Surat Gembala Prapaska 2024 Ketentuan Puasa dan Pantang Keuskupan Tanjungkarang

Saudara-saudari yang terkasih;
Anak-anak, putra-putri remaja, kaum muda, para ibu-bapak, para religius dan para imam yang dikasihi Tuhan.

Pada tanggal 14 Februari 2024 ini adalah hari Rabu Abu dan merupakan awal masa Prapaskah kita. Kembali kita akan menerima abu yang mengingatkan kita untuk bertobat dan menyadari keterbatasan kita sebagai manusia lemah yang membutuhkan Tuhan. Kita diberi kesempatan melihat siapa diri kita di hadapan Allah. Tuhanlah Allah dan kita milik-Nya, yang bukan apa-apa, yang tiada arti bagi-Nya, namun yang tetap dan selalu dikasihi-Nya. Abu menjadi simbol hancurnya hati dan diri kita setelah kita menyadari betapa dosa telah merusak diri kita sedemikian rupa. Dan pada saat kita boleh bertobat kita menemukan kembali eksistensi dan makna keberadaan kita, yang selalu butuh Sang Pencipta kita sendiri. Dengan sadar bahwa manusia sama-sama hanya debu dan abu kita bisa meninggalkan ego kita, keangkuhan diri kita, karena tak ada yang perlu disombongkan lagi satu dengan yang lain.

Masa Prapaskah sendiri kita sebut dengan masa Aksi Puasa Pembangunan. Inspirasi dasar Aksi Puasa Pembangunan selalu bersumber pada pemurnian makna dan jiwa dari puasa yang sesuai dengan kehendak Allah; seperti yang diserukan oleh nabi Yesaya, bahwa berpuasa yang dikehendaki Allah ialah supaya belenggu-belenggu kelaliman dibuka, dan tali-tali kuk dilepas; orang yang teraniaya dimerdekakan; supaya kita memecah-mecah roti bagi orang yang lapar dan membawa ke rumah orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila kita melihat orang telanjang, supaya kita beri dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudara kita sendiri. Karena itu hasil yang paling dinantikan dari Gerakan Aksi Puasa Pembangunan adalah gerakan aktualisasi iman kristiani dalam bentuk pembaharuan diri yang semakin sesuai dengan jati dirinya yang secitra dengan Allah, yang selalu peduli pada sesama manusianya yang butuh pertolongan. Puasa katolik justru bersifat gerakan keluar dari diri sendiri dan tidak sibuk mengurus diri sendiri.

BACA JUGA :  Bulog Lampung Gelar Penyaluran Perdana Beras Cadangan Pangan Pemerintah

Kasih Allah yang sudah kita terima harus mendorong umat beriman tidak acuh tak acuh terhadap masalah-masalah sesama. Jangan sampai tumbuh globalisasi ketidak pedulian, yang oleh Paus Fransiskus dilihat sebagai masalah jaman ini yang sangat memprihatinkan. Kepada Gereja Paus mengajak “jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita” (1 Kor 12:26). Dengan demikian paroki-paroki dan jemaat dipanggil untuk pergi keluar dari dirinya sendiri, dan terlibat pada pergulatan hidup masyarakat dengan semangat misioner. Masa puasa menjadi kesempatan terbaik untuk mewujudkannya.

Mengacu pada Arah Dasar Tahun ke VII keuskupan kita : « Tahun Pendidikan Cinta Budaya dan Kaderisasi Politik Cinta Tanah Air », kita diajak merenungkan secara khusus Bahan APP dengan tema : Kita Katolik, Kita Indonesia : Peran Serta Umat Katolik dalam Mewujudkan Demokrasi yang Bermartabat. Diharapkan melalui bahan ini keluarga-keluarga beriman membangun sikap berani mengatakan Kita Katolik, Kita Indonesia. Inilah sebuah spirit sekaligus spiritualitas yang mendalam yang menegaskan bahwa dengan fungsi sebagai garam dan terang dunia, orang Katolik bisa melebur dan bersatu serta membawa nilai-nilai kebaikan di mana-mana.

