Dari Doa Seribu Lilin ke Aksi Hijau, OMK Wilayah Semenanjung Selatan Ubah Iman Jadi Gerakan Nyata

KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN — Malam di Gereja Katolik Santo Andreas Paroki Marga Agung terasa berbeda pada Sabtu (25/4/2026). Cahaya lilin menyala pelan di tangan ratusan Orang Muda Katolik (OMK). Dalam hening, mereka berdiri bersama, membiarkan doa menjadi bahasa yang menyatukan.

Namun, hari itu tidak dimulai dengan keheningan. Sejak pagi, halaman gereja sudah berubah menjadi ruang perjumpaan besar. OMK dari Paroki Sidomulyo, Bakhauheni, Jatibaru, Marga Agung, hingga Sribawono datang membawa semangat yang sama: merayakan iman dan menghidupi panggilan sebagai orang muda Gereja.

Ekaristi Kaum Muda, Titik Awal Perjalanan

Rangkaian kegiatan dimulai dengan Ekaristi Kaum Muda (EKM). R.D. Yohanes Agus Susanto memimpin misa bersama R.D. Apolonius Basuki, R.D. Tangkas Dame Simatupang, dan R.D. Marys Vincentius Namapadji Kopong Daten.

Dalam misa itu, panitia menyerahkan Salib Tahun Yubileum Daerah (TYD) 2026 dari Paroki Sribawono. Simbol itu menjadi tanda perjalanan iman yang terus bergerak di kalangan orang muda.

Dari Refleksi ke Kesadaran Baru

Setelah misa, suasana berubah lebih cair. Tawa dan percakapan mengisi setiap sudut kegiatan. Namun, malam hari membawa suasana berbeda.

R.D. Tangkas Dame Simatupang mengajak peserta masuk ke dalam refleksi yang lebih dalam. Ia berbicara tentang relasi manusia dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan. Ia menantang OMK untuk tidak berhenti pada kegiatan rohani, tetapi juga membangun kesadaran hidup yang seimbang.

Pesan itu tidak berhenti di ruang refleksi. Ia mengalir ke percakapan-percakapan kecil antar peserta sepanjang malam.

Doa Seribu Lilin: Iman yang Menyala dalam Hening

Momen paling kuat terjadi saat Doa Seribu Lilin dimulai. R.D. Yohanes Agus Susanto mengajak peserta berdiri dalam keheningan.

BACA JUGA :  Rutan Kotabumi Gagalkan Penyelundupan Sabu-Sabu Yang Disembuyikam Lewat Makanan

Satu per satu lilin menyala, membentuk lautan cahaya kecil di tengah gelap malam. Tidak ada sorak, tidak ada musik keras—hanya doa yang pelan namun dalam.

Dalam suasana itu, banyak peserta memilih diam. Mereka membiarkan momen itu berbicara tanpa kata.

Dari Ibadah ke Aksi: OMK Turun ke Desa

Keesokan harinya, Minggu (26/4/2026), suasana berubah lagi. Setelah Ekaristi bersama umat, OMK tidak langsung pulang.

Sebaliknya, mereka turun ke jalan, ke rumah ibadah, dan ke kantor desa. Mereka membersihkan lingkungan, menyapu halaman gereja, dan merapikan fasilitas umum. Selain itu, mereka juga menanam pohon buah di pekarangan warga.

Gerakan kecil itu mengubah tema kegiatan menjadi tindakan nyata: merawat kehidupan, bukan hanya membicarakannya.

Ketua pelaksana, Simon Martinus, menyebut kegiatan ini sebagai jembatan. “Kami ingin OMK tidak hanya hadir di gereja, tetapi juga hadir di tengah masyarakat,” ujarnya.

Penutup yang Penuh Warna

Menjelang akhir kegiatan, suasana kembali meledak dalam keceriaan. Colourfun dan sayonara menjadi ruang terakhir kebersamaan. Meski matahari terasa terik, peserta tetap tertawa, berlari, dan saling melempar warna.

Salah satu peserta, Didi, mengaku merasakan hal berbeda. “Saya datang untuk acara, tapi pulang dengan keluarga baru,” katanya.

Iman yang Bergerak

Kegiatan OMK Paroki Marga Agung tahun ini meninggalkan satu pesan kuat: iman tidak berhenti di altar. Ia bergerak ke jalan, ke desa, dan ke lingkungan sekitar.

Dengan semangat itu, OMK dari Semenanjung Selatan pulang membawa lebih dari kenangan. Mereka membawa cara pandang baru tentang bagaimana iman bekerja dalam kehidupan sehari-hari.***

Kontributor: Friska Nanda (OMK Paroki Marga Agung)