Rahmat, Arsitek Replika Burung Garuda yang Bawa RT 8 Rejomulyo Juara 1 Karnaval HUT RI ke-81

KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN – Di balik kemenangan RT 8, Dusun 3, Desa Rejomulyo, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, dalam lomba karnaval HUT RI ke-81 tingkat desa, ada sosok pemuda bernama Rahmat.

Rahmat menjadi salah satu penggerak utama sekaligus arsitek dalam merancang replika burung Garuda yang mengantarkan RT 8 meraih juara satu lomba karnaval HUT RI ke-81 tingkat Desa Rejomulyo.

Bagi Rahmat, kemenangan tersebut bukan hasil kerja seorang diri. Sebaliknya, ia bersama para pemuda RT 8 menyatukan ide, berdiskusi, mencari referensi, hingga menentukan bentuk replika yang akan mereka tampilkan.

Cerita perjuangan itu ia sampaikan saat ditemui Krakatoa.id pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Saat itu, warga RT 8 menggelar perayaan sederhana dengan makan bersama sebagai bentuk syukur atas keberhasilan mereka.

Rahmat Ajak Pemuda RT 8 Satukan Ide

Rahmat mengatakan, proses pembuatan replika burung Garuda bermula dari kekompakan para pemuda RT 8. Mereka terlebih dahulu berkumpul untuk menentukan konsep yang akan mereka tampilkan dalam karnaval.

Setelah itu, mereka berdiskusi dan mencari berbagai referensi gambar. Mereka kemudian memilih konsep yang menurut mereka paling menarik dan memungkinkan untuk diwujudkan.

“Begini mas ya, saat kita merancang kita kekompakan tim. Kita kumpulkan pemuda-pemuda untuk lingkungan sini RT 8. Kita berkomunikasi, persetujuan mana yang mau kita buat, seperti apa yang kita buat,” kata Rahmat.

Menurutnya, proses tersebut membutuhkan komunikasi yang kuat. Sebab, setiap anggota tim memiliki ide masing-masing. Karena itu, mereka memilih membahas seluruh gagasan bersama sebelum menentukan desain akhir.

“Untuk ide kita pilih bersama mana yang terbaik. Kita cari-cari gambar mana yang paling bagus,” ujarnya.

Dengan cara tersebut, Rahmat dan tim tidak hanya mengandalkan satu orang dalam merancang replika. Mereka justru menggabungkan pengalaman, kreativitas, dan masukan dari para pemuda RT 8.

BACA JUGA :  Diskusi Publik Milenial Cawe Cawe : Erick Tohir Sebagai Cawapres Terkuat Penentu Kemenangan Pemilu 2024

Bukan Kali Pertama Rahmat Membuat Replika Karnaval

Menariknya, replika burung Garuda kali ini bukan pengalaman pertama Rahmat dan timnya. Mereka sudah pernah membuat karya serupa pada kegiatan sebelumnya.

“Ini kurang lebihnya sudah dua kali ini mas. Makanya ya Alhamdulillah, ini agak matang daripada yang kemarin-kemarin,” ungkap Rahmat.

Pengalaman tersebut menjadi modal penting bagi mereka. Sebab, Rahmat dan tim sudah mengetahui sejumlah kendala yang biasanya muncul ketika membuat replika untuk kebutuhan karnaval.

Selain itu, pengalaman sebelumnya membuat mereka lebih mudah menentukan bentuk, struktur, hingga detail karya. Alhasil, mereka dapat mengembangkan replika burung Garuda dengan lebih matang.

Detail Sisik Garuda Jadi Tantangan Tersendiri

Salah satu hal yang menarik perhatian dari replika burung Garuda karya RT 8 terletak pada detailnya. Rahmat menyebut timnya mengerjakan banyak bagian kecil, termasuk detail sisik pada replika.

Namun, mereka tidak mengerjakannya sendirian. Para anggota tim saling membantu sehingga pekerjaan yang cukup rumit tersebut terasa lebih ringan.

“Oh banyak mas ya. Kalau ini detail-detailnya, seperti sisik-sisik itu sangat banyak. Karena Alhamdulillah kekompakan tim ini luar biasa,” jelas Rahmat.

Mereka juga terus berdiskusi ketika menemukan bagian yang membutuhkan perhatian lebih. Dengan demikian, setiap detail dapat mereka pikirkan bersama sebelum masuk ke tahap berikutnya.

“Dengan detail itu kita cari, berpikir bersama. Jadi Alhamdulillah lebih mudah dan hasilnya pun memuaskan,” tambahnya.

