SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung, Sekolah Katolik yang Rangkul Siswa Lintas Agama

BANDAR LAMPUNG – Identitas Katolik tidak menghalangi SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung untuk menjadi ruang pendidikan bagi siswa dari berbagai agama.

Sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Dwi Bakti itu menerima siswa dari berbagai latar belakang. Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Kristen, hingga Katolik belajar dan tumbuh bersama dalam satu lingkungan sekolah.

Kepala SD Fransiskus 2 Rawalaut Bandar Lampung, Sr. M. Paulis FSGM, M.Pd, mengatakan sekolah tetap mempertahankan nilai-nilai khas Katolik sekaligus membuka ruang bagi keberagaman.

“Sekolah kami adalah ciri khasnya menanamkan nilai-nilai sekolah ciri khas Katolik. Sekolah kami adalah sekolah Fransiskus yang di bawah naungan Yayasan Dwi Bakti dengan ciri khas Katolik, namun kami tetap universal,” kata Sr. M. Paulis kepada Krakatoa.id, Selasa (18/8/2026).

Menurutnya, sekolah tidak membatasi peserta didik berdasarkan agama, latar belakang keluarga, maupun kondisi ekonomi.

“Yang sekolah di Fransiskus tidak hanya siswa-siswi yang beragama Katolik, namun juga semua agama ada di sini. Baik Islam, Buddha, Hindu, Konghucu, Kristen, Katolik di sini ada,” ujarnya.

Lebih dari 50 Persen Siswa Non-Katolik

Keberagaman agama terlihat jelas dalam komposisi siswa SD Fransiskus 2 Rawalaut. Sr. M. Paulis menyebut lebih dari separuh peserta didiknya berasal dari kalangan non-Katolik.

“Kalau presentasinya, lebih dari 50 persen itu non-Katolik. Terbagi menjadi ada yang Buddha, Hindu, Muslim, Konghucu, Kristen. Kalau yang Katolik sendiri, ya 50 persennya,” katanya.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa sekolah Katolik itu juga menjadi pilihan keluarga dari berbagai agama.

“Meskipun sekolah Katolik, tapi kami secara universal, mendidik anak-anak secara universal,” ujar Sr. M. Paulis.

Sekolah tidak hanya mengejar kemampuan akademik siswa. Para guru juga mendampingi anak untuk mengembangkan karakter, bakat, dan talenta masing-masing.

BACA JUGA :  Satres Narkoba Polresta Bandar Lampung Tangkap 15 Pengedar dan 1 Bandar Narkoba

“Untuk belajar bersama, tujuannya adalah belajar, menimba ilmu, dan juga karakter yang unggul. Jadi apapun agamanya, tetap kami dampingi, kami didik, tetap sesuai dengan bakat dan talenta anak-anak kita,” tuturnya.

SD Fransiskus 2 Rawalaut Punya Bina Iman Lintas Agama

SD Fransiskus 2 Rawalaut juga memberikan ruang bagi siswa untuk memperdalam keyakinan masing-masing.

Setiap Jumat kedua setiap bulan, sekolah menggelar kegiatan bina iman sesuai agama siswa. Sekolah menghadirkan tokoh atau pembimbing dari agama masing-masing untuk mendampingi anak-anak.

“Setiap bulan, dalam Jumat yang ke-2, itu kami memiliki bina iman anak-anak sesuai dengan keyakinan masing-masing,” kata Sr. M. Paulis.

Ia mencontohkan siswa Katolik mengikuti bina iman Katolik, siswa Kristen mengikuti pembinaan Kristen, sedangkan siswa Muslim mengikuti bina iman Islam bersama pembimbing yang sesuai.

“Misalnya nanti yang Katolik, bina iman Katolik, Kristen, bina iman Kristen, Muslim, bina iman Muslim dengan mendatangkan tokoh-tokoh sesuai agamanya,” jelasnya.

Menurut Sr. M. Paulis, pola tersebut menjadi salah satu keunggulan SD Fransiskus 2 Rawalaut dalam membangun pendidikan yang menghargai keberagaman.

Siswa Belajar dan Bermain Tanpa Membeda-bedakan Agama

Nilai toleransi tidak hanya muncul dalam kegiatan keagamaan. Para siswa juga menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari di sekolah.

Mereka belajar, bermain, dan mengikuti berbagai kegiatan bersama tanpa mempermasalahkan perbedaan agama.

“Secara konkret, kebersamaan anak-anak tidak membedakan agama. Mereka tetap belajar, bermain, itu tidak sama agamanya apa-apa, tidak. Mereka tidak ada perbedaan, tidak membandingkan, tetapi tetap satu,” ujar Sr. M. Paulis.

Sekolah terus menanamkan kebiasaan hidup rukun, saling menghormati, dan menghargai perbedaan sejak anak-anak duduk di bangku sekolah dasar.

“Guyub, rukun, dan toleransi. Saling menghargai,” katanya.

Rayakan Hari Besar Keagamaan Bersama

Semangat keberagaman juga terlihat saat sekolah menyambut hari besar keagamaan.

BACA JUGA :  Tingkatkan Penghijauan Kawasan Bakauheni Harbour City, ASDP dan Pemprov Lampung Gelar Penanaman Pohon

Ketika siswa Muslim menjalankan ibadah puasa Ramadan, misalnya, sekolah ikut membangun suasana kebersamaan melalui buka puasa bersama, salat, dan pengajian. Setelah itu, sekolah juga mengajak seluruh siswa merayakan Idulfitri bersama.

“Misalnya yang Muslim, itu puasa, kami juga buka puasa bersama, lalu nanti sholat bersama, lalu ada pengajian, lalu nanti Idul Fitri ya kita rayakan bersama di sekolah,” ujar Sr. M. Paulis.

Sekolah juga mengajak seluruh komunitas pendidikan untuk merayakan Natal dan Paskah bersama siswa Kristen dan Katolik. Begitu pula ketika siswa Buddha, Hindu, dan Konghucu memperingati hari besar agama masing-masing.

“Begitu juga misalnya yang Kristen, Katolik, Natal, Paskah, yang Buddha, yang Hindu, yang Konghucu, itu kami rayakan di sekolah bersama-sama dan saling mengucapkan,” katanya.

Pendidikan Toleransi Dimulai dari Sekolah

SD Fransiskus 2 Rawalaut menjadikan keberagaman sebagai bagian dari pendidikan karakter. Sekolah mempertemukan siswa dari berbagai agama dalam kegiatan belajar, bermain, hingga perayaan hari besar keagamaan.

Di tengah perbedaan agama dan latar belakang keluarga, sekolah mengajak anak-anak membangun kebiasaan saling menghormati dan menghargai.

Identitas Katolik tetap menjadi ciri khas SD Fransiskus 2 Rawalaut. Namun, sekolah juga membuka ruang bagi siswa dari berbagai keyakinan untuk belajar bersama, mengembangkan bakat, dan membangun karakter dalam lingkungan yang menjunjung toleransi.***