Jejak “Om Bach”: Kepergian Seorang Guru Kepemimpinan dari Lampung

KRAKATOA.ID, LAMPUNG UTARA — Udara pagi di Kotabumi, Jumat itu, terasa berbeda. Langit tak sepenuhnya mendung, tapi cahaya matahari enggan menampakkan diri dengan terang. Di tengah keheningan yang dipenuhi lantunan doa dan isak tertahan, satu nama kembali disebut-sebut dengan penuh rasa hormat: Bachtiar Basri, atau seperti banyak orang memanggilnya, “Om Bach.”

Di usia 71 tahun, Bachtiar Basri menutup pengabdiannya di dunia ini. Ia menghembuskan napas terakhir di RSUD Abdul Moeloek, Bandar Lampung, Kamis (15/5/2025) sore. Sehari kemudian, jenazahnya dimakamkan secara kedinasan di Pemakaman Keluarga, Kotabumi, kampung halamannya.

Tak ada hingar-bingar, tak ada upacara megah. Tapi hadirnya ratusan pelayat — dari pejabat, tokoh masyarakat, hingga warga biasa — menjadi penanda betapa besar jejak yang ditinggalkan tokoh ini.

Di tengah barisan pelayat, berdiri seorang pria muda dengan wajah tenang namun mata sembab. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, memimpin langsung prosesi pemakaman sebagai inspektur upacara. Bagi Rahmat, ini bukan sekadar tugas kenegaraan. Ini adalah penghormatan terakhir kepada sosok yang membentuknya menjadi seperti sekarang.

“Beliau bukan hanya pemimpin, tapi pembentuk pemimpin,” ucap Rahmat. “Om Bach adalah paman, guru, sekaligus panutan saya dalam berpolitik.”

Warisan yang Tak Terlihat, Tapi Dirasakan

Bachtiar Basri bukan nama asing di kancah pemerintahan Lampung. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur Lampung, juga Bupati Tulangbawang Barat. Namun lebih dari sekadar jabatan, Bachtiar dikenal karena gaya kepemimpinannya yang tenang, bersahaja, dan membumi.

Tak banyak bicara di depan kamera, tetapi aktif mendengar di lapangan. Dalam banyak kesempatan, ia memilih berada di tengah masyarakat ketimbang panggung-panggung formal. Ia adalah teknokrat yang tahu kapan harus berpolitik, dan politisi yang tetap menjaga etika birokrasi.

BACA JUGA :  2 Hari Hilang, Nelayan Tewas Mengambang di Pantai Cipalawah Garut

“Beliau adalah orang yang menyambungkan dua dunia: dunia aturan dan dunia rasa,” kata seorang mantan kolega Bachtiar.

Tak heran jika di akhir hayatnya, tokoh-tokoh muda di Lampung menyebutnya sebagai arsitek kepemimpinan lokal. Bahkan pada Pilkada 2024, meski tidak maju, ia tetap memainkan peran strategis sebagai Ketua Tim Pemenangan pasangan Rahmat–Jihan.

Sosok yang Selalu Ada

Warga Kotabumi mengenangnya bukan karena jabatan, melainkan karena kehadirannya. Dalam banyak cerita, nama Bachtiar muncul saat banjir melanda, ketika sawah gagal panen, atau saat ada warga yang kesulitan biaya berobat.

“Om Bach itu selalu hadir, baik saat menjabat maupun sudah pensiun. Rasanya seperti orang tua sendiri,” ujar Supinah (54), warga yang datang bersama suaminya untuk melayat.

Salah satu momen yang paling dikenang warga adalah ketika Bachtiar memilih menginap di rumah penduduk selama masa kampanye, bukan di hotel. Ia ingin merasakan langsung bagaimana hidup rakyatnya.

Lebih dari Jabatan, Nilai yang Abadi

Bachtiar telah pergi, tapi banyak yang percaya, warisan terbesarnya bukan terletak pada bangunan yang pernah ia resmikan atau kebijakan yang ia tetapkan. Warisan itu hidup dalam nilai-nilai yang ia tinggalkan: integritas, kesederhanaan, dan ketulusan melayani.

Gubernur Rahmat menyebut, Pemprov akan mendokumentasikan perjalanan Bachtiar sebagai bagian dari sejarah pembangunan Lampung. Tak hanya sebagai bentuk penghargaan, tapi sebagai bahan pembelajaran bagi generasi berikutnya.

“Kini tugas kita adalah melanjutkan semangat pengabdiannya,” ucap Gubernur menutup upacara, suaranya berat namun penuh tekad.

Saat liang lahat ditutup tanah merah, doa-doa terus bergema. Sebuah generasi kehilangan panutan. Tapi dari kepergian ini, Lampung sekali lagi diingatkan: bahwa pemimpin sejati bukan hanya dikenang karena kekuasaannya, tapi karena cara ia membuat rakyat merasa didengarkan, dimanusiakan, dan diperjuangkan.

BACA JUGA :  Kolaborasi Data dan Kebijakan, Kunci Sukses Bandar Lampung Tekan Angka Kemiskinan

Selamat jalan, Om Bach. Jejakmu abadi di hati banyak orang.***