KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG -— Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-41 Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek (RSUDAM) dan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, RSUDAM meluncurkan sejumlah layanan inovatif untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Peluncuran yang diresmikan langsung oleh Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, Jumat (8/8/2025), meliputi Klinik Berhenti Merokok, Klinik Nyeri dan Paliatif, serta Shuttle Bus Lamban Tuppak Puakhi, sebagai fasilitas penunjang rumah singgah bagi keluarga pasien.
Direktur RSUDAM, dr. Imam Ghozali, menyatakan bahwa peringatan hari jadi kali ini tidak hanya menjadi momentum seremonial, tetapi juga cerminan komitmen rumah sakit untuk terus bertransformasi.
“Kami tidak ingin sekadar menjadi pusat layanan kesehatan, tapi juga menjadi penggerak edukasi kesehatan masyarakat. Karena kesehatan yang baik bukan hanya soal penyembuhan, tapi juga soal pencegahan, kesadaran, dan perubahan perilaku,” ujar dr. Imam.
Meskipun baru 41 tahun berstatus sebagai rumah sakit umum daerah, RSUDAM telah melayani masyarakat sejak 111 tahun yang lalu.
“Sudah lebih dari satu abad rumah sakit ini berdiri. Itu bukan hanya angka, tapi warisan dan tanggung jawab. Dan sekarang, tantangan kita bukan hanya soal mengobati, tapi bagaimana menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan zaman, seperti yang kami mulai dengan peluncuran Klinik Berhenti Merokok,” jelasnya.
Menurutnya, Klinik Berhenti Merokok adalah jawaban atas masalah kesehatan masyarakat yang semakin kompleks. Klinik ini dirancang tidak hanya untuk membantu pasien berhenti merokok, tetapi juga memberikan edukasi mengenai dampak paparan asap rokok terhadap tubuh.
dr. Imam juga menyoroti pentingnya menghadirkan fasilitas pendukung yang humanis, salah satunya adalah shuttle bus “Lamban Tuppak Puakhi” yang akan membantu mobilitas dan kenyamanan keluarga pasien yang menginap atau menunggu di rumah singgah.
“Kami paham betapa beratnya menjadi keluarga pasien. Dengan adanya shuttle bus ini, kami ingin memberi sedikit kenyamanan — karena pelayanan yang baik itu bukan hanya soal medis, tapi juga empati,” pungkasnya.***






