KRAKATOA.ID, WAY KANAN — Di kaki perbukitan Baradatu, Way Kanan, di antara hijaunya sawah dan aliran Sungai Way Besai yang dulu menjadi pemisah nasib, kini terbentang sebuah jembatan baja sederhana namun penuh makna. Jembatan itu menggantung tenang di atas arus Sungai Way Besai, menghubungkan dua dusun yang selama ini hanya sering merapat pilu saat hujan deras —Dusun Mojosari dan Dusun Cinta Baik, Kampung Gunung Katun.
Hari itu, Rabu (13/8/2025) langit cerah mengiringi langkah para tamu yang datang. Bukan untuk sekadar seremoni, tapi menyaksikan lahirnya sebuah penghubung harapan: Jembatan Gantung Baja sepanjang 60 meter, lebar 1,2 meter, yang dibangun oleh Persatuan Istri Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (PIISEI) bersama Bank Mandiri dan Yayasan Relawan Kampung Indonesia.
Sebuah jembatan yang bukan hanya menyambungkan tanah ke tanah, tapi juga hati ke hati, dan masa lalu ke masa depan.

Sebelum jembatan ini menggantung indah, warga Mojosari dan Cinta Baik hidup dalam ketergantungan pada jembatan kayu tua yang dibangun bertahun lalu oleh program TMMD. Setiap musim hujan datang, sungai naik, arus mengamuk, dan jembatan kayu itu gemetar menahan waktu. Tak jarang warga harus memutar jalan berjam-jam atau bahkan menunggu banjir surut.
“Kalau hujan, jembatan lama kebanjiran, kadang nyaris putus… tapi alhamdulillah, sebelum benar-benar putus, datanglah jembatan ini,” kata Ernan, warga Dusun Cinta Baik, dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh syukur.
Kini, dengan jembatan baja yang berdiri kokoh, segalanya berubah. Anak-anak tak lagi harus menghindari sungai deras untuk ke sekolah. Hasil tani bisa diangkut tanpa cemas. Dan akses antar kampung kini hanya sejauh satu langkah kaki.
Dalam peresmian yang berlangsung Rabu siang (13/8), Arma Anggito Abimanyu, mewakili Ketua Umum PIISEI Wulandari P. Perry Warjiyo, menyerahkan jembatan ini secara simbolis kepada Kepala Kampung Gunung Katun Juwai Ferawati, disaksikan langsung oleh Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, dan Ketua PIISEI Cabang Lampung, Prof. Dr. Marselina Djayasinga.
“Kami mendapat kabar dari Ketua Yayasan Relawan Kampung Indonesia bahwa daerah ini sangat membutuhkan jembatan. Kami prihatin, dan langsung setuju membangun jembatan yang kini berdiri di hadapan kita ini,” ungkap Arma.
Dalam nada tenang namun penuh ketulusan, ia menjelaskan bahwa proyek ini adalah jembatan ke-10 yang dibangun PIISEI bersama mitra di seluruh pelosok Indonesia. Sebelumnya, jembatan serupa dibangun di Lampung Selatan tahun 2017.
“Kami berharap jembatan ini dapat digunakan dan dirawat sebaik-baiknya. Selain menjadi akses lintas, ia juga adalah penggerak ekonomi, pengantar anak-anak ke sekolah, dan penjaga masa depan,” sambungnya.

Jembatan gantung ini bukan hanya untuk warga Cinta Baik dan Mojosari. Ia adalah jalan pintas penting bagi warga Kampung Sukarame, Kecamatan Gunung Labuhan yang ingin ke Baradatu, atau menuju pusat kabupaten. Sebuah simpul kecil di tengah peta, namun besar artinya bagi ribuan jiwa yang bergantung padanya.
“Warganya banyak, bukan cuma 40 rumah di Dusun Mojosari. Ini jembatan vital. Dari Sukarame bisa lewat sini ke kabupaten. Kalau enggak ada jembatan ini, ya, memutar jauh,” ujar Ernan dengan nada bangga.
Meskipun begitu, masih ada kekhawatiran kecil. Di ujung jembatan, permukaan tanah sedikit curam dan rawan membuat anak-anak terjatuh. Warga telah mengusulkan perbaikan, dan Kepala Kampung siap menindaklanjutinya.
Bupati Ayu Asalasiyah dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi seperti ini menjadi penyemangat bagi pemerintah daerah untuk terus bergerak. Ia menyebut kehadiran PIISEI bukan hanya sebagai mitra sosial, tapi juga sebagai penggerak harapan.
“Semoga momentum ini terus mempererat hubungan pusat dan daerah, dan pembangunan berjalan lebih cepat dan merata,” ucap dia.
Tak hanya jembatan, PIISEI juga membangun ulang lima ruang kelas SDN 03 Gunung Katun yang berada di seberang jembatan ini. Kini, anak-anak sekolah tidak hanya memiliki akses jalan yang aman, tapi juga ruang belajar yang layak.
Jembatan itu kini berdiri tenang. Baja-baja itu bukan hanya logam dingin, tapi telah berubah menjadi syair diam tentang kasih sayang, tentang gotong royong, dan tentang impian yang pelan-pelan menjadi nyata. Ia membelah sungai bukan untuk memisah, tapi justru untuk menyatukan kembali apa yang sempat terputus: harapan dan masa depan.
Kini, setiap langkah kaki di atas jembatan itu adalah langkah menuju kehidupan yang lebih baik. Setiap anak yang menyeberanginya membawa serta cita-cita yang lebih tinggi. Dan setiap petani yang melintasinya membawa hasil bumi yang lebih mudah dijual.
Karena di negeri ini, pembangunan yang berarti adalah pembangunan yang bisa dirasakan hingga ke ujung kampung. Dan jembatan ini—adalah buktinya.***






