Suasana pintu gerbang masuk Gunung Srandil di Desa Glempangpasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
KRAKATOA.ID, CILACAP – Angin sore berembus pelan di Desa Glempangpasir, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Di sudut kawasan ini, berdiri kokoh sebuah perbukitan yang menyimpan sejuta kisah mistis dan sejarah panjang bernama Gunung Srandil. Area tersebut bukan sekadar gundukan tanah biasa, melainkan sebuah labirin spiritual yang magnetis bagi para pemburu ketenangan batin dari berbagai penjuru Nusantara.
Juru Kunci Gunung Srandil, Mbah Carub, menceritakan kisah unik di balik penamaan bukit sakral tersebut. Sambil membetulkan letak blangkonnya, pria dengan ciri khas rambut panjang terurai ini membuka obrolan dengan Krakatoa.id pada Selasa petang, 21 April 2026.
“Secara harfiah, nama Srandil merupakan singkatan dari kalimat gunung sasarane bedil (gunung sasaran peluru). Alasannya, selama 350 tahun masa penjajahan, para tentara kolonial menggunakan tempat ini sebagai lokasi latihan tembak menggunakan peluru-peluru berukuran besar,” ujar Mbah Carub membuka tabir sejarah masa lalu.
Dari Ladang Peluru Menuju Istana Gaib Terbesar di Tanah Jawa
Meskipun sempat menjadi medan latihan militer, esensi kesakralan perbukitan ini tidak pernah pudar. Bahkan, masyarakat lokal mempercayai wilayah ini sebagai salah satu pusat kekuatan spiritual yang sangat besar. Mbah Carub menegaskan bahwa tempat yang ia jaga merupakan area yang sangat wingit (angker dan suci).
Menurut keyakinannya, bukit ini menjadi lokasi istana gaib terbesar di seluruh Tanah Jawa. Faktor utamanya adalah keberadaan situs pertapaan kuno milik jajaran tokoh pewayangan legendaris, termasuk Eyang Ki Semar.
Pembergeseran Makna: Istilah sasarane bedil (sasaran senapan) kini telah bergeser menjadi filosofi hidup baru bagi para pengunjung.
Mencari Keadilan: Warga masa kini mengartikan Srandil sebagai tempat untuk mencari keadilan (golek adil).
Mencari Rezeki: Para peziarah mengaitkannya dengan upaya mencari isi kendil (isine kendil) atau mengais rezeki demi menyambung hidup.
“Oleh karena itu, orang-orang yang sedang menghadapi masalah pelik dalam hidupnya sering datang ke sini. Baik warga dari tempat jauh maupun dekat, mereka berkumpul untuk melakukan meditasi, berdoa, serta memohon berkah di tempat ini,” lanjut Mbah Carub.
Mbah Carub juru kunci Gunung Srandil Cilacap memakai blangkon sambil menceritakan misteri istana gaib,
Urutan Tujuh Titik Sakral Pertapaan di Gunung Srandil
Saat memasuki area perbukitan, pengunjung akan menemukan rangkaian petilasan yang memiliki garis riwayat tersendiri. Secara urut dan terperinci, tempat ini menyimpan tujuh titik sakral murni, yaitu:
Makam Pertama (Eyang Guru): Komplek pembuka yang merupakan makam dari Eyang Guru, atau Eyang Sukmo Sejati, atau Eyang Sukmo Sejati Kunci Sari Dana Sari.
Situs Kedua (Gusti Agung): Tempat peristirahatan suci milik Gusti Agung Sultan Murahidi.
Titik Ketiga (Nini Dewi Tunjung Sekar Sari): Sosok pendamping atau istri sah dari Eyang Semar yang areanya terletak di bagian bawah sebelah selatan.
Komplek Keempat (Eyang Semar): Situs keramat Eyang Semar atau Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Amung Rogo yang posisinya berada tepat bersebelahan dengan makam Nini Dewi Tunjung Sari.
Petilasan Kelima (Eyang Juragan Dampu Awang): Jejak semadi dari Sampokong atau Sunan Kuning. Tokoh ini merupakan seorang saudagar kaya raya asal Negeri China beragama Islam yang dahulu singgah di sini. Posisinya berada di sebelah utara sisi kanan dan kiri pintu gerbang masuk utama.
Area Keenam (Eyang Langlang Buana): Komplek pemujaan titisan Dewa Wisnu yang memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Pajajaran Jawa Barat. Para peziarah dapat menemukan situs ini di bagian puncak paling tinggi Gunung Srandil.
Situs Ketujuh (Mayang Koro): Titik spiritual terakhir yang mewakili keberadaan tokoh Hanoman.
Menolak Pesugihan, Menawarkan Keikhlasan dan Kedamaian Jiwa
Untuk melakukan ritual di sini, para pengunjung biasanya membawa sejumlah ubarampe atau syarat tradisi. Mbah Carub menyebutkan beberapa syarat tersebut, seperti bunga mawar, dupa, kemenyan, dugan (kelapa hijau), jajanan pasar, hingga buah-buahan segar.
Namun demikian, ia menekankan bahwa syarat fisik tersebut tidak bersifat memaksa. Hal yang paling utama adalah rasa ikhlas dan tingkat kepercayaan yang tinggi dari dalam hati peziarah itu sendiri.
“Kalau memang tidak punya modal, pengunjung cukup memohon langsung secara lisan kepada Tuhan. Di dalam komplek ini, semua orang bebas melakukan wirid, ibadah salat, maupun meditasi sesuai dengan keyakinan masing-masing,” tuturnya.
Di akhir perbincangan, Mbah Carub menegaskan sebuah aturan penting yang berlaku di Gunung Srandil. Secara tegas, ia melarang keras penggunaan tempat ini sebagai lokasi ritual pesugihan hitam yang menyimpang. Pihak pengelola mengarahkan situs ini murni untuk memohon keselamatan serta kedamaian jiwa.
Mengenai keberhasilan doa para peziarah, sang juru kunci memilih untuk bersikap bijak dan rendah hati. Ia mengaku tidak tahu-menahu apakah keinginan para tamu selalu terkabul atau tidak, karena hal itu menjadi urusan pribadi masing-masing dengan Tuhan. Namun yang pasti, mayoritas peziarah mengaku mendapatkan ketenangan batin yang luar biasa setelah pulang dari Gunung Srandil. Efek positif inilah yang membuat mereka tidak pernah kapok untuk terus datang kembali ke bukit sunyi ini.***