Dan terutama sekali pada kesempatan pesta demokrasi yang bertepatan dengan hari Rabu Abu, hari pertobatan kita ini, kita ditantang untuk membawa nilai-nilai kebaikan berupa kejujuran, kebenaran, keadilan dan kebebasan dalam upaya kita memilih pemimpin yang terbaik bagi negara kita. Jika kita yang memilih saja dituntut untuk menegakkan nilai-nilai yang bermartabat mulia itu, apalagi mereka yang akan menjadi pemimpin kita. Adalah akal sehat dan iman yang bisa membimbing kita pada kebenaran sejati, maka mari disamping kita membuat pilihan secara rasional tentang calon terbaik pemimpin kita, kita juga menyerahkannya dalam doa kepada penyelenggaraan ilahi. Dengan itulah kita bisa menyelamatkan bangsa dan negara kita dari hal-hal buruk di kemudian hari.

BACA JUGA :  Dinas Ketahanan Pangan TPH Provinsi Lampung Lakukan Rapat Koordinasi Stabiliasasi Pasokan dan Harga Pangan

Saudara-saudari terkasih,

Berikut ini saya sampaikan ketentuan pantang dan puasa kita. Ketentuan puasa dalam Gereja Katolik tercantum dalam Hukum Gereja Kan 1244-1253 ( juga Statuta Regio Sumatera Ps 65 dan 66) yang adalah sebagai berikut:
1. Puasa dalam arti yuridis adalah: boleh makan kenyang hanya sekali dalam sehari; sedangkan pantang berarti: tidak mengkonsumsi makanan atau minuman atau melakukan hobi / kesenangan tertentu, atau hal-hal lain, yang hendaknya dipilih sendiri oleh si pelaku.
2. Setiap hari Jumat sepanjang tahun adalah hari pantang (bdk. pasal 69 ayat 2), kecuali jika hari itu kebetulan jatuh hari yang terhitung sebagai hari raya.
3. Dalam masa pra-Paskah, hari puasa dan pantang adalah: hari Rabu Abu dan hari Jumat Agung; sedang hari pantang adalah hari Rabu dan hari Jumat sepanjang masa pra-Paskah itu.
4. Yang wajib berpuasa adalah semua orang Katolik yang sehat dan berumur antara 18 s/d 60 tahun; sedangkan yang wajib pantang adalah semua orang Katolik yang sehat dan berumur antara 14 s/d 60.

Peraturan puasa dan pantang tersebut berada di bawah judul besar Waktu Suci atau Waktu Rahmat yang pengertiannya adalah sebagai berikut:
1. Yang dimaksudkan dengan waktu suci adalah pengudusan hari Minggu dan hari raya wajib serta hari-hari yang dikhususkan untuk pelaksanaan tobat, mati raga, dan usaha kesalehan demi peningkatan hidup rohani.
2. Sesuai dengan tradisi Gereja, waktu tobat meliputi hari Jumat sepanjang tahun dan masa pra-Paskah.
Tidak ada larangan untuk melangsungkan perkawinan, pembaharuan kaul, atau tahbisan pada masa pra-Paskah, namun hendaknya dihindari pesta meriah yang tidak sesuai dengan semangat mati raga dan pertobatan.

BACA JUGA :  Festival Wisata Hutan Lampung Tahun 2022 "Eksplorasi Pesona Hutan untuk Kelestarian Manfaat Kawasan Hutan"

Saudara-saudari terkasih
Marilah kita isi masa pertobatan kita dengan berani mengendalikan hawa nafsu, menjauhkan diri dari merusak dan menghancurkan nama baik atau milik sesama. Bersikap ugahari dan sederhana, dan tekun dalam beramal kasih kepada sesama yang membutuhkan terutama melalui derma APP kita. Kita sebagai manusia sudah mendapatkan banyak dari Allah, maka beramal menjadi ungkapan terima kasih kepada Allah yang ingin memberi perhatian kepada saudara-saudari kita yang miskin dan menderita. Putra-putri kita sejak kecil sudah seharusnya dilatih beramal kasih. Sekolah-sekolah kita dan keluarga-keluarga harus membantu anak-anak untuk belajar mempunyai hati yang pemurah bagi sesama. Semua diwajibkan beramal, juga kita yang masih miskin. Kita yang miskinpun dapat memberi dari kekurangan kita seperti janda miskin yang dipuji oleh Yesus.

Selamat mengikuti Pesta Demokrasi, selamat menjalani masa puasa dan pantang kita.

Salam, doa dan berkat,

Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo
Uskup Tanjungkarang