KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Ada tempat makan yang menawarkan sekadar rasa. Ada pula tempat yang mencoba menyajikan cerita.
Lamban Sabah memilih jalan yang kedua.
Restoran di Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung, itu membawa konsep “Authentic Nature and Culture”.
Konsep tersebut terasa sejak pengunjung memasuki kawasan restoran. Pepohonan tumbuh di sejumlah sudut.
Bangunan bergaya rumah panggung juga memperkuat nuansa Lampung. Suasananya terasa dekat dengan alam dan budaya lokal.
General Manager Lamban Sabah, Doddy Rohyadi, mengatakan konsep tersebut menjadi identitas restoran.
“Konsep Lamban Sabah itu sesuai dengan tagline kita, yaitu Authentic Nature and Culture,” kata Doddy saat ditemui Krakatoa.id, Selasa sore (8/9/2026).

Bukan Sekadar Restoran dengan Nuansa Alam
Menurut Doddy, Lamban Sabah sengaja menjaga karakter alami kawasan restoran.
Pengelola tidak ingin menghilangkan unsur alam. Sebaliknya, mereka mencoba menyatukan bangunan dengan lingkungan.
“Authentic kalau kita bisa lihat datang ke sini, authentic dari sisi tampilan kita,” ujarnya.
Kemudian ada unsur Nature.
Lamban Sabah menghadirkan banyak pepohonan di area restoran. Bangunannya juga mengikuti karakter lingkungan.
“Kita berusaha membuat restoran ini se-nature, se-alam tanpa ada apa-apa,” kata Doddy.
Sementara unsur Culture hadir lewat arsitektur.
Lamban Sabah mempertahankan konsep rumah panggung. Model tersebut menjadi salah satu ciri arsitektur tradisional Lampung.
“Bangunan-bangunan kita pertahankan seperti rumah panggung yang ada di Lampung,” tuturnya.
Dari sinilah konsep Lamban Sabah terasa utuh.
Alam menjadi latar. Budaya menjadi identitas. Sementara makanan menjadi cerita yang bisa dinikmati pengunjung.
Pepenyok dan Gulai Taboh Jadi Identitas Menu
Cerita tentang Lampung kemudian berlanjut ke meja makan.
Lamban Sabah tidak hanya mengandalkan suasana. Restoran ini juga mengangkat kuliner khas Lampung sebagai bagian penting dari konsepnya.
Doddy menyebut sejumlah menu lokal yang menjadi andalan.
Salah satunya adalah pepenyok.
Bagi masyarakat Lampung Barat, pepenyok bukan nama yang asing. Makanan tersebut menjadi salah satu kuliner khas daerah tersebut.
“Ada pepenyok yang kita dapatkan. Kalau kita pernah ke Lampung Barat, pepenyok ini makanan khas Lampung Barat,” ujar Doddy.
Ada pula gulai taboh.
Menu tersebut membawa cita rasa khas Lampung Pesisir. Kehadirannya memperluas cerita kuliner yang ingin dibangun Lamban Sabah.
Kemudian ada pindang.
Pindang memang dikenal luas di Sumatra. Namun, Lamban Sabah menghadirkan versi yang mereka racik dengan sentuhan bahan dan cita rasa Lampung.
“Pindang yang kita sajikan itu pindang Lamban Sabah. Kita racik benar-benar dari yang ada di Lampung,” jelas Doddy.
Dengan pilihan tersebut, Lamban Sabah ingin menunjukkan bahwa kuliner lokal memiliki ruang untuk tampil di tengah perkembangan restoran modern.
Serbat Kweni, Minuman Tradisional yang Menyegarkan
Ada satu sajian lain yang tidak kalah menarik.
Namanya serbat kweni.
Minuman berbahan buah kweni ini cukup dikenal masyarakat Lampung. Terutama di wilayah pedesaan.
Doddy mengatakan ide menyajikan serbat kweni juga muncul dari cerita para tamu.
“Ada satu minuman yang sebenarnya lokal. Kita dapatkan dari tamu-tamu kita, yaitu serbat kweni,” katanya.
Cara membuatnya cukup sederhana.
Buah kweni dibebek hingga halus. Pengelola kemudian menambahkan air dingin dan es.
Hasilnya menjadi minuman dengan rasa buah yang segar.
“Segar sekali pada siang hari,” ujar Doddy.
Serbat kweni pun menjadi bagian dari upaya Lamban Sabah memperkenalkan kembali minuman lokal kepada pengunjung.
Membawa Identitas Lampung ke Tengah Kota
Bagi Lamban Sabah, makanan lokal bukan sekadar pelengkap menu.
Makanan menjadi bagian dari identitas restoran.
Hal tersebut juga menjadi alasan pengelola terus mencari makanan khas Lampung lainnya.
“Plan ke depan juga kita mengangkat makanan-makanan lokal,” kata Doddy.
Langkah itu membuat Lamban Sabah menawarkan pengalaman yang berbeda.
Pengunjung bisa menikmati pepenyok dari Lampung Barat. Mereka juga bisa mencicipi gulai taboh khas Lampung Pesisir.
Pindang khas Lamban Sabah melengkapi pilihan makanan. Sementara serbat kweni memberikan sentuhan segar dari tradisi lokal.
Semua sajian tersebut berpadu dengan bangunan rumah panggung dan suasana hijau.
Dari sana, tagline “Authentic Nature and Culture” bukan hanya menjadi tulisan.
Lamban Sabah mencoba menerjemahkannya melalui apa yang dilihat, dirasakan, dan disantap pengunjung.
Lamban Sabah Buka Setiap Hari
Bagi warga maupun wisatawan yang ingin menikmati kuliner khas Lampung di Bandar Lampung, Lamban Sabah bisa menjadi salah satu pilihan.
Restoran ini berada di Jl. Padat Karya, Way Dadi, Kecamatan Sukarame, Bandar Lampung.
Lamban Sabah buka setiap hari mulai pukul 11.00 hingga 22.00 WIB.
Di tengah kota yang terus bergerak, Lamban Sabah mencoba menawarkan jeda.
Pepohonan menjadi bagian dari suasana. Rumah panggung mengingatkan pada budaya Lampung.
Sementara sepiring makanan lokal membawa cerita dari berbagai sudut daerah Lampung.
Pada akhirnya, Lamban Sabah tidak hanya mengajak orang untuk makan.
Tempat ini mengajak pengunjung merasakan Lampung melalui alam, budaya, dan cita rasa lokal.***






