KRAKATOA.ID — Minggu malam itu, kehangatan mengendap di meja makan rumah orangtuaku di pedalaman Lampung Selatan. Hidangan memang sederhana, namun masakan itu sanggup menahan sejenak jiwa perantauku yang kerap didera sunyi. Memang, ketenangan malam seolah merayu diri untuk mangkir dari kenyataan hidup. Namun demikian, fajar tidak pernah berkompromi dengan angan-manusia. Oleh karena itu, pada Senin pagi, 16 Januari 2017, bumi kembali menuntutku bertaruh nasib ke Bandar Lampung.
Tepat pukul enam pagi, roda sepeda motor mulai berputar menembus jalanan. Pada awalnya, langit hanya menurunkan gerimis yang ragu-ragu. Akan tetapi, tak berselang lama, alam berubah menjadi beringas. Sebab, hujan lebat yang jahanam mendadak bertaut dengan angin kencang, seolah menghantam dada dan menghalangi pandangan. Akibat tidak membawa selembar pun mantel pelindung, aku akhirnya menyerah pada keadaan. Oleh sebab itu, aku menepikan kendaraan untuk mencari suaka di teras sebuah ruko kosong yang tampak kaku tak berpenghuni.
Ternyata, nasib malang rupanya punya banyak kawan pagi itu. Sebab, di bawah atap semen yang sama, beberapa anak sekolah berseragam SMA sudah tegak berdiri dengan tubuh menggigil. Tidak lama kemudian, deru mesin motor matik memecah suara gemuruh air. Selanjutnya, dua orang wanita dewasa dan seorang bocah kecil datang bergabung. Meskipun wanita yang memegang kemudi tampak bersahaja, namun ia tetap terlihat rapi dalam seragam kerja abu-abu dengan kepala dibalut hijab biru muda. Alhasil, mereka pun turut mengungsi dari amukan langit.
Panggilan yang Mengoyak Tirai Hujan
Mendadak, hijab biru itu menjadi sebilah pisau yang menyayat ingatan. Sebab, warnanya seketika mengingatkanku pada sekerat masa lalu—yaitu pada dia yang telah berjalan terlalu jauh hingga tidak mungkin lagi tergapai. Oleh karena itu, aku memilih menyuruk ke pojok teras, lalu membenamkan diri dalam lamunan yang purba bersama rona hujan. Namun, lamunan itu tiba-tiba koyak oleh pekik lirih suara bocah, “Ayah… Ayah… Ayah…”
Pada mulanya, aku tetap berkeras menulikan telinga. Sebab, suasana batinku saat itu sedang keruh oleh mendung kehidupan. Akan tetapi, seruan kanak-kanak itu justru kian kencang dan berderap mendekat. Maka, ketika kupalingkan wajah, kulihat seorang balita melangkah goyah, bahkan sempoyongan menantang dingin demi menghampiriku. Seketika, dadaku bergetar hebat. Sebab, bocah yang asing itu tanpa ragu terus mengalamatkan kata “Ayah” ke arahku.
“Eh… Dek. Itu bukan Ayah. Itu Om,” potong ibunya dengan air muka yang mendadak berubah merah padam. Rupanya, ia disergap rasa sungkan yang pekat.
Melihat hal itu, anak-anak sekolah dan perempuan lain di teras seketika tersenyum geli. Alhasil, tawa kecil pecah, sekaligus mengendurkan ketegangan yang dibawa oleh badai.
Runtuhnya Pertahanan Sebuah Ingatan
Akhirnya, aku tidak punya pilihan selain menyerah pada takdir kecil pagi itu. Oleh sebab itu, demi kesopanan ragawi, kuangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapanku. Alangkah herannya, karena dia justru tertawa girang seolah-olah telah menemukan kembali separuh jiwanya yang hilang. Bahkan, pelukannya terasa erat, manja, dan menghantarkan kehangatan yang asing. Barangkali karena gigilan udara dingin, dia merasa menemukan tempat bernaung yang tepat di dadaku.
Namun, justru di situlah pertahananku runtuh. Seketika, air mata jatuh tanpa mampu kuperintah, lalu meleleh hangat di pipi. Dengan demikian, aku menangis dalam kedamaian hujan yang bising. Tentu saja, itu bukan tangis haru seorang penolong, melainkan tangis purba dari sebuah luka lama yang menganga kembali. Sebab, panggilan “Ayah” dari bibir suci itu telah membongkar paksa seisi celengan kenanganku tentang seseorang yang teramat berharga.
In Memoriam.
Sebab, dalam riwayat hidupku yang fana ini, hanya ada satu wanita yang berhak dan pernah memanggilku “Ayah.” Dia adalah MKW, perempuan yang kini telah berpindah dunia, sehingga meninggalkan aku sendirian mengunyah sepi.
Meskipun ia telah tiada, namun kenangan tentangnya tetap menyala, hidup dalam setiap detak jam dan tarikan napasku. Oleh karena itu, setiap kali kata “Ayah” gaib di telingaku, setiap kali pula wujudmu hadir kembali dan menetap teguh. Dengan begitu, hal ini membuktikan betapa besarnya arti keberadaanmu dulu. Akhir kata, dalam setiap hujan yang jatuh ke bumi, dan dalam setiap bisikan kecil yang sarat makna, aku akan selalu merawat ingatanmu, Mai.
Sebab, engkau adalah satu-satunya perempuan yang pernah menaruh kehormatan itu di pundakku. Oleh sebab itu, selama hayat masih dikandung badan, kenanganmu akan tetap menjadi bagian paling suci dari seluruh jalanku.***