Habiskan Anggaran Sekitar Rp2 Juta

Untuk menghasilkan replika burung Garuda tersebut, Rahmat dan tim memilih menggunakan bahan-bahan yang mudah mereka dapatkan dan relatif terjangkau.

Menurut Rahmat, seluruh kebutuhan pembuatan replika menghabiskan anggaran sekitar Rp2 juta.

“Bahannya, ya Alhamdulillah kita pakai bahan-bahan yang terjangkau saja mas. Kalau diukur anggaran kita, kurang lebih sampai Rp2 jutaan,” katanya.

BACA JUGA :  Jalan Sehat “Unila be Strong” Hadiahi Umrah bagi Peserta

Dengan anggaran tersebut, tim berusaha memaksimalkan kreativitas. Mereka tidak sekadar mengejar bentuk yang bagus, tetapi juga ingin membuat replika yang mampu memberikan kesan hidup ketika mengikuti karnaval.

Tantangan Terberat: Membuat Garuda Terlihat Hidup

Bagi Rahmat, tantangan paling sulit justru muncul pada tahap awal. Ia dan tim harus menentukan bagaimana replika tersebut bergerak saat mengikuti karnaval.

Mereka tidak ingin burung Garuda hanya terlihat seperti benda mati. Sebaliknya, mereka ingin menciptakan gerakan yang luwes sehingga replika tersebut terlihat hidup ketika berada di tengah arak-arakan.

“Yang paling sulit kita di awal, kita di perangkaan. Nanti pengarahan ini mau dibuat seperti apa, itu yang paling sulit,” jelasnya.

Rahmat bersama tim kemudian memikirkan gerakan dasar dan pola gerak replika. Mereka mencoba menentukan bagaimana karakter Garuda bisa terlihat melalui gerakan.

“Gerak dasarnya, gerak polanya, ambil dia hidupnya gimana. Itu yang paling sulit untuk menghidupkan aura karnaval itu gimana, biar geraknya dia nggak mati, nggak kaku, biar dapat luwesnya,” lanjut Rahmat.

Karena itu, proses perancangan tidak hanya membutuhkan kemampuan membuat bentuk. Tim juga harus memikirkan bagaimana replika tersebut tampil ketika bergerak di hadapan masyarakat.

Pengalaman dan Kekompakan Antar Pemuda Jadi Kunci

Rahmat menilai pengalaman menjadi salah satu faktor yang membantu tim menyelesaikan berbagai tantangan. Semakin sering mereka membuat replika, semakin banyak pula pelajaran yang mereka dapatkan.

“Alhamdulillah kita dapat inspirasi karena kita sudah sering. Jadi dari situ kita dapat inspirasi-inspirasi seperti itu,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman membuat mereka mulai memahami titik-titik sulit dalam proses pembuatan replika. Mereka juga semakin mengetahui cara mengatasi kendala yang muncul selama pengerjaan.

“Karena sudah berpengalaman mungkin dari kemarin-kemarin. Titik-titik sulit kita tahu, kita tahu celahnya,” kata Rahmat.

BACA JUGA :  Masa Kampanye Pemilu 2024 Dipersingkat Menjadi 90 Hari

Namun demikian, pengalaman saja tidak cukup. Rahmat menegaskan bahwa kekompakan tim juga menjadi faktor penting di balik keberhasilan RT 8 meraih juara satu.

Mereka saling membantu ketika mengerjakan bagian tertentu. Selain itu, mereka juga terus bertukar pikiran untuk mencari solusi ketika menghadapi kendala.

“Lama-kelamaan kita, ya Alhamdulillah, di situlah mas. Nanti kita pengalaman, pengalaman, pengalaman terus. Dan kekompakan tim bersama teman-teman ini membantu, saling membantu,” tuturnya.

Pada akhirnya, perpaduan antara pengalaman, kreativitas, dan kekompakan tersebut menghasilkan replika burung Garuda yang mampu mencuri perhatian dalam karnaval HUT RI ke-81 tingkat Desa Rejomulyo.

Bagi Rahmat, kemenangan ini menjadi bukti bahwa ketika para pemuda mau berkumpul, berdiskusi, dan bekerja bersama, mereka mampu menghasilkan karya yang membanggakan bagi lingkungan.

Replika burung Garuda itu pun akhirnya bukan sekadar karya karnaval. Lebih dari itu, karya tersebut menjadi simbol kekompakan warga RT 8 Rejomulyo yang berhasil membawa mereka meraih juara satu karnaval HUT RI ke-81.***