KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Keuskupan Tanjungkarang mengajak berbagai elemen lintas agama menjaga lingkungan melalui Gerakan Pro Kasih (Program Kali Bersih). Pada Kamis (29/10/2026), mereka menggelar aksi bersih sungai di Way Balau, Kelurahan Kali Balau Kencana, Kecamatan Kedamaian, Bandar Lampung.
Melalui gerakan ini, Keuskupan Tanjungkarang ingin mengubah kebiasaan masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Selain itu, kegiatan tersebut mengajak warga menyadari bahwa sungai merupakan sumber kehidupan yang harus dirawat bersama.
Gerakan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda ARDAS IX Keuskupan Tanjungkarang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut, panitia melibatkan tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, unsur perguruan tinggi, dan pelajar.
Keuskupan Tanjungkarang Ajak Masyarakat Ubah Cara Pandang terhadap Sungai
Uskup Keuskupan Tanjungkarang Mgr Vinsensius Setiawan Triatmojo turun langsung membersihkan Sungai Way Balau bersama para pemuka agama dan peserta lainnya. Mereka memulai aksi di bawah Jembatan Penantian.
Selanjutnya, panitia membagi peserta ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok kemudian membersihkan titik-titik sungai yang menjadi sasaran kegiatan.
Sejumlah organisasi lintas agama turut mendukung gerakan ini. Di antaranya Muhammadiyah, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW), dan Majelis Buddhayana Indonesia (MBI).
Selain organisasi keagamaan tersebut, organisasi kemasyarakatan Katolik serta siswa-siswi sekolah Xaverius dan Fransiskus juga ikut bergabung. Dengan demikian, aksi ini mempertemukan berbagai kalangan untuk bekerja bersama menjaga lingkungan.
Bagi Keuskupan Tanjungkarang, Pro Kasih bukan sekadar kegiatan memungut sampah. Lebih dari itu, gerakan ini mengajak masyarakat mengubah cara pandang terhadap sungai yang selama ini kerap menjadi tempat pembuangan sampah dan kotoran.
Mgr. Avien menjelaskan bahwa nama Pro Kasih mengandung ajakan untuk bertindak proaktif dalam menjaga sungai. Menurutnya, masyarakat perlu merawat bumi sebagai rumah bersama, termasuk dengan menjaga kebersihan aliran air.
“Selama ini sungai sering dijadikan latar belakang, hanya sebagai tempat membuang sampah dan kotoran. Gerakan ini ingin mengajak masyarakat menjadikan sungai sebagai latar depan, sesuatu yang harus indah dan menjadi tempat kita melihat masa depan,” ujarnya.
Karena itu, Mgr. Avien menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus hadir melalui tindakan nyata. Ia mengajak masyarakat tidak berhenti pada slogan, tetapi mulai mengubah kebiasaan sehari-hari.
Pro Kasih Dorong Kepedulian Lingkungan dan Pencegahan Banjir
Selain mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai, Mgr. Avien mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama menjelang musim hujan. Sebab, sampah yang menumpuk dapat menghambat aliran air dan meningkatkan risiko banjir.
Menurutnya, kebiasaan buruk dalam memperlakukan lingkungan dapat memicu bencana yang akhirnya merugikan masyarakat sendiri.
“Jika sampah bertumpuk di sungai, hal itu pasti akan menghambat laju air yang pada akhirnya bisa menyebabkan banjir. Bencana seperti itu sebenarnya adalah bencana yang kita ciptakan sendiri,” katanya.
Oleh sebab itu, Mgr. Avien menilai masyarakat perlu bekerja sama untuk mengatasi persoalan kebersihan sungai. Pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan warga harus mengambil peran sesuai kemampuan masing-masing.
Melalui Pro Kasih, Keuskupan Tanjungkarang ingin memperkuat kolaborasi tersebut. Pada saat yang sama, gerakan ini menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menyatukan masyarakat meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.
FKUB Lampung Apresiasi Kolaborasi Lintas Agama
Sementara itu, Bidang Kerukunan FKUB Provinsi Lampung Heri Sensustadi mengapresiasi Gerakan Pro Kasih. Ia juga menjabat Wakil Ketua DPW LDII Provinsi Lampung.
Menurut Heri, kegiatan ini dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Tak hanya itu, aksi bersama tersebut memperkuat kerja sama antarumat beragama dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Namun, ia mengingatkan bahwa gotong royong membersihkan sungai perlu berjalan beriringan dengan edukasi yang berkelanjutan. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya membersihkan sungai sesaat, tetapi juga mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah.
“Banjir terkadang bermula dari kurangnya perawatan sungai itu sendiri. Sungai kurang dirawat, warga membuang sampah sembarangan, dan sebagainya. Itulah mengapa edukasi sangat diperlukan,” ujarnya.
Karena itu, Heri berharap masyarakat mulai menjaga lingkungan dari rumah masing-masing. Selain melakukan tindakan sederhana, warga juga dapat terlibat aktif dalam kegiatan kebersihan di lingkungan sekitar.
Pro Kasih Jadi Bagian Rangkaian ARDAS IX Keuskupan Tanjungkarang
Ketua Umum Perayaan Puncak ARDAS IX Keuskupan Tanjungkarang Marcus Budi Santoso menjelaskan bahwa Gerakan Pro Kasih merupakan salah satu agenda dalam rangkaian ARDAS tahun ini.
Sebelumnya, panitia menggelar gerakan donor darah serentak. Setelah aksi bersih sungai di Bandar Lampung, rangkaian kegiatan akan berlanjut dengan perayaan puncak ARDAS di Pringsewu.
Marcus menjelaskan bahwa panitia melibatkan FKUB dan berbagai unsur masyarakat untuk memperkuat semangat kebersamaan. Menurutnya, sungai yang bersih dan lingkungan yang sehat merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Lebih lanjut, ia berharap gerakan ini menumbuhkan kesadaran kolektif di kalangan tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah, dan warga setempat. Dengan demikian, masyarakat dapat melanjutkan kepedulian terhadap lingkungan setelah kegiatan berakhir.
“Mudah-mudahan kegiatan ini dapat memunculkan kesadaran kolektif antara tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah, dan masyarakat setempat. Harapannya, gerakan ini bisa memberikan dampak yang menyeluruh, khususnya di Bandar Lampung, di mana semua orang bisa ikut terlibat,” katanya.
Melalui Gerakan Pro Kasih, Keuskupan Tanjungkarang ingin mendorong masyarakat menjaga sungai secara berkelanjutan. Aksi bersih sungai ini menjadi langkah awal untuk membangun kebiasaan yang lebih peduli terhadap lingkungan.
Pada akhirnya, keberhasilan gerakan ini tidak hanya bergantung pada kegiatan membersihkan sungai dalam satu hari. Sebaliknya, masyarakat perlu mencegah sampah kembali menumpuk melalui kebiasaan sehari-hari yang lebih bertanggung jawab.
Dengan semangat lintas agama, Keuskupan Tanjungkarang berharap masyarakat menjadikan upaya merawat sungai sebagai gerakan bersama. Sebab, menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat demi melindungi sumber kehidupan bagi generasi mendatang.***






