KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Fakultas Teknik Universitas Lampung (Unila) menggelar Seminar Nasional SINTA dan SENAPATI 2026 di Fave+ Hotel Lampung, Bandar Lampung, Senin (26/10/2026). Melalui kegiatan ini, Unila mendorong kolaborasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung pembangunan Lampung.
Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) serta Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (SENAPATI) mengangkat tema “Sinergi untuk Lampung Emas: Kolaborasi Multi-Pihak dalam Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif”. Sejalan dengan tema tersebut, seminar ini mengajak berbagai pihak memperkuat kerja sama demi pembangunan yang berkelanjutan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, lebih dari 100 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka berasal dari kalangan peneliti dan akademisi yang ingin mempresentasikan karya ilmiah. Selain itu, para peserta juga memanfaatkan forum ini untuk memperluas jaringan dan menjajaki peluang kolaborasi.
Seksi Acara SINTA-SENAPATI 2026, Ir. Trisya Septiana, S.T., M.T., IPM, menjelaskan bahwa Fakultas Teknik Unila rutin menggelar seminar tersebut setiap tahun. Menurutnya, kegiatan ini menjadi sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian, hasil karya akademisi dapat menjangkau khalayak yang lebih luas.
“Ini merupakan kegiatan tahunan Fakultas Teknik Universitas Lampung. Kami menyelenggarakan seminar nasional penelitian dan seminar nasional pengabdian kepada masyarakat melalui SINTA-SENAPATI. Tahun ini, lebih dari 100 peserta datang atau mengirimkan karya,” kata Trisya kepada Krakatoa.id.
Trisya menyampaikan keterangan tersebut mewakili Ketua Panitia, Dr. Ir. Martinus, S.T., M.Sc. Selain menjadi agenda tahunan, seminar ini juga mempertemukan peneliti dari berbagai perguruan tinggi.
Empat Pembicara Bahas Kolaborasi Pembangunan
Untuk memperluas perspektif peserta, SINTA-SENAPATI 2026 menghadirkan empat pembicara utama. Mereka berasal dari unsur pemerintah, legislatif, dunia inovasi, dan akademisi internasional.
Para pembicara tersebut meliputi Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Dr. Insinyur Marindo, Dewi Mayang Suri Djausal dari Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Bandar Lampung, pendiri Dilans Indonesia, serta Christina Gracia dari sebuah universitas di Filipina.
Melalui kehadiran para pembicara tersebut, peserta dapat memperoleh perspektif yang beragam mengenai pembangunan berkelanjutan. Selain membahas kebijakan dan pembangunan daerah, forum ini juga menyoroti peran inovasi serta penelitian dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Lebih lanjut, pertemuan lintas sektor ini membuka peluang bagi peneliti untuk menghubungkan hasil riset dengan persoalan nyata. Oleh karena itu, kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku inovasi menjadi penting untuk menghasilkan solusi yang berdampak luas.
Sepuluh Ruang Paralel Tampung Presentasi Ilmiah
Panitia memulai rangkaian acara pada pukul 08.00 WIB melalui sesi keynote speaker. Dalam sesi tersebut, keempat pembicara menyampaikan materi sesuai tema utama seminar. Selanjutnya, peserta mengikuti presentasi makalah pada sesi siang.
Untuk mendukung kegiatan tersebut, panitia menyiapkan sepuluh ruang paralel. Setiap ruang menampung sekitar 10 hingga 11 pemakalah. Dengan pembagian ini, panitia dapat mengatur presentasi berdasarkan kelompok kegiatan.
Secara khusus, ruang 1 hingga 5 menampung presentasi SINTA. Sementara itu, ruang 6 hingga 10 melayani presentasi SENAPATI. Dengan begitu, peserta dapat mengikuti sesi sesuai bidang penelitian atau pengabdiannya.
Tak hanya menyediakan presentasi tatap muka, panitia juga memfasilitasi pemakalah melalui Zoom Meeting. Fasilitas ini membantu peserta yang tidak dapat hadir langsung di hotel. Mereka tetap dapat mempresentasikan hasil penelitian dan pengabdiannya secara daring.
Di samping itu, format luring dan daring memperluas kesempatan partisipasi bagi akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Bahkan, skema ini memungkinkan pemakalah tetap terlibat tanpa harus datang ke Bandar Lampung.
Melalui sesi paralel tersebut, peserta juga berkesempatan mendiskusikan temuan ilmiah secara lebih terarah. Selanjutnya, diskusi dapat membantu peneliti mengidentifikasi peluang penerapan hasil riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Unila Harapkan Kolaborasi Berlanjut Setelah Seminar
Trisya menegaskan bahwa SINTA-SENAPATI tidak hanya berfokus pada publikasi ilmiah. Sebaliknya, Fakultas Teknik Unila ingin menjadikan seminar ini sebagai titik awal kerja sama berkelanjutan antarpeneliti.
“Kami ingin mengaplikasikan dan mendiseminasikan hasil penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Peneliti dari Unila maupun perguruan tinggi lain dapat memublikasikan hasil karyanya. Harapan kami, kegiatan ini mendorong kolaborasi antarpeneliti,” ujar Trisya.
Sejalan dengan harapan tersebut, SINTA-SENAPATI 2026 mempertemukan akademisi dengan berbagai pemangku kepentingan. Selain memperluas jaringan, pertemuan ini diharapkan membuka peluang penelitian bersama, pengembangan teknologi, dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Pada saat yang sama, kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor inovasi dapat memperkuat kontribusi riset terhadap pembangunan daerah. Karena itu, para peneliti perlu mendorong penerapan hasil penelitian agar masyarakat turut merasakan manfaatnya.
Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah pertukaran gagasan, tetapi juga berpotensi melahirkan kemitraan baru. Sebagai hasilnya, penelitian dan pengabdian dapat berkembang melalui kerja sama yang lebih terarah.
Pada akhirnya, SINTA-SENAPATI 2026 menjadi salah satu upaya Fakultas Teknik Unila untuk memperluas jejaring akademik dan memperkuat sinergi multipihak. Melalui penelitian aplikatif dan pengabdian yang tepat sasaran, kolaborasi tersebut diharapkan turut mendukung terwujudnya Lampung Emas yang inklusif dan berkelanjutan.***






