KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG — SMA Xaverius Bandar Lampung kembali menjalankan kegiatan wajib bagi kelas XI, yaitu Pertunjukan Seni. Pertunjukan seni ini dilaksanakan di Gedung Serba Guna Taman Budaya Lampung dari tanggal 19 sampai dengan 27 Januari 2026. Pertunjukan seni ini terdiri dari short movie, drama pendek, drama monolog, musik band, tari kreasi, flash mob, dan lain-lain. Hari pertama pertunjukan seni ini diawali oleh kelas XI-6 yang memilih judul “The Devil Within”.
Judul The Devil Within secara umum dipilih oleh kelas XI-6 karena menggambarkan bahwa sumber kejahatan dalam cerita ini bukan hanya iblis sebagai makhluk luar, melainkan dosa dan luka batin yang tumbuh di dalam diri setiap karakter. Amarah, iri hati, kemalasan, dan nafsu yang mereka pendam sejak masa SMA menjelma hukuman ketika tidak pernah diakui atau disesali. Tokoh Leo menjadi bukti bahwa luka yang dibiarkan dapat melahirkan kegelapan baru. Ia bukan sekadar korban, tetapi juga manusia yang membiarkan “iblis dalam dirinya” mengambil alih. Judul ini menegaskan bahwa hukuman sejati berasal dari dosa yang hidup di dalam diri manusia sendiri.
Secara singkat, sinopsis The Devil Within bercerita tentang lima sahabat yang dipaksa menghadapi dosa dan luka masa lalu mereka sendiri. Persahabatan yang dulu dibangun di atas tawa ternyata menyimpan perundungan, pengkhianatan, dan ketidakpedulian yang berujung pada penderitaan seseorang. Melalui sosok Leo dan kemunculan iblis sebagai simbol, cerita ini menyoroti bahwa kejahatan terbesar bukan datang dari luar, melainkan dari dalam diri manusia dari dosa yang disangkal dan luka yang tak pernah disembuhkan. Cerita ini mengajak penonton merenung tentang tanggung jawab, penyesalan, dan konsekuensi atas setiap perbuatan.
Amanat dari cerita ini adalah bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Luka yang ditimbulkan oleh perundungan, pengkhianatan, dan sikap acuh tak acuh tidak pernah benar-benar hilang, menjadi penderitaan yang lebih besar jika tidak diakui dan dipertanggungjawabkan. Cerita ini juga mengajarkan pentingnya kejujuran pada diri sendiri, empati, dan keberanian menghadapi masa lalu. Dengan mengakui kesalahan dan menerima sisi gelap dalam diri, manusia memiliki kesempatan untuk memahami dampak tindakannya dan mencegah kejahatan yang sama terulang kembali.
Pertunjukan ini diperankan oleh Christian Reynaldi sebagai Leo, Marvel Karuna sebagai Adrian, Jefferson Sutanto sebagai Noah, Kevin Jonathan sebagai Jojo, Brilliant Alden sebagai Damian, Edward Rain sebagai iblis kemalasan, Hansel Kenard sebagai iblis nafsu, Wayan Aldi sebagai iblis amarah, Eagann Timothy sebagai iblis iri hati.

Persiapan pertunjukan seni ini melibatkan seluruh siswa kelas XI-6 dengan pembagian peran yang saling melengkapi. Proses dimulai dari diskusi ide cerita, pengembangan naskah, dan penentuan konsep pementasan. Selanjutnya dilakukan pembagian tugas, baik sebagai pemain maupun tim pendukung seperti properti, kostum, tata rias, tata cahaya, musik, dan lain-lain. Latihan rutin dilakukan agar setiap bagian dapat berjalan selaras dan cerita tersampaikan dengan baik. Dalam prosesnya, suka duka dirasakan bersama. Jadwal latihan yang padat, rasa lelah, serta perbedaan pendapat menjadi tantangan yang harus dihadapi. Namun di balik itu, tumbuh kerja sama, kekompakan, dan rasa kebersamaan. Tawa di sela latihan dan kepuasan melihat hasil kerja bersama menjadi pengalaman berharga yang mempererat hubungan satu kelas dan membuat pementasan terasa lebih bermakna.
Beberapa brand ternama berhasil menjadi sponsorship dalam memperlancar pertunjukan seni kelas XI-6 ini, diantaranya Mcdonald’s, Starbucks, Opera billiard (vouchers), Yamaha Music School, Moro Loko, Infranexia, Sun Education, Apple Tree, Sukiyaki, One Med(p3k 5 kotak), I-lab, Toko Berkat Sahabat Sejahtera Ban, PT Beta Sumatra Jaya Plastik, CV Serbaguna Plastik, CV Haryanto, PT LSAR, Barasito, Ecayo, Sapporo Patisserie, dan Dimsum Mentai.
“Selama mempersiapkan pementasan teater, kami belajar bahwa kerja sama, tanggung jawab, dan komunikasi adalah kunci utama keberhasilan. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki arti penting dalam mendukung jalannya pementasan. Proses ini mengajarkan kami untuk saling menghargai pendapat, mengatur waktu dengan baik, dan tetap berkomitmen meskipun menghadapi berbagai kendala. Kesan yang kami rasakan sangat berharga dan tak terlupakan. Meski melelahkan dan penuh tantangan, persiapan teater justru mempererat kebersamaan satu kelas. Tawa, kerja keras, dan perjuangan bersama menjadikan pengalaman ini bukan hanya tentang pementasan, tetapi juga tentang kebersamaan dan pembelajaran yang akan selalu dikenang.”, ujar Skolastika Narendra, selaku ketua pelaksana.
Maria Putri Rosari, S.Pd., selaku wali kelas XI-6 menyampaikan apresiasi dan rasa bangga kepada seluruh siswa atas kerja sama, kedisiplinan, dan tanggung jawab yang ditunjukkan selama proses persiapan hingga pementasan teater. Kegiatan ini dinilai sebagai sarana pembelajaran yang tidak hanya mengasah kreativitas, tetapi juga membentuk karakter, kekompakan, dan rasa saling menghargai.
“Saya berharap pengalaman ini menjadi bekal berharga bagi siswa, baik dalam kehidupan sekolah maupun di luar sekolah, serta mengajak penonton untuk mengambil pesan positif dari pementasan yang ditampilkan,” ujarnya lebih lanjut.
Selanjutnya Gracia Gesta Nawangsasi, S.Pd., selaku Guru Seni Budaya menyampaikan apresiasi atas kreativitas, keberanian berekspresi, dan proses artistik yang telah dilalui siswa dalam mempersiapkan pementasan teater. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa untuk menerapkan pembelajaran seni secara nyata, baik dalam akting, olah rasa, maupun kerja artistik di balik panggung.
“Pertunjukan seni bukan hanya soal tampil, tetapi tentang proses, penghayatan, dan pesan yang disampaikan. Saya berharap pementasan ini dapat meningkatkan kecintaan siswa terhadap seni serta menjadi pengalaman bermakna dalam perjalanan belajar mereka nantinya,” ujar Gesta. Salam Xavepa HEBAT!
Kontributor : Skolastika Narendra
Editor : Resti Hosiana S.






