Jelang “Berenang Merdeka 2025”, KPAPL Uji Tiang Bendera 9 Meter di Perairan Mutun

KRAKATOA.ID, PESAWARAN — Laut di sekitar Pantai Mutun, Sabtu pagi (9/8/2025), terlihat lebih ramai dari biasanya. Namun bukan hanya wisatawan yang memenuhi perairan, melainkan puluhan orang dengan pelampung, peralatan selam, dan papan apung. Mereka adalah anggota Komunitas Perenang Antar Pulau Lampung (KPAPL) yang tengah berlomba dengan waktu: mempersiapkan upacara bendera di tengah laut.

Bersama relawan dan tim teknis, mereka sedang menggelar latihan teknis penuh — atau yang disebut “gladi kotor” — untuk menyambut acara “Berenang Merdeka 2025”, yang akan digelar pada 16 Agustus 2025, sebagai bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan RI.

Upacara ini tidak biasa: 500 perenang akan mengibarkan Merah Putih dari permukaan laut, 500 meter dari garis pantai.

Pusat dari segala persiapan hari itu adalah struktur tiang bendera setinggi 9 meter yang berdiri mengapung. Tampak tim teknis sibuk memastikan kerangka dasar, tali pengikat, dan sistem penyangga terapung benar-benar stabil.

“Hari ini kita coba semua. Tes struktur rangka, tes posisi bendera, latihan pengibaran. Kita enggak mau ambil risiko pas hari H. Kalau kerangka bermasalah, upacara bisa gagal,” ujar Ir. Napoli Situmorang, M.T., M.H., Ketua KPAPL saat ditemui Krakatoa.id di lokasi latihan di tengah laut.

Tiang setinggi itu harus bisa berdiri tegap melawan arus laut, sekaligus aman bagi para perenang yang akan berada di sekelilingnya selama upacara berlangsung.

Napoli tak menutupi bahwa tingkat kesulitan persiapan sangat tinggi. Laut yang terlihat tenang, katanya, tetap menyimpan tantangan: arus bawah laut yang berubah-ubah, gelombang kecil yang bisa menggoyang tiang, serta koordinasi 500 perenang agar tetap tertib dan aman selama upacara.

“Bagaimana kita mengatur bendera dikibarkan sambil perenangnya mengapung, itu butuh hitungan presisi. Ini bukan di lapangan upacara biasa. Ini di laut,” jelasnya.

BACA JUGA :  Lampung Bersepeda LB#29 Promosikan Tempat Wisata Tulang Bawang Barat

Tak hanya teknis pengibaran, sistem komunikasi, keamanan, dan jalur evakuasi juga tengah dimatangkan.

Per 9 Agustus, sebanyak 460 orang telah resmi mendaftar sebagai peserta. Mereka berasal dari berbagai komunitas perenang, pelajar, pecinta alam, hingga profesional. KPAPL menargetkan 500 perenang akan turun langsung dalam upacara — menjadikannya yang pertama dan terbesar di Indonesia.

Bahkan, acara ini akan dicatat oleh Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) untuk dua kategori: Upacara Bendera di Permukaan Laut oleh Perenang Terbanyak, dan Gubernur Pertama sebagai Inspektur Upacara di Laut.

Salah satu momen yang paling dinantikan adalah kehadiran Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, yang dijadwalkan turut berenang dan memimpin upacara langsung di tengah laut.

“Kondisi ini tidak umum. Yuk, kita jadi saksi sejarah. Ini bukan sekadar upacara, ini simbol keberanian dan kebersamaan,” ucap Napoli, mengajak publik menyaksikan.

Dengan waktu hanya tinggal sepekan, para anggota KPAPL terus berpacu. Setiap latihan hari-hari ini menjadi krusial: dari pengujian tiang bendera, latihan posisi peserta, hingga simulasi upacara di air.

Mereka tak hanya mempersiapkan acara, tapi juga membangun sejarah. Karena di laut ini, bendera Merah Putih akan berkibar di antara gelombang, di atas semangat kemerdekaan, dan di bawah langit Indonesia yang luas.***