KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN, — Pemenuhan gizi anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 11 persen anak usia 5–12 tahun mengalami gizi kurang. Oleh karena itu, kolaborasi lintas sektor sangat penting demi meningkatkan kualitas kesehatan anak sekolah.
Mengenai hal itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) terus memperkuat komitmennya melalui program JAPFA for Kids. Hingga 2026, program sosial ini telah menjangkau 217.706 siswa di 28 provinsi di Indonesia.
Komitmen JAPFA for Kids di Lampung Selatan
Lalu, JAPFA kembali menggelar program JAPFA for Kids di Kabupaten Lampung Selatan. Tahun ini, program tersebut merangkul 15 sekolah, 2.051 siswa, serta 165 guru. Tim pelaksana memberikan edukasi gizi seimbang, pembiasaan hidup sehat, hingga pendampingan sekolah.
Berikutnya, kegiatan ini menjadi rangkaian Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 pada Rabu (30/7/2026). JAPFA mengusung tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa”.
“Kami berharap semakin banyak anak memperoleh manfaat nyata dari program ini,” ujar Head of Unit RPA Lampung JAPFA, Muzammil, di Aston Lampung City Hotel.
Lampung Jadi Wilayah Awal JAPFA for Kids
Selanjutnya, Provinsi Lampung menjadi salah satu daerah pionir pelaksanaan JAPFA for Kids sejak tahun 2008. Saat itu, JAPFA mengawali kegiatan di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur.
Kemudian, JAPFA memperluas jangkauan program ke Lampung Selatan, Tanggamus, Pringsewu, hingga Pesawaran. Hingga 2026, program ini telah menyasar 69 sekolah dan 13.400 siswa di Lampung. Selain itu, JAPFA menggelar Hari Sehat JAPFA untuk memantau gizi siswa secara berkala.
Program Perbaikan Gizi Tunjukkan Hasil Positif
Di samping itu, pemantauan JAPFA sepanjang 2024 menemukan 10,1 persen siswa masih mengalami masalah gizi. Namun demikian, implementasi program intervensi gizi JAPFA membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Pada 2024, sebanyak 51,5 persen siswa berhasil memperbaiki status gizinya menjadi gizi baik. Bahkan, angka keberhasilan tersebut meningkat pesat mencapai 62,5 persen pada tahun 2025. Artinya, intervensi gizi secara berkelanjutan mampu mengubah kualitas kesehatan anak sekolah.
Pendekatan Terintegrasi Perkuat Dampak Program
Sementara itu, Head of Social Investment JAPFA Retno Artsanti mengungkapkan rahasia keberhasilan program tersebut. Pihaknya memberikan asupan protein hewani berupa telur setiap hari selama enam bulan kepada anak-anak.
“Tim memantau berat badan dan tinggi badan siswa melalui aplikasi digital,” jelas Retno Artsanti.
Kolaborasi JAPFA bersama pemerintah, sekolah, dan media massa siap mencetak generasi Indonesia yang lebih cerdas dan berkualitas.***






