Menyemai Harapan di Desa Kopi: STIE Gentiaras Gaungkan Ekonomi Hijau di Air Naningan

KRAKATOA.ID, TANGGAMUS — Kabut tipis pagi masih menggantung di perbukitan ketika warga mulai berdatangan ke Aula Gereja Katolik Stasi St. Antonius, Desa Air Naningan, Kabupaten Tanggamus, Lampung, pada 6 Februari 2026. Di desa yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi unggulan ini, sebuah gagasan besar tentang masa depan tengah disemai—bukan hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang etika merawat bumi.

Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat, dosen dan mahasiswa dari STIE Gentiaras menghadirkan sosialisasi bertajuk “Ekonomi Hijau Berbasis Laudato Si’: Menuju Pembangunan Berkelanjutan”. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus aksi nyata bagi masyarakat Desa Air Naningan dalam menjawab tantangan zaman.

Desa Air Naningan menyimpan kekayaan alam melimpah. Perkebunan kopi membentang luas, menjadi sumber penghidupan utama warga. Namun, di balik aroma kopi yang menguar harum, ada kegelisahan yang tak kasatmata: degradasi lingkungan, ketergantungan pada pupuk kimia, hingga ancaman perubahan iklim yang perlahan memengaruhi hasil panen.

Tim pengabdian yang terdiri dari Andreas Suhendi, S.E., M.M., RD. Nicolaus Agung Suprobo, S.Fil., M.Fil., dan Victoria Ari Palma Akadiati, S.Pd., M.S.Ak., CA., CPA., memandang krisis ini bukan sekadar persoalan teknis.

“Sampah, polusi, dan eksploitasi lahan adalah masalah moral. Kita perlu mengubah cara pandang dan cara bertindak,” demikian benang merah yang disampaikan dalam sesi diskusi.

Upaya ini diperkuat oleh inspirasi dari ensiklik Paus Fransiskus berjudul Laudato Si’ (Terpujilah Engkau). Dokumen tersebut menyerukan “perawatan rumah bersama” melalui pendekatan ekologi integral, sebuah cara pandang yang menempatkan ekonomi, manusia, dan alam sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Di Air Naningan, nilai itu diterjemahkan dalam semangat hidup “ugahari”: sederhana, secukupnya, dan menolak budaya pakai-buang. Sebuah perlawanan sunyi terhadap pola konsumsi yang merusak bumi.

BACA JUGA :  Unila Peringkat 13 Webometrics

Ekonomi hijau yang diperkenalkan bukan sekadar teori rendah karbon atau efisiensi sumber daya. Ia adalah jalan menuju kemandirian ekonomi desa yang selaras dengan daya dukung alam, agar kesejahteraan tidak berhenti pada generasi hari ini.

Strategi yang ditawarkan tim STIE Gentiaras berangkat dari praktik sederhana namun berdampak besar. Warga didorong menggunakan bahan baku lokal dan organik untuk mengurangi ketergantungan pada bahan kimia berbahaya. Konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) diperkenalkan sebagai gerakan bersama yang bukan hanya membersihkan lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru melalui produk kerajinan bernilai tambah.

Perubahan mulai terasa. Sejumlah kelompok tani beralih ke pupuk organik yang lebih hemat biaya dan menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang. Pelaku UMKM pun mulai meninggalkan kemasan plastik dan beralih ke bahan ramah lingkungan, yang justru meningkatkan daya saing produk mereka di pasar modern.

Langkah kecil itu menghadirkan optimisme: menjaga alam ternyata sejalan dengan memperkuat ekonomi.

Pembangunan berkelanjutan di Air Naningan bukan tentang keuntungan instan, melainkan tentang menghargai martabat manusia dan menjaga keutuhan ciptaan. Sinergi antara efisiensi ekonomi, kesehatan lingkungan, dan tanggung jawab spiritual sebagai “penjaga taman dunia” menjadi fondasi gerakan ini.

Di aula sederhana itu, diskusi tentang ekonomi hijau bukan lagi wacana akademik. Ia menjelma komitmen kolektif. Air Naningan perlahan membuktikan bahwa desa bisa menjadi laboratorium perubahan, bahwa merawat bumi adalah jalan menuju kemandirian ekonomi yang sejati.

Dari lereng-lereng kopi di Tanggamus, sebuah pesan mengalir pelan namun pasti: masa depan yang lestari dimulai dari langkah kecil hari ini.***

Penulis : Hendi