KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN — Pemerintah Provinsi Lampung bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Cabang Utama Bakauheni menyiapkan strategi komprehensif untuk menghadapi lonjakan arus mudik dan balik Lebaran 2026 (1447 Hijriah). Fokus utama bukan hanya ketersediaan kapal, tetapi pengendalian arus kendaraan untuk mencegah kemacetan di Pelabuhan Bakauheni.
Berdasarkan Rencana Operasional (Renops), jumlah kendaraan yang diproyeksikan melewati pelabuhan mencapai 319.916 unit dengan 108.050 penumpang. Total perjalanan kapal diperkirakan 2.481 trip. Meski rasio volume terhadap kapasitas (V/C ratio) berada di angka 0,67, potensi kemacetan tetap tinggi jika kendaraan datang bersamaan.
“Macet besar sering terjadi bukan karena kapal kurang, tetapi karena kendaraan datang bersamaan,” ujar Penta Peturun dari Tim Kementerian Hak Asasi Manusia yang memantau kesiapan arus mudik bersama Pemprov Lampung, Polda Lampung, Kodam XXI/Radin Inten, dan ASDP.
Arus mudik didominasi kendaraan pribadi, dengan sekitar 172 ribu mobil dan lebih dari 100 ribu sepeda motor. Pola perjalanan keluarga yang cenderung berangkat bersamaan menjadi faktor utama kepadatan pada jam-jam tertentu. Puncak arus mudik diprediksi terjadi H-3 Lebaran, sedangkan arus balik akan memuncak pada H+3 hingga H+6, dengan antrean kendaraan mencapai 4–6 jam di titik-titik rawan.
Untuk mengurangi kepadatan, masyarakat dianjurkan melakukan perjalanan pada dini hari hingga pagi, antara pukul 01.00 hingga 10.00 WIB, dan menghindari perjalanan sore hingga malam.
Strategi pengendalian arus yang diterapkan ASDP dan Pemprov Lampung meliputi:
Pengalihan kendaraan ke pelabuhan alternatif, seperti Ciwandan untuk sepeda motor dan sebagian kendaraan barang, serta BBJ Bojonegara untuk kendaraan logistik besar.
Pengoperasian 75 kapal 24 jam penuh dengan pola bongkar muat yang dioptimalkan.
Sistem delaying dan buffer zone di Rest Area KM 20B, KM 49B, KM 87B, dan Terminal Agribisnis Gayam untuk menyaring kendaraan berdasarkan tiket.
Penegasan bahwa seluruh tiket wajib dibeli melalui aplikasi Ferizy atau kanal resmi, tanpa penjualan di pelabuhan.
Sebanyak 786 personel, didukung TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan, siap menjaga kelancaran arus, dilengkapi CCTV, pos kesehatan 24 jam, dan layanan pelanggan. Pelabuhan alternatif di kawasan Wika Beton juga disiapkan sebagai skenario kontinjensi jika terjadi kepadatan ekstrem.
Pemerintah menekankan pelayanan yang ramah, termasuk untuk lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, dan anak-anak. Pemudik diimbau merencanakan perjalanan, membeli tiket lebih awal, datang sesuai jadwal, dan mengikuti arahan petugas demi perjalanan yang aman dan nyaman.***






