PBB: Afrika Barat Alami Krisis Kelaparan Terburuk dalam Satu Dekade

KRAKATOA.ID, AFRIKA BARAT (V0A) — Program Pangan Dunia (WFP) PBB pada Rabu (5/7) mengatakan bahwa jutaan orang yang kelaparan di Afrika Barat, tidak mendapat bantuan sementara badan tersebut kesulitan dengan dana yang terbatas untuk menanggapi krisis kelaparan terburuk di kawasan itu dalam satu dekade.

Hampir separuh dari 11,6 juta orang yang menjadi sasaran bantuan pangan selama musim paceklik Juni hingga Agustus, tidak menerima bantuan apa pun, kata badan tersebut dalam sebuah pernyataan. Ia memperingatkan bahwa ratusan ribu orang berisiko bergabung dengan kelompok bersenjata, menikah dini, atau terlibat dalam “survival sex” atau menjajakan seks dalam keputusasaan untuk bertahan hidup.

“Kami berada dalam situasi yang tragis. Selama musim paceklik tahun ini, jutaan keluarga akan kekurangan cadangan makanan untuk menopang mereka hingga panen berikutnya pada bulan September,” kata Margot Vandervelden, direktur regional interim WFP untuk Afrika Barat. “Kita harus segera mengambil tindakan untuk mencegah situasi ini menjadi bencana besar,” katanya.

Jauh sebelum banjir tahun lalu dan perang Rusia di Ukraina, Afrika Barat telah menghadapi krisis pangan terburuk dalam 10 tahun. Lebih dari 27 juta orang kelaparan, bukan hanya akibat konflik tetapi juga karena kekeringan dan dampak ekonomi pandemi COVID-19.

Di musim paceklik tahun ini – yang juga periode puncak kelaparan terjadi–, 47,2 juta orang terdampak oleh kerawanan pangan di Afrika Barat dan Tengah, kata WFP. Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan, katanya.

“Tingkat malnutrisi juga melonjak, dengan 16,5 juta anak Balita akan mengalami kekurangan gizi akut tahun ini – naik 83 persen dari rata-rata 2015-2022,” kata badan PBB tersebut.

Di negara-negara Sahel tengah, seperti Mali, Burkina Faso, dan Niger di mana jihadis semakin mematikan, badan-badan PBB memperkirakan bahwa jumlah orang yang melarikan diri dari kekerasan di sana hampir empat kali lipat dari 30.000 pada Januari menjadi 110.000 pada Juni.

BACA JUGA :  Universitas Lampung dan Brigif 4 Marinir/BS Kembangkan Ketahanan Pangan

“Kita membutuhkan pendekatan jalur ganda untuk menghentikan kelaparan di Sahel – kita harus mengatasi kelaparan akut melalui bantuan kemanusiaan sambil menangani penyebab struktural kerawanan pangan dengan meningkatkan investasi pada sistem pangan yang tangguh dan memperluas program perlindungan sosial pemerintah,” tambah Margot. [ss/ka]