Budaya Jadi Perekat, Pelantikan Kerabat Lampung Tunjukkan Harmoni dalam Keberagaman
KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Lebih dari sekadar pelantikan organisasi, momen pengukuhan pengurus Kerukunan Masyarakat Batak (Kerabat) Lampung periode 2025–2030 yang digelar di Gedung Bagas Raya, Selasa (13/5/2025), menjelma menjadi panggung harmoni lintas budaya yang menegaskan satu pesan penting: budaya adalah jembatan persatuan, bukan batas perbedaan.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa keragaman budaya di Lampung merupakan kekayaan yang harus terus dirawat. Ia mengapresiasi peran komunitas-komunitas kultural seperti Kerabat dalam menciptakan ruang kebersamaan dan dialog sosial antaretnis.
“Lampung adalah miniatur Indonesia, di mana berbagai suku hidup rukun berdampingan. Pelantikan ini bukan hanya seremoni, tapi wujud nyata dari semangat hidup bersama dalam keberagaman,” ujarnya.
Pelantikan ini turut dirangkaikan dengan pagelaran seni dan budaya Batak, yang memperlihatkan kuatnya tradisi sekaligus semangat terbuka terhadap lintas budaya. Acara ini menjadi ruang edukasi kultural, di mana musik, tarian, dan filosofi adat Batak ditampilkan untuk mempererat hubungan antarwarga Lampung dari berbagai latar belakang.
Ketua Umum Kerabat Lampung, Donald Harris Sihotang, yang kembali memimpin untuk periode kedua, menegaskan bahwa organisasi ini dibentuk sebagai “rumah bersama” bagi warga Batak dari berbagai marga, profesi, dan generasi—namun sekaligus menjadi jembatan harmoni dengan seluruh masyarakat Lampung.
Ia menekankan pentingnya nilai-nilai Dalihan Na Tolu, sistem sosial masyarakat Batak, sebagai prinsip hidup bermasyarakat yang menjunjung tinggi penghormatan, kasih sayang, dan solidaritas.
“Dalihan Na Tolu mengajarkan kami untuk hidup menghargai satu sama lain. Inilah nilai yang ingin kami bawa ke ruang publik, agar Lampung tetap menjadi daerah yang sejuk dan inklusif,” jelasnya.
Dalam sambutannya, Donald juga menyampaikan gagasan agar ke depan diadakan Festival Budaya Nusantara yang mempertemukan seluruh etnis dan kebudayaan yang ada di Provinsi Lampung dalam satu panggung silaturahmi. Gagasan ini disambut baik oleh Pemerintah Provinsi karena dinilai sejalan dengan visi menjaga harmoni sosial dan memperkuat identitas daerah sebagai rumah bersama seluruh suku bangsa.
“Budaya bukan sekadar warisan, tapi juga solusi. Lewat seni dan adat, kita bisa membangun kepercayaan, membangun kedekatan antarkelompok, dan menjaga persatuan di tengah zaman yang penuh tantangan,” kata Donald.
Pelantikan pengurus Kerabat Lampung ini menjadi momentum strategis untuk menegaskan kembali bahwa keberagaman bukan sumber perpecahan, melainkan kekuatan kolektif yang jika dirawat bersama, mampu mendorong pembangunan daerah secara inklusif.
“Kalau budaya itu seperti musik, kita tak perlu menyanyikan nada yang sama, yang penting tetap dalam satu irama. Itulah indahnya Indonesia, dan itulah Lampung,” pungkas Jihan.***






