KRAKATOA.ID, LAMPUNG UTARA – Sebuah garasi mobil pernah menjadi tempat warga Kotabumi mendapatkan pelayanan kesehatan. Ruangan sederhana itu menjadi bagian awal perjalanan Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi.
Pada 1966, Maria Regina belum berbentuk rumah sakit seperti sekarang. Pelayanan kesehatan saat itu berlangsung dengan fasilitas terbatas.
Rumah bersalin dan poliklinik menggunakan garasi mobil. Sementara itu, ruang makan anak-anak asrama berfungsi sebagai ruang perawatan pasien.
Keterbatasan fasilitas tidak menghentikan pelayanan. Para suster tetap melayani warga yang membutuhkan pertolongan kesehatan.
Dari tempat sederhana tersebut, Maria Regina terus berkembang. Perjalanan panjang itu kemudian mengubah statusnya menjadi rumah sakit di Kabupaten Lampung Utara.
Berawal dari Kebutuhan Warga Kotabumi
Cerita Maria Regina bermula dari kebutuhan masyarakat Kotabumi pada era 1960-an.
Pada 1964, Gereja Katolik Lampung mengutus Pastor Thomas Borst, SCJ, untuk melayani umat Katolik di Kotabumi.
Dalam menjalankan tugasnya, Pastor Thomas melihat persoalan masyarakat secara lebih luas. Kesehatan menjadi salah satu kebutuhan yang membutuhkan perhatian.
Ia kemudian mengajak Suster Fransiskanes dari Santo Georgius Martir Pringsewu untuk membuka pelayanan kesehatan.
Ajakan tersebut mendapat sambutan. Pada 21 November 1966, tiga suster berangkat ke Kotabumi untuk memulai pelayanan kesehatan.
Mereka memilih Pastoran Katolik Kabar Gembira Kotabumi sebagai tempat awal pelayanan.
Fasilitas yang tersedia saat itu sangat terbatas. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat para suster untuk melayani masyarakat.
Garasi Mobil Jadi Ruang Pelayanan
Kisah paling menarik dari fase awal Maria Regina terletak pada tempat pelayanannya.
Garasi mobil tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat kendaraan. Para suster mengubahnya menjadi ruang rumah bersalin dan poliklinik.
Keterbatasan peralatan juga membuat mereka harus menggunakan fasilitas secara multifungsi.
Kotak obat, misalnya, sekaligus menjadi lemari obat dan meja tulis.
Ruang makan anak-anak asrama pun berubah fungsi menjadi ruang opname pasien.
Situasi tersebut menggambarkan bagaimana pelayanan kesehatan Maria Regina tumbuh dari kesederhanaan.
Pada 15 Desember 1966, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kotabumi M. Syarif membuka pelayanan kesehatan tersebut secara resmi.
Dua Tahun Kemudian Punya Gedung Sendiri
Pelayanan Maria Regina terus berkembang setelah pembukaan resmi.
Pembangunan gedung baru kemudian menghadirkan fasilitas yang lebih layak bagi masyarakat.
Pada 13 Mei 1968, Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kotabumi A. Rivai meresmikan gedung Rumah Bersalin Maria Regina yang baru.
Para suster tidak hanya melayani pasien yang datang ke rumah bersalin.
Mereka juga mendatangi kawasan transmigrasi dan desa-desa. Pelayanan tersebut menyasar masyarakat yang membutuhkan akses kesehatan.
Langkah itu memperluas jangkauan pelayanan Maria Regina di wilayah Kotabumi dan sekitarnya.
Tuntutan Masyarakat Mendorong Perubahan
Perjalanan Maria Regina tidak berhenti sebagai rumah bersalin.
Kebutuhan masyarakat terus berkembang. Regulasi pemerintah mengenai fasilitas kesehatan juga mengalami perubahan.
Kondisi tersebut mendorong Yayasan Santo Georgius mengembangkan Maria Regina.
Pada 2011, yayasan mengajukan peningkatan status Rumah Bersalin dan Balai Pengobatan Maria Regina menjadi Klinik Utama Rawat Inap.
