Dari Singkong Mentah Jadi Industri Masa Depan, Lampung Percepat Hilirisasi Pangan dan Energi

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Singkong tidak lagi sekadar tanaman pangan bagi masyarakat Lampung. Pemerintah Provinsi Lampung kini mendorong komoditas tersebut menjadi penggerak industri masa depan melalui program hilirisasi singkong Lampung.

Dengan produksi mencapai lebih dari 7,5 juta ton pada 2025, singkong Lampung memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari pangan olahan, mocaf, bahan baku industri, hingga energi terbarukan.

Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, mengatakan pemerintah ingin mengubah pola lama yang hanya menjual hasil pertanian dalam bentuk bahan mentah. Menurutnya, hilirisasi menjadi langkah penting agar petani dan pelaku usaha memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar.

“Hilirisasi merupakan jalan utama untuk mentransformasikan perekonomian daerah. Hilirisasi bukan sekadar membangun industri pengolahan, tetapi membangun ekosistem yang menghubungkan sektor pertanian, industri, dan perdagangan dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan,” ujar Jihan saat membuka kegiatan Penguatan Hilirisasi dan Daya Saing Industri Pangan dan Olahan Singkong Provinsi Lampung di Ballroom Hotel Radisson Bandar Lampung, Kamis (16/7/2026).

Lampung Ingin Singkong Naik Kelas Jadi Produk Industri

Jihan menjelaskan, Lampung memiliki modal besar untuk menjadi pusat industri singkong nasional. Selain memiliki produksi singkong terbesar di Indonesia, provinsi ini juga memiliki infrastruktur pendukung seperti Jalan Tol Trans Sumatera, pelabuhan, jalur kereta api, dan Bandara Radin Inten II.

Menurutnya, potensi tersebut harus berjalan bersama dengan penguatan industri pengolahan.

“Komoditas pertanian tidak boleh berhenti sebagai bahan baku. Kita harus mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi,” kata Jihan.

Ia menyebut sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi Lampung dengan kontribusi sekitar 24 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Sementara sektor industri pengolahan menyumbang sekitar 19,11 persen.

BACA JUGA :  Silaturahmi Nasional Komunitas IIBF Ke-14 di Lampung Sukses Mempertemukan 1000 Pengusaha-Pengusaha Muslim dari Seluruh Indonesia!!

Karena itu, pemerintah terus mendorong keterhubungan antara petani, industri kecil menengah, pelaku usaha besar, hingga pasar.

Harga Singkong Mulai Stabil, Pemerintah Bangun Ekosistem Baru

Salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan singkong Lampung adalah persoalan harga. Jihan mengatakan pemerintah daerah terus mencari solusi agar petani mendapatkan kepastian usaha.

Menurutnya, berbagai langkah bersama pemerintah pusat mulai memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga singkong.

“Alhamdulillah hari ini harga ubi kayu di Provinsi Lampung termasuk yang paling baik dibanding periode-periode sebelumnya dan cukup stabil,” ujarnya.

Selain menjaga harga, pemerintah juga membangun ekosistem industri melalui berbagai program strategis. Salah satunya dengan menyiapkan Cassava Center sebagai pusat riset dan pengembangan singkong pertama di Indonesia.

Melalui pusat tersebut, pemerintah ingin menghadirkan inovasi baru dalam budidaya, pengolahan, hingga pengembangan produk turunan singkong.

Cassava Center dan Bioetanol Jadi Penggerak Hilirisasi Singkong

Tidak hanya mengembangkan industri pangan, Lampung juga melihat singkong sebagai sumber energi masa depan.

Pemerintah Provinsi Lampung menyiapkan pengembangan industri bioetanol berbahan baku singkong melalui kerja sama dengan PTPN. Program tersebut membuka peluang baru bagi industri energi terbarukan sekaligus memperluas pasar bagi petani.

Selain itu, pemerintah mengintegrasikan pengembangan singkong melalui program Desaku Maju. Program ini menghubungkan sektor pertanian dengan penyediaan alat pascapanen, pelatihan vokasi, penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur desa, serta pengembangan koperasi.

Mocaf Jadi Peluang Baru Industri Pangan Lampung

Selain bioetanol, produk olahan singkong seperti mocaf juga menjadi perhatian pemerintah. Lampung mengusulkan program industrialisasi mocaf terintegrasi berbasis klaster sebagai Proyek Strategis Nasional.

Program tersebut menggabungkan berbagai sektor, mulai dari budidaya singkong, industri pengolahan, logistik, inovasi teknologi, hingga pemasaran.

BACA JUGA :  Olahraga Jadi Sarana Pemersatu ASN, Korpri Lampung Siap Tampil Solid di Pornas XVII

Jihan mengatakan pengembangan industri mocaf dapat memperkuat industri kecil dan menengah (IKM) pangan sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Salah satu contoh pengembangan IKM berbasis singkong terlihat melalui sentra mocaf di Kabupaten Pringsewu. Program tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi mampu menciptakan peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Kemenperin Sebut Lampung Berpotensi Jadi Pusat Industri Pangan Nasional

Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai Lampung memiliki seluruh modal untuk berkembang menjadi klaster industri pangan nasional.

Menurutnya, posisi strategis Lampung, kekuatan sektor pertanian, serta infrastruktur yang tersedia menjadi keunggulan utama dalam membangun industri berbasis agro.

Faisol menyebut kontribusi industri pengolahan Lampung terhadap PDRB mencapai 19,11 persen. Angka tersebut bahkan sedikit lebih tinggi dibanding kontribusi industri pengolahan terhadap PDB nasional sebesar 19,07 persen.

Selain itu, ekspor singkong Lampung juga menunjukkan pertumbuhan positif. Ekspor singkong meningkat 73,14 persen, sedangkan ekspor pati singkong tumbuh 37,7 persen.

Pemerintah pusat, kata Faisol, terus mendorong pengembangan produk turunan singkong seperti mocaf, glukosa, sorbitol, hingga bioetanol.

Hilirisasi Singkong Jadi Jalan Baru Ekonomi Lampung

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan pemerintah menjalankan berbagai program peningkatan daya saing industri olahan singkong.

Program tersebut mencakup sosialisasi hilirisasi, pelatihan keamanan pangan, serta pendampingan penggunaan mesin dan peralatan bagi pelaku industri kecil menengah.

Melalui percepatan hilirisasi singkong Lampung, pemerintah berharap komoditas unggulan daerah tersebut mampu naik kelas. Singkong tidak hanya menjadi hasil pertanian, tetapi menjadi sumber pertumbuhan industri, investasi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.***