AP) — Paus Fransiskus mengizinkan perempuan untuk memberikan suara mereka pada pertemuan uskup mendatang. Perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya ini mencerminkan harapannya untuk memberikan tanggung jawab pengambilan keputusan kepada perempuan dan orang biasa dalam ranah Gereja Katolik.

Persetujuan Paus Fransiskus akan perubahan yang mengatur Sinode Para Uskup, sebuah badan Vatikan yang mengumpulkan uskup dari seluruh dunia untuk pertemuan berkala, lahir setelah desakan para perempuan selama bertahun-tahun.

Pada Rabu (26/4/2023), Vatikan merilis perubahan tersebut, yang menekankan keinginan Paus untuk memperbesar peran orang-orang awam yang taat untuk terlibat dalam urusan gereja. Selama ini, hal itu lebih banyak dilimpahkan ke pendeta, kardinal, dan uskup.

Disambut Kelompok Perempuan

Kelompok perempuan katolik yang selama ini mengkritik Vatikan karena memperlakukan perempuan sebagai warga kelas dua memberikan pujian terhadap langkah yang bersejarah dalam 2.000 tahun eksistensi gereja Katolik. Ke depannya, lima biarawati akan bergabung dengan lima pendeta sebagai perwakilan dalam pemungutan suara terkait ordo.

“Ini adalah “usaha memecahkan glass ceiling atau langit-langit kaca” yang signifikan, dan buah dari advokasi, aktivisme, dan kesaksian” dari kampanye kelompok perempuan Katolik yang mendesak untuk diberi hak suara, kata Kate McElwee dari Women’s Ordination Conference, organisasi yang mengadvokasi pentahbisan pastor perempuan.

Sejauh ini, hanya ada satu perempuan yang diketahui menjadi anggota badan ini pada Oktober itu, yaitu Suster Nathalie Becquart, seorang biarawati Perancis yang menjadi wakil sekretaris di kantor Sinode Uskup Vatikan.

Selain itu, Paus Fransiskus telah memutuskan untuk mengangkat 70 anggota sinode non-uskup dan meminta setengah dari mereka adalah perempuan. Mereka juga akan memiliki suara.

Pertemuan Uskup yang dijadwalkan pada 4-29 Oktober 2023 akan difokuskan pada topik membuat gereja lebih reflektif dan responsif terhadap orang-orang biasa, atau yang disebut konsep “sinodalitas”, sesuatu yang didorong Paus Fransiskus selama bertahun-tahun. [ss/jm]

BACA JUGA :  Unila Rayakan Dies Natalis ke-58 dengan Senam Bersama dan Lomba Tradisional