KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Singkong Lampung menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian serius Pemerintah Provinsi Lampung. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menargetkan produktivitas singkong naik dua kali lipat pada 2027.
Untuk mengejar target tersebut, Pemprov Lampung menggandeng Universitas Lampung (Unila) dalam riset bibit unggul dan pengembangan industri singkong.
Gubernur Mirza menyampaikan rencana itu saat menghadiri Rapat Luar Biasa Senat dalam rangka Dies Natalis ke-61 Unila di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (23/9/2026).
Menurutnya, singkong memiliki posisi strategis dalam perekonomian Lampung. Komoditas ini memasok kebutuhan industri tapioka sekaligus menopang kehidupan ratusan ribu masyarakat.
Hampir 500 Ribu Warga Bergantung pada Singkong
Gubernur Mirza menyebut hampir 500.000 penduduk Lampung menggantungkan aktivitas ekonomi pada komoditas singkong.
Peningkatan produktivitas singkong dapat memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat.
Saat ini, produktivitas singkong Lampung masih berada di bawah 25 ton per hektare. Padahal, potensi produksinya dapat mencapai 40 hingga 60 ton per hektare.
Gubernur membandingkan produktivitas tersebut dengan sejumlah negara yang mampu menghasilkan lebih dari 40 ton singkong per hektare.
“Lampung ini punya posisi strategis karena sekitar 70 persen produksi tapioka Indonesia berasal dari sini,” kata Gubernur Mirza.
Namun, posisi besar Lampung dalam industri tapioka belum memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah.
Gubernur Ingin Singkong Lampung Jadi Produk Bernilai Tinggi
Gubernur Mirza ingin industri singkong Lampung tidak hanya menjual bahan baku.
Menurutnya, pelaku usaha perlu mengolah singkong menjadi berbagai produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Produk tersebut mencakup tapioka, glukosa, maltosa, sorbitol, hingga berbagai kebutuhan industri lainnya.
“Enggak banyak anak-anak Unila yang terlibat hilirisasi dari singkong jadi tapioka, jadi glukosa, jadi sorbitol dan lain-lain,” ujar Gubernur.
Kondisi tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi dan inovasi sesuai kebutuhan industri.
Gubernur juga menyoroti impor sejumlah produk turunan singkong. Padahal, Lampung menjadi salah satu sentra produksi tapioka nasional.
Unila Diminta Jadi Motor Hilirisasi Singkong
Gubernur Mirza meminta Unila mengambil peran lebih besar dalam pengembangan komoditas singkong.
Kampus dapat menggarap riset, bibit unggul, teknologi produksi, hingga inovasi produk turunan singkong.
“Unila ke depan setelah 61 tahun ini harus bisa menjadi kampus, menjadi motor transformasi. Bagaimana ekonomi yang diputar ini, yang diubah ini, motor transformasinya adalah Unila,” katanya.
Pemprov Lampung bersama Unila juga menyiapkan pengembangan National Cassava Center.
Pusat tersebut akan membantu memperkuat riset singkong, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan ekosistem industri berbasis singkong di Lampung.
Bibit Unggul Singkong Mulai Dikembangkan
Pemprov Lampung dan Unila menargetkan pengembangan bibit unggul singkong mulai tahun depan.
Setelah program tersebut berjalan, pemerintah menargetkan produktivitas singkong naik dua kali lipat pada 2027.
Target itu menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan daya saing industri tapioka Indonesia.
Gubernur melihat peningkatan produktivitas sebagai langkah awal. Setelah produksi meningkat, pemerintah ingin memperluas pengolahan singkong menjadi produk turunan bernilai tinggi.
Dengan strategi tersebut, petani memiliki lebih banyak peluang untuk memperoleh nilai ekonomi dari komoditas singkong.
Hilirisasi Jadi Kunci Ekonomi Lampung
Pengembangan singkong menjadi bagian dari agenda besar Pemprov Lampung untuk memperkuat hilirisasi komoditas.
Gubernur menyebut sekitar 70 persen penduduk Lampung bekerja pada sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Karena itu, perubahan harga komoditas berpengaruh besar terhadap ekonomi masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi Lampung saat ini mencapai 5,5 persen. Pemerintah ingin mendorong angka tersebut menuju 8 persen.
Hilirisasi dapat membantu mencapai target tersebut karena industri mengubah komoditas lokal menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi.
Sektor primer Lampung memiliki nilai sekitar Rp165 triliun. Menurut Gubernur, industri baru mengolah sekitar 40 persen nilai tersebut melalui proses hilirisasi.
Artinya, Lampung masih memiliki ruang besar untuk memperluas industri pengolahan berbasis komoditas daerah.
Bukan Hanya Singkong
Selain singkong, Gubernur Mirza meminta Unila mengembangkan hilirisasi berbagai komoditas unggulan Lampung.
Industri dapat mengolah tebu menjadi gula dan jagung menjadi pakan. Pelaku usaha juga dapat mengembangkan produk turunan dari kopi, kakao, nanas, pisang, kelapa, lada, dan kelapa sawit.
Menurut Gubernur, perguruan tinggi memiliki peran penting untuk menghubungkan riset dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi pemerintah, Unila, dunia usaha, dan masyarakat dapat menghasilkan teknologi, tenaga kerja, serta model industri yang sesuai dengan karakter Lampung.
Unila Perkuat SDM untuk Industri Masa Depan
Transformasi ekonomi juga membutuhkan sumber daya manusia yang siap memasuki dunia industri.
Gubernur Mirza menyebut generasi Z dan post-Gen Z mencapai 42,77 persen atau hampir 5 juta penduduk Lampung.
Kelompok tersebut menjadi salah satu kekuatan penting bagi pembangunan ekonomi daerah dalam beberapa tahun ke depan.
Karena itu, pengembangan hilirisasi tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi. Pemerintah dan perguruan tinggi juga perlu menyiapkan tenaga kerja yang menguasai teknologi dan memahami kebutuhan industri.
Melalui riset bibit unggul, teknologi, dan pengembangan industri, Pemprov Lampung ingin mengubah komoditas lokal menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Singkong menjadi salah satu fokus utama. Pemerintah bersama Unila kini menyiapkan langkah untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperluas industri produk turunan singkong di Lampung.***






