KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Gelaran Lampung Student Olympic (LSO) 2025 bukan hanya sekadar panggung adu prestasi pelajar. Ajang tahunan terbesar di Provinsi Lampung ini juga menandai babak baru dalam pendekatan pendidikan karakter di era digital, dengan menghadirkan cabang E-Sport seperti Mobile Legends dan Free Fire sebagai bagian dari kompetisi resmi.
Uniknya, pembukaan LSO yang digelar di GOR Universitas Teknokrat Indonesia pada Rabu (21/5/2025), turut diwarnai momen tak biasa: Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, ikut bermain dalam pertandingan persahabatan Mobile Legends bersama para pelajar. Dalam permainan yang penuh antusiasme itu, Gubernur memilih hero Gatotkaca — simbol pahlawan lokal yang kuat dan berani — dan menyelesaikan pertandingan diiringi sorak-sorai peserta.
“Ini bukan soal game semata. Ini tentang bagaimana kita memahami dunia anak muda hari ini dan menjadikan teknologi sebagai alat membentuk karakter, bukan sekadar hiburan,” ujar Gubernur Mirza usai pertandingan.
E-Sport dan Transformasi Nilai-nilai Pendidikan
Masuknya E-Sport dalam LSO 2025 mencerminkan perubahan paradigma pendidikan. Kompetisi ini tak hanya mengasah keterampilan teknis dan strategi, tetapi juga nilai-nilai penting seperti kerjasama tim, sportivitas, pengendalian emosi, serta keuletan dalam menghadapi tekanan.
Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, E-Sport menjadi cara efektif menjembatani dunia pendidikan dengan realitas kehidupan pelajar masa kini.
“Pendidikan karakter tak lagi hanya bisa disampaikan lewat buku teks. Lewat kompetisi seperti ini, kita bisa menyisipkan nilai disiplin, tanggung jawab, dan integritas, dalam bentuk yang lebih relevan dengan dunia mereka,” kata Thomas.
Menyatukan Budaya Lokal dan Teknologi
Dengan durasi penyelenggaraan yang panjang, dari 21 Mei hingga 19 Oktober 2025, LSO mempertemukan ribuan pelajar dari seluruh Lampung dalam 13 cabang olahraga dan seni. Uniknya, meskipun E-Sport identik dengan modernitas, penyelenggara tetap menekankan akar budaya lokal — seperti penggunaan tokoh pewayangan dalam game, hingga kolaborasi dengan penampilan seni tradisional di sela kompetisi.
Bagi peserta, seperti Dafa (16), siswa SMA dari Metro, kehadiran E-Sport menjadi penyemangat baru. “Senang banget, biasanya main cuma buat hiburan. Sekarang bisa jadi prestasi dan bisa ketemu teman-teman dari daerah lain. Apalagi tadi bisa satu tim sama Pak Gubernur!”
LSO: Arena Penguatan Jati Diri Generasi Muda
Lampung Student Olympic 2025 menjadi lebih dari sekadar ajang lomba. Ia telah menjelma menjadi laboratorium sosial bagi pembinaan karakter generasi muda di era digital.
Dengan menggabungkan teknologi, seni, dan budaya, LSO menciptakan ruang aman dan positif untuk pelajar mengeksplorasi potensi diri mereka, sekaligus memperkuat identitas sebagai bagian dari masyarakat Lampung yang adaptif dan berdaya saing.***






