KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Saat ini, kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat memicu lonjakan permintaan produk herbal peningkat imun tubuh. Langkah cerdas tersebut mendorong tim peneliti Politeknik Negeri Lampung (Polinela) untuk menciptakan sebuah inovasi minuman fungsional. Ketua tim peneliti Dr. Liana Verdini, S.TP., M.Si., memimpin langsung proyek riset pangan berskala nasional ini pada Juli 2026.
Mengenai hal itu, tim dosen menggabungkan ekstrak kayu manis dan propolis sebagai bahan baku utama pembuatan produk. Kemudian, mereka meracik kombinasi super tersebut agar menghasilkan efek antioksidan serta antimikroba yang sangat tinggi bagi tubuh. Tentu saja, terobosan orisinal dari kampus vokasi Lampung ini membawa angin segar bagi dunia kesehatan modern.
Teknologi Mikroenkapsulasi Mampu Atasi Rasa Pahit Ekstrak Propolis
Lalu, para peneliti menghadapi tantangan besar terkait aroma menyengat serta rasa pahit dari bahan murni propolis. Sebab, senyawa bioaktif dalam propolis juga sangat mudah rusak akibat paparan suhu panas matahari maupun oksigen. Oleh karena itu, tim Polinela menerapkan teknologi perlindungan tingkat tinggi yang bernama co-encapsulation (mikroenkapsulasi). Pemerintah daerah mengapresiasi penggunaan teknologi canggih ini karena mampu menjaga keutuhan nutrisi produk dalam jangka panjang.
Sementara itu, tim dosen menolak ketergantungan pada bahan penyalut impor komersial seperti maltodekstrin yang berharga mahal. Maka dari itu, mereka memanfaatkan potensi pertanian lokal Lampung yang sangat melimpah berupa pati ubi kayu. Melalui proses hidrolisis, para peneliti berhasil memodifikasi pati ubi kayu menjadi bahan penyalut ekstrak yang sangat efisien.
Hilirisasi Singkong Lokal Dukung Penuh Capaian Asta Cita Nasional
Di samping itu, inovasi pati ubi kayu ini sukses menutupi rasa menyengat sekaligus meningkatkan kelarutan serbuk minuman. Selanjutnya, strategi hilirisasi komoditas lokal ini sejalan dengan agenda kedaulatan pangan dalam program nasional Asta Cita. Bahkan, pemanfaatan singkong mampu mendongkrak nilai jual produk pertanian milik para petani lokal secara signifikan. Karya nyata dosen Polinela ini berkontribusi langsung pada pencapaian target pembangunan berkelanjutan (SDGs) di Indonesia.***






