KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Provinsi Lampung kini berada di ambang sejarah besar untuk menyandang status bebas malaria secara total. Meskipun demikian, ambisi tersebut masih tertahan oleh satu wilayah saja, yakni Kabupaten Pesawaran.
Terkait hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung langsung tancap gas menggelar Rapat Koordinasi Lintas Sektor Akselerasi Eliminasi Malaria Provinsi Lampung Tahun 2026 di Ruang Sakai Sambayan, Kantor Gubernur Lampung, Rabu (1/7/2026).
Selain itu, dari total 15 kabupaten/kota yang tersebar di Lampung, sebanyak 14 daerah sebenarnya sudah sukses mengeliminasi malaria dan mengantongi sertifikat resmi. Oleh karena itu, Kabupaten Pesawaran kini memikul beban berat sebagai penentu akhir rapor hijau kesehatan di tingkat provinsi.
“Kita tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi mencari solusi bersama. Sebab, jika Pesawaran berhasil mencapai eliminasi, maka Provinsi Lampung juga akan tuntas secara otomatis tanpa perlu menunggu target nasional tahun 2030,” tegas Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela.
Membedah Fluktuasi Kasus dan Tantangan Cuaca
Berdasarkan data terbaru dari Dinas Kesehatan, grafik penularan malaria di Lampung sepanjang Januari hingga Juni 2026 memang masih bergerak fluktuatif.
Sebagai contoh, petugas mencatat 292 kasus pada Januari, lalu angka itu sempat turun menjadi 173 kasus pada Februari. Namun, grafik kembali merangkak naik pada Maret dan April sebelum akhirnya melandai pada periode Mei-Juni.
Menurut Jihan, kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi pemicu utama fluktuasi ini. Sebab, perubahan iklim sangat memengaruhi perkembangbiakan nyamuk Anopheles sebagai penular utama penyakit tersebut.
Sukajaya Lempasing Jadi Kantong Utama Penularan
Di samping itu, Jihan mengungkapkan bahwa hasil pemetaan tim medis menunjuk satu titik krusial. Wilayah Sukajaya Lempasing di Kabupaten Pesawaran ternyata masih menjadi kantong utama penularan malaria di Lampung.
Meskipun angka Annual Parasite Incidence (API) di Pesawaran sudah bagus karena berada di bawah satu kasus per 1.000 penduduk, namun daerah ini masih tersandung indikator lain. Slide Positive Rate (SPR) di wilayah tersebut masih menyentuh 5,2 persen, atau sedikit di atas ambang batas aman 5 persen.
Bukan hanya itu, Pesawaran juga belum memenuhi syarat mutlak bebas penularan lokal (indigenous) selama tiga tahun berturut-turut. Akibatnya, Kementerian Kesehatan belum bisa menerbitkan sertifikat bebas malaria untuk daerah ini.
Bukan Cuma Tugas Dokter, Sektor Pariwisata Harus Ikut Bergerak
Oleh karena itu, Jihan menegaskan bahwa perang melawan malaria tidak bisa hanya bertumpu pada pundak Dinas Kesehatan atau puskesmas saja. Sebaliknya, percepatan ini menuntut keterlibatan aktif dari sektor non-kesehatan.
Oleh sebab itu, Pemprov Lampung sengaja menyeret Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Penanaman Modal (DPMPTSP), hingga Dinas Pariwisata ke dalam pusaran kerja sama ini.
Sebab, kawasan pesisir Pesawaran merupakan destinasi wisata sekaligus area tambak yang membutuhkan pengelolaan lingkungan yang bersih agar tidak menjadi sarang nyamuk.
“Kita membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang nyata. Semua harus bergerak bersama mulai dari perencanaan anggaran, pembersihan lingkungan, hingga edukasi ke masyarakat,” katanya.
Strategi Kepung Wilayah dan Pasokan Logistik Aman
Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Lampung memastikan pasokan logistik seperti obat antimalaria, alat tes cepat (RDT), hingga cairan pembunuh jentik nyamuk (larvasida) dalam posisi yang sangat aman. Selanjutnya, Pemprov juga tengah mengusulkan bantuan kelambu berinsektisida massal ke Kementerian Kesehatan untuk akhir tahun nanti.
Sementara itu, Wakil Bupati Pesawaran, Antonius Muhammad Ali, menyambut baik langkah taktis provinsi. Pihaknya kini telah memetakan wilayahnya menjadi zona reseptif (risiko) dan non-reseptif guna mempermudah penanganan.
Kesimpulannya, pemerintah akan mengepung area-area fokus aktif dengan menugaskan puskesmas sebagai garda terdepan penemu kasus, sementara Dinas Kesehatan akan mengontrol penuh kebijakan dan intervensi lingkungan di lapangan.***






