KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Pemerintah Provinsi Lampung mengambil langkah berani demi membentengi kebudayaan lokal dari gerusan zaman. Oleh karena itu, pemerintah secara resmi menetapkan 16 desa budaya melalui Surat Keputusan Gubernur yang baru. Langkah konkret ini menjadi strategi utama untuk merawat identitas daerah sekaligus mewariskan kekayaan adat kepada generasi muda.
Terkait kebijakan besar tersebut, Gubernur Lampung langsung membahasnya saat menggelar jamuan makan siang bersama tokoh adat Sai Batin Lima Makhga Way Handak, Kabupaten Lampung Selatan. Sementara itu, pertemuan strategis ini berlangsung penuh kehangatan di Mahan Agung pada Sabtu, 27 Juni 2026.
Sinergi Angkat Ekonomi Lewat Sektor Budaya
Dalam pertemuan itu, hadir para pemimpin adat terkemuka seperti Pangeran Cahya Marga Syafrudin dan Pangeran Tihang Marga Azhar Marzuki. Selain itu, tampak pula Pangeran Naga Beringsang V Ahmad Fajrin, Pangeran Penyimbang Agung David Marison, serta Pangeran Sesuhuman Sampurna Jaya M. Abas’sy.
Melalui diskusi intensif tersebut, Gubernur menegaskan bahwa arah pembangunan Lampung kini mengalami pergeseran paradigma. Sebab, pemerintah tidak ingin lagi hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik semata. Oleh sebab itu, pembangunan kebudayaan dan penguatan SDM berbasis kearifan lokal kini menjadi prioritas utama yang sejajar.
“Kami berdiskusi banyak hal tentang arah pembangunan Provinsi Lampung ke depan. Bukan hanya pembangunan fisik, tapi juga pembangunan kebudayaan dan SDM. Kami sepakat kebudayaan Lampung yang sangat kaya ini harus terus lestari melalui kolaborasi pemerintah dengan masyarakat adat,” ujar Gubernur.
Oleh karena itu, pemerintah memproyeksikan penetapan desa budaya ini mampu menjadi motor penggerak baru. Sebab, selain melestarikan adat, zona cagar budaya ini juga akan menghidupkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif masyarakat sekitar.
Masyarakat Adat Siap Kawal Program Gubernur
Merespons kebijakan progresif ini, Pangeran Sesuhuman Sampurna Jaya M. Abas’sy langsung menyatakan dukungan penuhnya mewakili masyarakat adat Lampung Selatan. Tentu saja, pihaknya sangat mengapresiasi keberanian pemerintah yang mau menyentuh langsung lima marga adat secara spesifik.
“Kami berterima kasih kepada Bapak Gubernur yang telah menerima kami. Apa yang dibicarakan hari ini sangat berpotensi membangun adat agar lebih dikenal. Oleh sebab itu, kami sangat mendukung program-program beliau untuk memajukan adat,” ujarnya.
Selanjutnya, ia menilai bahwa gagasan Gubernur sangat cerdas dalam mengawinkan unsur pelestarian sejarah dengan peningkatan kesejahteraan warga. Dengan demikian, seluruh elemen masyarakat adat menyatakan siap lahir batin untuk mengawal jalannya program desa budaya tersebut di lapangan.
Budaya Maju, Lampung Berkemajuan
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, memperkuat urgensi dari penetapan desa budaya ini. Menurutnya, aspirasi dari para tokoh adat merupakan fondasi penting dalam penyusunan cetak biru kebijakan kebudayaan daerah.
“Adat merupakan bagian dari kebudayaan Lampung yang harus dijaga. Karena kalau budayanya maju, tentu Lampung juga berkemajuan. Aspirasi para tokoh adat menjadi masukan penting dalam menetapkan kebijakan ke depan,” kata Thomas.
Sebagai penutup, Thomas optimistis bahwa kehadiran 16 desa budaya ini akan menjadi benteng pertahanan karakter bangsa yang kokoh. Alhasil, generasi muda Lampung ke depan tidak akan kehilangan arah dan tetap bangga pada akar budaya leluhurnya sendiri.***






