Pembinaan SDM Kependidikan Baru Yayasan Xaverius Tanjungkarang : Membangun Kompetensi dan Karakter Pendidik Abad 21

KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG — Sabtu, 21 September 2024, Yayasan Xaverius Tanjungkarang kembali menggelar pembinaan bagi para SDM kependidikan dengan Materi V yang dipresentasikan oleh Petrus Risdianto. Dalam sesi ini, Petrus menekankan pentingnya membangun kompetensi dan mindset positif bagi seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan yayasan. Dengan semangat militansi yang tinggi, diharapkan setiap individu mampu menumbuhkan integritas, loyalitas, dan konsistensi dalam menjalankan tugas mereka.

Petrus menjelaskan bahwa kompetensi tidak hanya mencakup kemampuan teknis, tetapi juga keterampilan, kualitas, dan sikap positif. Ia merujuk pada berbagai peraturan hukum, seperti Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, serta beberapa Peraturan Menteri Pendidikan Nasional yang mengatur standar kompetensi bagi tenaga pendidik dan kependidikan, termasuk guru, tenaga administrasi, keuangan, dan pustakawan.
Kompetensi SDM, baik bagi guru maupun tenaga kependidikan, terbagi menjadi beberapa aspek penting, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional bagi guru, serta kompetensi etos kerja, penguasaan bidang pekerjaan, dan pendokumentasian bagi tenaga administrasi dan keuangan. Semua ini menjadi landasan untuk menciptakan tenaga kependidikan yang berdaya saing dan mampu menghadapi tantangan pendidikan abad 21.

Lebih jauh, Petrus juga menggarisbawahi pentingnya ciri-ciri pendidik abad 21, seperti kemampuan berkolaborasi, keberanian mengambil risiko, menjadi pembelajar sepanjang hayat, serta kemampuan berkomunikasi yang baik. Seorang pendidik harus memiliki visi yang terukur, mampu menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan role model bagi siswa dan komunitas. Selain itu, kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar juga menjadi kunci bagi pengembangan kelembagaan yayasan.
Namun, tidak semua tenaga kependidikan memiliki kualitas tersebut.

Petrus memaparkan berbagai potensi sumber masalah yang bisa muncul di lingkungan kerja, seperti kurangnya tanggung jawab, sikap negatif, ketidakmampuan mengikuti prosedur, serta rendahnya motivasi dan komitmen. Selain itu, ia juga mengidentifikasi tipe pekerja yang dapat menghambat perkembangan organisasi, seperti pekerja supresif yang cenderung tertutup dan sulit mengungkapkan masalah, serta pekerja destruktif yang memiliki sikap negatif dan resistensi terhadap perubahan.

BACA JUGA :  Yayasan Xaverius Tanjungkarang dan Yayasan Sosial Pelita Kasih Lakukan Perjanjian Kerjasama Pelatihan dan Pendampingan Anak Berkebutuhan Khusus

Untuk itu, Petrus menekankan pentingnya penilaian diri secara berkala untuk mengetahui seberapa tinggi nilai diri seseorang, baik sebagai pekerja supresif, destruktif, maupun pekerja efektif abad 21 yang ideal. Dengan manajemen waktu yang baik, kemampuan komunikasi terbuka, kepemimpinan, dan kemampuan menyelesaikan masalah, seorang pekerja dapat meningkatkan kualitas kerjanya dan menjadi lebih proaktif serta adaptif dalam menghadapi berbagai tantangan.

Sebagai penutup, Petrus mengingatkan bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Setiap individu memiliki tanggung jawab untuk memilih jalan yang terbaik bagi dirinya dan komunitasnya. Dengan mindset positif, semangat tinggi, serta kompetensi yang terus diasah, diharapkan seluruh SDM kependidikan Yayasan Xaverius dapat menjadi pilar yang kokoh dalam membangun pendidikan yang berkualitas dan berkarakter, sesuai dengan visi misi yayasan.***

Kontributor Berita : Ign Adi Kurniawan
Editor : F. Joko Winarno