BANDAR LAMPUNG – Universitas Lampung (Unila) mendorong penganggaran berbasis risiko atau risk-based budgeting untuk memperkuat tata kelola kampus. Melalui strategi ini, universitas ingin meningkatkan efektivitas anggaran, mengantisipasi hambatan, dan mencapai target kinerja.
Dalam proses perencanaan, setiap unit kerja perlu menghitung risiko sejak awal. Karena itu, Unila mengajak seluruh unit untuk mempertimbangkan potensi masalah sebelum menjalankan program. Dengan demikian, perencanaan tidak hanya berfokus pada kegiatan dan biaya, tetapi juga memperhitungkan langkah antisipasi.
Satuan Pengawasan Internal (SPI) Unila mengangkat strategi tersebut dalam Bimbingan Teknis Manajemen Risiko, Jumat (23/10/2026). Kegiatan bertema “Implementasi Risk-Based Budgeting sebagai Penguatan Tata Kelola Perguruan Tinggi yang Berdampak” itu berlangsung di Ruang Rapat Lantai IV Gedung Rektorat Unila.
Unila Integrasikan Risiko dalam Perencanaan Anggaran
Melalui bimtek ini, Unila mendorong unit kerja mengintegrasikan manajemen risiko ke dalam perencanaan strategis. Selain itu, universitas menghubungkan pendekatan tersebut dengan penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Badan Layanan Umum (BLU), pengelolaan risk register, serta pencapaian kinerja.
Setiap unit kerja perlu mengenali potensi hambatan sebelum memulai program. Dengan cara ini, pimpinan dapat menentukan prioritas sekaligus menyusun langkah mitigasi sejak awal.
Pendekatan tersebut juga menghubungkan alokasi anggaran dengan tujuan strategis universitas. Oleh sebab itu, setiap program perlu memiliki sasaran yang jelas dan mendukung target kinerja institusi.
Wakil Rektor Unila Tekankan Pentingnya Mitigasi Risiko
Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Unila, Dr. Habibullah Jimat, S.E., M.Si., menegaskan bahwa manajemen risiko memegang peran penting dalam tata kelola perguruan tinggi. Menurutnya, setiap keputusan anggaran harus mempertimbangkan kemungkinan risiko beserta dampaknya.
“Kalau kita menyusun anggaran, risikonya perlu dihitung sejak awal. Kita harus melihat apa yang mungkin terjadi, seberapa besar dampaknya, dan bagaimana mengantisipasinya. Jangan sampai persoalan yang sebenarnya bisa diperkirakan justru menghambat pelaksanaan program,” ujarnya.
Selain itu, Habibullah mengajak pimpinan dan tim manajemen risiko di setiap unit kerja untuk terlibat aktif. Keterlibatan tersebut membantu seluruh unsur kampus memahami peran masing-masing dalam mengidentifikasi dan mengendalikan risiko.
“Manajemen risiko ini perlu menjadi perhatian bersama, bukan hanya tugas SPI atau tim tertentu. Pimpinan dan tim manajemen risiko di setiap unit harus terlibat serius, sehingga pengetahuan yang diperoleh dalam bimbingan teknis ini dapat diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari dan memberikan manfaat bagi Unila,” tambahnya.
Dua Pakar Bahas Strategi Risk-Based Budgeting
Untuk memperkuat pemahaman peserta, SPI Unila menghadirkan dua narasumber. Mereka ialah Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec., Rektor Perbanas Institute sekaligus anggota Dewan Pengawas Unila, serta Alan Yazid, B. Bus., M.B.A., C.R.M., Ketua Umum Indonesian Risk Professional Association (IRPA).
Dalam pemaparannya, Prof. Hermanto membahas kebijakan dan strategi penganggaran berbasis risiko di perguruan tinggi. Ia menyoroti perlunya perubahan cara pandang dalam menyusun program dan mengalokasikan sumber daya.
Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menyusun daftar kegiatan dan menghitung biaya. Sebaliknya, setiap unit perlu mempertimbangkan risiko serta target kinerja saat merancang program.
Dengan pendekatan tersebut, universitas dapat menghubungkan tujuan strategis, identifikasi risiko, prioritas program, dan keputusan anggaran. Hasilnya, pimpinan dapat mengarahkan sumber daya pada program yang mendukung sasaran institusi.
Sementara itu, Alan Yazid mengulas penerapan risk-based budgeting dari sisi teknis. Ia menekankan pentingnya menerjemahkan kebijakan ke dalam proses perencanaan dan penganggaran secara konsisten.
Lebih lanjut, ia menyoroti tiga langkah penting, yaitu mengidentifikasi risiko, menentukan prioritas, dan menyiapkan mitigasi. Melalui langkah tersebut, unit kerja dapat menjadikan manajemen risiko sebagai dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar urusan administrasi.
Unila Perkuat Kapasitas Pimpinan dan Tim Manajemen Risiko
Bimtek ini melibatkan pimpinan fakultas, Direktur Pascasarjana, kepala biro, ketua lembaga, kepala unit, wakil dekan, serta tim manajemen risiko dari setiap unit kerja. SPI Unila menginisiasi kegiatan ini untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan risiko di lingkungan kampus.
Melalui pelatihan tersebut, Unila mendorong peserta meningkatkan kemampuan dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi risiko. Dengan kemampuan itu, setiap unit dapat mengantisipasi kendala yang berpotensi menghambat target universitas.
Di sisi lain, penganggaran berbasis risiko membantu universitas mengarahkan penggunaan anggaran secara lebih terukur. Pendekatan ini juga mendukung transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab dalam pengelolaan keuangan.
Pada akhirnya, Unila ingin memastikan setiap keputusan anggaran mendukung prioritas institusi. Karena itu, integrasi manajemen risiko menjadi langkah penting untuk memperkuat tata kelola dan mendorong pencapaian kinerja perguruan tinggi.






