Dulu Cuma Mimpi, Kini Nyata! Perjalanan Nano ke Puncak Leher Kambing dan Puncak Ratai

KRAKATOA.ID, PESAWARAN -— Dwi Meinarno (33), warga Dusun Sinar Tiga, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Way Ratai, akhirnya berhasil mewujudkan cita-cita masa kecilnya: mendaki Pegunungan Pesawaran hingga mencapai dua puncaknya yang terkenal, Leher Kambing (1.616 mdpl) dan Puncak Ratai atau Puncak Tugu (1.682 mdpl).

Pria yang akrab disapa Nano ini memulai pendakiannya pada Sabtu (11/10), bersama sang kakek yang legendaris di kawasan tersebut, Mbah Basrowi, yang dikenal masyarakat sebagai juru kunci Gunung Sukma Ilang. Mereka juga didampingi para cucu Mbah Basrowi lainnya: Lita, Beni, dan Ferdi.

(Dari kiri ke kanan) Lita, Nano, Ferdi, Beni dan Mbah Basrowi.

Rombongan berangkat dari rumah Mbah Basrowi di Dusun Sinar Tiga pukul 10.30 WIB. Setelah menempuh jalur ekstrem dan berkabut, Nano dan rombongan tiba di Puncak Leher Kambing sekitar pukul 15.49 WIB.

“Ya alhamdulillah, pengalaman pertama sampai Leher Kambing, nanti lanjut ke Tugu,” ujar Nano sesaat setelah tiba di puncak pertama.

Pendakian ini menjadi pengalaman emosional bagi Nano. Lahir dan besar di Way Ratai, ia baru bisa mewujudkan impiannya di usia 33 tahun, setelah berkeluarga dan memiliki dua anak.

“Jalurnya lumayan ekstrem sih, Om. Kayak mau ke Leher Kambing ini, kanan-kiri jurang. Cuaca juga mendung dan berkabut,” tambahnya.

Namun semua tantangan itu terbayar lunas oleh suasana damai dan tenang di puncak.

Tak berhenti di sana, Nano dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Puncak Tugu (Puncak Ratai) dan tiba pada pukul 17.45 WIB. Di sana, mereka sempat berziarah ke makam leluhur yang ada di puncak, serta mengabadikan momen bersama Mbah Basrowi.

Nano secara khusus meminta secara khusus kepada sang Kakek Mbah Basrowi untuk mengabadikan momen bersejarah saat berada di Puncak Tugu.

Perjalanan turun tak kalah menantang. Mereka memilih jalur baru yang tembus ke Bukit Lantana, bukan jalur yang mereka lalui saat naik.

BACA JUGA :  SMA Xaverius Bandar Lampung Kunjungi Bank Indonesia Provinsi Lampung

“Turun dari Puncak Ratai ke Bukit Lantana sekitar 3,5 jam. Sangat menguras tenaga. Turunannya enggak habis-habis. Udah lemas dengkul ini, rasanya mau patah. Tapi… salam lestari!” kata Nano, dengan nada lega dan bangga, saat tiba di Bukit Lantana pukul 20.30 WIB.

Pendakian ini menjadi bukti semangat dan kecintaan warga lokal terhadap alam dan warisan budaya di sekitar Pegunungan Pesawaran. Bagi Nano, ini bukan sekadar mendaki, melainkan ziarah, napak tilas, dan mewujudkan mimpi yang tertunda.***