KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Tiga siswa SD Fransiskus 2 Bandar Lampung berhasil mengharumkan nama sekolah setelah meraih Juara 1 Dancow Indonesia Cerdas Season 2 tingkat nasional.
Ketiganya adalah Bagas Arka Saksono, Jeselyne Charissa Abuyamin, dan Nicholas Onggarahardja. Ketiga siswa kelas 6 tersebut sukses melewati persaingan dalam kompetisi yang menguji pengetahuan, kecepatan berpikir, kerja sama, sekaligus ketahanan mental.
Bagi Bagas, Jeselyne, dan Nicholas, kemenangan itu tidak datang secara instan. Mereka menjalani persiapan bersama guru dengan cara yang sederhana, tetapi rutin: belajar, bermain kuis, dan berlatih menjawab pertanyaan dengan cepat.
Belajar Sambil Bermain Jadi Kunci
Bagas Arka Saksono mengatakan persiapan menghadapi Dancow Indonesia Cerdas Season 2 berlangsung melalui latihan tanya jawab bersama guru.
“Persiapannya itu belajar, tanya jawab sama guru. Sebelum lomba-lomba itu, tanya jawab tentang cerdas cermat. Kalau misalnya ada cerdas cermat, ada game-game gitu, gamenya dipelajarin,” ujar Bagas saat ditemui Krakatoa.id, Selasa (18/8/2026).
Menurut Bagas, latihan tersebut membantu dirinya memahami pola pertanyaan sekaligus membiasakan diri menghadapi suasana kompetisi.
Namun, perlombaan tingkat nasional tetap memberikan tantangan tersendiri.
Bagas mengaku beberapa permainan dalam kompetisi membuat peserta harus cepat beradaptasi.
“Tantangan waktu lomba yang membuat susah itu alur gamenya. Alur gamenya itu kadang-kadang aneh, kadang-kadang mudah, kadang-kadang pokoknya bikin stres gitu gamenya,” kata Bagas.
Meski menghadapi tekanan, ia dan kedua rekannya mampu melewati setiap tantangan hingga akhirnya membawa pulang gelar juara pertama.
Jeselyne: Jangan Mudah Menyerah
Jeselyne Charissa Abuyamin juga mengungkapkan pola latihan yang mereka jalani sebelum kompetisi.
“Sebelum kita lomba, kita itu kayak belajar. Kita kayak bermain-main gitu sama guru, sambil tanya jawab,” ujar Jeselyne.
Cara tersebut membuat proses persiapan terasa lebih menyenangkan. Mereka tidak hanya menghafalkan materi, tetapi juga membiasakan diri menjawab pertanyaan dalam situasi seperti perlombaan.
Jeselyne mengakui permainan dalam kompetisi terkadang membuat mereka kebingungan.
“Kadang itu gamenya kayak nggak jelas gitu. Jadi walaupun kadang bisa mudah gamenya, jadi kita bertiga itu kayak ngerti gamenya. Tapi juga kadang itu gamenya susah, jadi kita nggak ngerti,” tuturnya.
Pengalaman tersebut justru mengajarkan Jeselyne pentingnya ketenangan dan kerja sama.
Karena itu, ia memiliki pesan untuk siswa lain yang ingin mengikuti kompetisi.
“Rajin belajar, tidak mudah menyerah. Terus agar kita jadi inspirasi, jadi kalian harus lebih banyak belajar dan menjadi percaya diri, agar kalian bisa menjadi juara,” katanya.
Nicholas Ungkap Tantangan Mengikuti Aturan Permainan
Sementara itu, Nicholas Onggarahardja atau Niko mengatakan persiapan juga berlangsung di rumah dan sekolah.
“Kalau aku belajar di rumah dan juga belajar di sekolah dengan guru, ada kayak lomba cerdas cermatnya gitu, cepat-cepat pencet bel,” ujar Nicholas.
Latihan cepat menjawab pertanyaan menjadi salah satu cara mereka membangun refleks saat menghadapi kompetisi.
Akan tetapi, Nicholas menilai tantangan terbesar bukan selalu terletak pada pertanyaan.
“Saya setuju dengan teman-temanku, gamenya itu sangat ribet. Dan walaupun pertanyaannya mudah, susahnya itu mengikuti peraturannya,” kata Nicholas.
Ia bahkan menceritakan salah satu kejadian yang dialaminya ketika pertandingan berlangsung.
“Seperti waktu telo, saya mengarahkan Jeselyne untuk taruh, saya dimarahin sama host-nya,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran bagi Nicholas bahwa peserta tidak hanya harus menguasai materi. Mereka juga harus memahami aturan permainan dan menjaga fokus selama kompetisi.
Tiga Siswa, Satu Tim, Satu Target
Keberhasilan Bagas, Jeselyne, dan Nicholas menunjukkan pentingnya kerja sama dalam kompetisi beregu.
Ketiganya harus saling memahami kemampuan masing-masing. Mereka juga perlu mengambil keputusan dengan cepat ketika menghadapi pertanyaan dan permainan yang berubah-ubah.
Selain pengetahuan, mental menjadi faktor penting dalam menghadapi tekanan kompetisi tingkat nasional.
Nicholas pun mengingatkan siswa lain agar mempersiapkan diri secara menyeluruh.
“Latihlah kekuatan mental, emosional, fisik, dan kecerdasanmu, dan jangan bermales-males atau itu kalian bisa saja tidak lulus,” pesannya.
Juara Nasional Jadi Bukti Kerja Keras Siswa SD Fransiskus 2
Prestasi Juara 1 Dancow Indonesia Cerdas Season 2 tingkat nasional menjadi pencapaian membanggakan bagi SD Fransiskus 2 Bandar Lampung.
Bagas, Jeselyne, dan Nicholas membuktikan bahwa siswa sekolah dasar juga mampu bersaing di tingkat nasional ketika mereka memiliki persiapan, keberanian, dan kerja sama yang kuat.
Menariknya, ketiganya tidak menggambarkan persiapan sebagai proses yang penuh tekanan. Mereka belajar bersama guru sambil bermain kuis dan membangun kebiasaan menjawab pertanyaan secara cepat.
Dari pengalaman tersebut, mereka mendapatkan pelajaran yang lebih besar daripada sekadar memenangkan perlombaan.
Belajar, tidak mudah menyerah, percaya diri, memahami aturan, serta menjaga mental menjadi bekal tiga siswa SD Fransiskus 2 Bandar Lampung hingga akhirnya berdiri sebagai juara nasional.***






