Dokter RS Abdul Moeloek Ungkap Bahaya Abu Vulkanis, Bisa Masuk hingga Paru-paru

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Abu vulkanis bukan sekadar debu biasa. Partikel halus dari letusan gunung api dapat masuk ke saluran pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, bahkan memicu gangguan kesehatan jika seseorang terus-menerus terpapar.

Direktur RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, dr. Imam Ghozali, Sp.An., KMN., M.Kes, menjelaskan kandungan abu vulkanis serta berbagai risiko kesehatan yang perlu masyarakat waspadai. Ia menyampaikan penjelasan tersebut saat diwawancarai Krakatoa.id di Bandar Lampung, Rabu (9/9/2026).

Menurut Imam, abu vulkanis merupakan material halus hasil letusan gunung api. Kandungannya bergantung pada jenis magma gunung api, tetapi secara umum abu mengandung mineral, gas, logam berat dan partikel berukuran sangat kecil.

Abu Vulkanis Mengandung Partikel yang Bisa Masuk Paru-paru

Imam menjelaskan komponen mineral menjadi salah satu kandungan utama abu vulkanis. Material tersebut antara lain silikat berupa SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, Na2O dan K2O.

Abu vulkanis juga dapat membawa silika kristalin atau quartz. Paparan silika dalam jangka panjang perlu mendapat perhatian karena partikel tersebut dapat memengaruhi kesehatan paru-paru.

Selain mineral, abu vulkanis dapat membawa gas seperti sulfur dioksida (SO2), hidrogen sulfida (H2S), hidrogen fluorida (HF) dan hidroklorida (HCl).

Material vulkanis juga dapat mengandung sejumlah logam dan unsur lain, seperti besi, mangan, timbal, arsen, kadmium, merkuri dan fluorida.

Ukuran partikel menjadi faktor penting dalam menentukan risiko. Abu vulkanis dapat mengandung partikel PM10 dan PM2.5 yang sangat kecil sehingga mampu masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Sifat partikel yang tajam dan abrasif juga dapat mengiritasi atau melukai mata, kulit dan saluran pernapasan.

Dampak Abu Vulkanis Bisa Terasa Sejak Paparan Pertama

Paparan abu vulkanis dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dalam jangka pendek. Pada saluran pernapasan, seseorang dapat mengalami batuk, sesak napas, iritasi tenggorokan hingga kekambuhan asma.

BACA JUGA :  Mitigasi Bencana, Sosialisasi dan Asessment Gedung Kanwil Jabar Bersinergi Dengan BPBD dan Diskar

Paparan juga dapat memicu masalah pada mata. Mata bisa menjadi merah, perih dan mengalami iritasi. Sifat abrasif abu bahkan dapat menyebabkan luka pada kornea jika partikel masuk dan menggesek permukaan mata.

Kulit pun dapat mengalami iritasi, gatal atau ruam, terutama ketika abu bercampur dengan keringat.

Pada hidung dan tenggorokan, paparan abu dapat menimbulkan bersin, hidung meler serta rasa sakit ketika menelan.

Imam juga menjelaskan bahwa kandungan fluorida dalam jumlah tinggi dapat menimbulkan gangguan tertentu. Paparan fluorida yang tinggi dapat memicu mual, muntah dan diare.

Paparan Lama Bisa Ganggu Paru dan Jantung

Risiko kesehatan meningkat ketika seseorang terus terpapar abu vulkanis dalam waktu lama.

Paparan silika kristalin dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan paru kronis seperti silikosis dan penurunan fungsi paru. Kondisinya memiliki kemiripan dengan gangguan yang dapat muncul pada orang yang bekerja lama di lingkungan penuh debu mineral.

Partikel abu berukuran sangat kecil juga dapat memberikan dampak pada sistem kardiovaskular. Partikel halus dapat masuk ke dalam tubuh dan berkontribusi terhadap gangguan pada pembuluh darah serta jantung.

Kandungan logam berat seperti arsen dan timbal juga perlu mendapat perhatian. Paparan berulang dapat menyebabkan unsur tersebut menumpuk di dalam tubuh dan menimbulkan masalah kesehatan.

Paparan fluorida dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi gigi dan tulang, terutama jika sumber air terus-menerus terkontaminasi abu vulkanis.

Anak-anak dan Penderita Asma Lebih Rentan

Tidak semua orang menghadapi risiko yang sama ketika abu vulkanis menyebar di udara.

Anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita asma dan penyakit jantung maupun paru perlu mendapat perhatian lebih. Kelompok tersebut dapat mengalami gangguan lebih cepat ketika menghirup udara yang mengandung abu vulkanis.

BACA JUGA :  Mahasiswa Penerima KIP Jadi Sorotan di Peringatan Harkitnas Unila: Simbol Kebangkitan Generasi Baru

Karena itu, masyarakat perlu membatasi paparan langsung dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika hujan abu terjadi.

Dokter Sarankan Gunakan Masker N95 atau KN95

Imam mengingatkan masyarakat agar menggunakan perlindungan yang sesuai ketika menghadapi hujan abu vulkanis.

Masker N95 atau KN95 dapat membantu menyaring partikel halus. Sementara itu, masker kain biasa tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel abu berukuran kecil.

Masyarakat juga sebaiknya menggunakan kacamata atau goggles untuk melindungi mata. Baju lengan panjang dan topi dapat mengurangi kontak langsung abu dengan kulit dan rambut.

Di dalam rumah, warga perlu menutup rapat pintu dan jendela agar abu tidak masuk. Masyarakat juga dapat membasahi abu dengan air untuk mengurangi debu yang beterbangan.

Untuk kebutuhan air minum, masyarakat sebaiknya menggunakan air kemasan jika memiliki kekhawatiran terhadap kontaminasi. Tandon atau tempat penampungan air juga perlu ditutup rapat agar abu tidak masuk.

Saat berkendara, pengemudi perlu memperhatikan sistem pendingin udara kendaraan. Penggunaan AC dengan mengambil udara dari luar dapat membawa partikel abu masuk ke kabin.

Abu Kering Mudah Terhirup, Abu Basah Bisa Membebani Atap

Imam mengingatkan masyarakat agar memahami karakter abu vulkanis dalam kondisi kering dan basah.

Abu kering mudah beterbangan dan terhirup, sehingga masyarakat perlu menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus.

Sebaliknya, abu yang terkena air menjadi lebih berat. Akumulasi abu basah di atas atap dapat menambah beban konstruksi dan meningkatkan risiko kerusakan hingga keruntuhan pada bangunan yang tidak mampu menahan beban tersebut.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi atap rumah ketika hujan abu berlangsung dan membersihkan endapan abu dengan cara yang aman.

BACA JUGA :  Rental Mobil Mudik Bandung Dalam & Luar Kota

Belum Ada Kasus Dampak Abu Vulkanis di RS Abdul Moeloek

Di sisi lain, Imam menyampaikan bahwa RSUD Dr. H. Abdul Moeloek belum menerima kasus yang secara khusus berkaitan dengan dampak abu vulkanis hingga Rabu (9/9/2026).

Meski begitu, masyarakat tetap perlu melakukan langkah pencegahan, terutama jika aktivitas gunung api menimbulkan hujan abu di wilayah tempat tinggal.

Penggunaan masker yang tepat, perlindungan mata dan kulit, menjaga kebersihan lingkungan serta memastikan sumber air tetap terlindungi menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan.

Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan medis jika mengalami sesak napas berat, gangguan pernapasan yang memburuk, iritasi mata berat atau keluhan lain setelah terpapar abu vulkanis.***