Suhu Rata-rata Global Capai Rekor Tertinggi di Bulan Juli

KRAKATOA.ID (VOA) — Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengatakan suhu rata-rata global untuk bulan Juli 2023 dipastikan menjadi rekor tertinggi dibandingkan bulan manapun.

“Bulan Juli diperkirakan sekitar 1,5 derajat lebih panas dari rata-rata tahun 1850 hingga 1900-an. Jadi, rata-rata masa pra-industri,” kata Samantha Burgess, wakil direktur Layanan Perubahan Iklim Copernicus di Pusat Prakiraan Cuaca Jangka Menengah Eropa.

Beberapa pengukuran dimulai pada tahun 1850, tetapi baru pada tahun 1880 para ilmuwan mulai memperkirakan suhu rata-rata seluruh planet.

Burgess mengatakan para ilmuwan yang mengamati sejarah dan kondisi iklim purba serta catatan proksi dari endapan gua dan organisme kalsifikasi lainnya, seperti karang dan kerang, menemukan bahwa catatan pengamatan kembali ke puluhan ribu, bahkan ratusan ribu tahun.

“Jadi, catatan terpanjang yang kita miliki adalah catatan inti es yang berumur 800.000 tahun, yang memberi kita perubahan konsentrasi rasio karbon dioksida dan oksigen di atmosfer.”

Ia mencatat bahwa laporan kajian keenam Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa menemukan bahwa kondisi bumi belum pernah sepanas ini, dengan menggabungkan catatan pengamatan dan catatan iklim purba selama 120.000 tahun terakhir.

WMO mengatakan gelombang panas berlangsung selama bulan Juli di sejumlah wilayah di belahan bumi utara, termasuk bagian selatan Eropa, dan suhu di sejumlah wilayah di Amerika Selatan dan sekitar Antartika meningkat di atas rata-rata.

“Dari pengawasan iklim jangka panjang yang kami lakukan, kami mendapati bahwa bumi telah menghangat sejak zaman pra-industri. And kita melihat situasi saat ini dengan jelas dan peningkatan suhu yang drastis, yang berlangsung dalam beberapa dekade, telah terjadi sejak 1970-an,” ujar Chris Hewitt, direktur layanan iklim di WMO.

BACA JUGA :  Unila Gelar Workshop Peningkatan Kelulusan Tepat Waktu

Ia mengatakan tahun 2015 hingga tahun 2022 adalah periode delapan tahun terhangat yang pernah tercatat, dalam 170 tahun terakhir. Fakta tersebut, ujar Hewitt, terjadi di tengah kondisi La Nina yang terus berlangsung, yang menyebabkan suhu air di wilayah Samudra Pasifik mendingin dari suhu normalnya. [my/jm/rs]