KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG -– Universitas Lampung (Unila) menunjukkan posisinya sebagai penghubung strategis antara dunia pendidikan, masyarakat, dan industri dalam upaya mendorong transformasi pertanian berkelanjutan. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar dalam kerangka Proyek HARVEST, Unila menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk menyatukan gagasan dan merumuskan arah baru sistem pertanian yang adil, inklusif, dan berwawasan lingkungan.
Berlangsung di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), FGD bertema “Sustainable Agriculture and Innovative Teaching Method” ini menjadi ruang dialog terbuka yang mempertemukan perwakilan petani, LSM, pelaku industri, hingga pejabat pemerintah dan akademisi lintas kampus, termasuk dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela). Diskusi ini menggambarkan satu fakta penting: tantangan pertanian berkelanjutan tak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.
“Banyak tantangan yang dihadapi petani hari ini bukan soal teknologi semata, tapi juga soal pola pikir, regulasi, hingga kurikulum pendidikan tinggi yang belum sepenuhnya menyentuh akar masalah,” kata salah satu perwakilan dari APOL dalam sesi diskusi.
Beragam isu mengemuka — dari dominasi pendekatan produktivitas dalam kurikulum agronomi, hingga kurangnya pemahaman lulusan terhadap aspek sosial dan ekologi pertanian organik. Perwakilan sektor pemerintah menambahkan bahwa masih ditemukan kandungan berbahaya seperti pestisida dan logam berat dalam hasil pertanian lokal, yang menunjukkan perlunya pengawasan terpadu dan partisipasi generasi muda, termasuk mahasiswa.
Unila tak hanya menjadi fasilitator diskusi, tetapi juga aktor kunci dalam membentuk kurikulum dan model pembelajaran lintas disiplin yang adaptif terhadap isu global. Dalam sesi FGD, perwakilan FISIP Unila mendorong penyisipan isu keberlanjutan ke dalam mata kuliah penciri, serta mendorong riset sosial-politik yang berhubungan dengan ketahanan pangan dan perubahan iklim.
Tiga kompetensi utama untuk lulusan di bidang pertanian berkelanjutan dirumuskan: pemahaman holistik tentang filosofi dan praktik organik, keterampilan teknologi dan pemetaan sosial, serta kemampuan komunikasi dan sertifikasi yang relevan. Kesepakatan ini menjadi pondasi pengembangan micro-course dan laporan “Competence and Knowledge Gap” yang akan digunakan di kawasan Asia Tenggara dan Eropa.
FGD ini membuktikan bahwa Unila bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang bertemunya berbagai perspektif dan kepentingan untuk menciptakan sistem pangan masa depan yang berkeadilan dan lestari. “Kami ingin menjadikan hasil diskusi ini sebagai rujukan nyata dalam menyusun kebijakan, pembelajaran, dan kolaborasi jangka panjang,” ujar Indra Jaya Wiranata, Project Manager HARVEST Unila.
Dengan semangat kolaboratif dan pendekatan lintas disiplin, Unila terus memantapkan langkah menuju kampus yang berdampak — tak hanya untuk dunia akademik, tetapi juga bagi masa depan lingkungan dan keadilan sosial.***