Setahun kemudian, status tersebut berubah.
Pada 20 Februari 2012, Maria Regina resmi menjalankan status sebagai Klinik Utama Rawat Inap.
Saat itu, fasilitas tersebut melayani pasien rawat jalan, IGD, dan rawat inap. Kapasitas awalnya mencapai 10 tempat tidur.
Dari Klinik Menjadi Rumah Sakit
Kebutuhan layanan kesehatan kembali mendorong Maria Regina naik kelas.
Dinas Kesehatan Lampung Utara mendorong Klinik Utama Rawat Inap Maria Regina meningkatkan status menjadi rumah sakit.
Proses tersebut tidak berlangsung singkat.
Pengelola harus menambah sumber daya manusia. Mereka juga perlu memperbaiki sarana dan prasarana.
Sejak Januari 2014, Yayasan Santo Georgius mulai memproses peningkatan status Maria Regina menjadi rumah sakit.
Pemerintah kemudian memberikan dukungan melalui proses perizinan dan pembangunan fasilitas.
Pada 2016, Maria Regina mengajukan izin operasional sementara sebagai rumah sakit.
Dinas Kesehatan Lampung Utara kemudian melakukan visitasi untuk melihat kesiapan fasilitas tersebut.
2017 Jadi Tonggak Penting
Perjalanan panjang itu mencapai titik penting pada 2017.
Pada 11 April 2017, pemerintah memberikan izin operasional sementara Rumah Sakit Maria Regina.
Sebulan kemudian, tepatnya 16 Mei 2017, Bupati Lampung Utara H. Agung Ilmu Mangkunegara meresmikan Rumah Sakit Maria Regina.
Peresmian tersebut menandai perubahan besar dalam perjalanan layanan kesehatan Maria Regina.
Dari pelayanan sederhana di garasi mobil, Maria Regina akhirnya berdiri sebagai rumah sakit.
Menariknya, Bupati Agung Ilmu Mangkunegara juga memiliki hubungan personal dengan fasilitas tersebut. Ia disebut lahir di Maria Regina ketika tempat itu masih berstatus rumah bersalin dan balai pengobatan.
Kini Layani Pasien dengan Beragam Fasilitas
Perubahan status membawa perkembangan fasilitas.
Rumah Sakit Maria Regina kemudian menyediakan layanan dengan kapasitas 50 tempat tidur.
Layanannya mencakup IGD 24 jam, rawat jalan, dan rawat inap.
Rumah sakit juga memiliki sejumlah poliklinik spesialis. Di antaranya penyakit dalam, anak, bedah, serta kebidanan dan kandungan.
Selain itu, tersedia layanan gigi dan konsultasi gizi.
Untuk mendukung kebutuhan pasien, rumah sakit menyediakan kamar operasi, laboratorium, ECG, USG, farmasi 24 jam, serta pelayanan gizi.
Maria Regina juga menyediakan layanan pastoral care sebagai bagian dari pelayanan rumah sakit.
Bukan Sekadar Perubahan Nama
Perjalanan RS Maria Regina Kotabumi menunjukkan perubahan yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian status.
Pada awalnya, masyarakat mendapatkan pelayanan di ruang yang sangat sederhana.
Kini, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan melalui fasilitas rumah sakit dengan berbagai layanan medis.
Perubahan tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Dari garasi mobil pada 1966 hingga rumah sakit pada 2017, Maria Regina membangun sejarah panjang pelayanan kesehatan di Kotabumi.
Jejak tersebut menjadi bagian dari perjalanan layanan kesehatan di Lampung Utara.
Lebih dari lima dekade setelah pelayanan pertama dimulai, kisah Maria Regina tetap menyimpan satu pesan penting: keterbatasan fasilitas tidak selalu menjadi penghalang untuk memulai sebuah pelayanan.
Dari ruang sederhana itulah perjalanan panjang Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi bermula.***
Sumber : Rumah Sakit Maria Regina Kotabumi






