KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mendorong percepatan hilirisasi untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas unggulan daerah. Ia menyebut sekitar 55 persen potensi komoditas Lampung belum tergarap optimal melalui industri pengolahan.
Potensi tersebut mencakup kelapa sawit, karet, kopi, tebu, dan kakao. Karena itu, Mirza ingin pelaku usaha mengolah lebih banyak komoditas di daerah agar masyarakat menikmati nilai tambah yang lebih besar.
Selain meningkatkan nilai jual produk, hilirisasi juga dapat membuka lapangan kerja dan memperluas peluang usaha. Dengan demikian, strategi ini berpotensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus menggerakkan ekonomi desa.
Mirza menyampaikan arah kebijakan tersebut saat membuka Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi Lampung Semester II 2026 di Ballroom Hotel Novotel, Bandar Lampung, Selasa (13/10/2026).
Gubernur Mirza Bidik Potensi Ekonomi Sawit, Kopi, dan Karet
Sektor pertanian menyumbang sekitar 28–30 persen terhadap perekonomian Lampung. Oleh sebab itu, pemerintah perlu memperkuat sektor ini melalui pengembangan industri pengolahan dan dukungan bagi petani.
Menurut Mirza, pelaku usaha dapat meningkatkan nilai jual komoditas dengan mengolah hasil panen sebelum memasarkannya. Selain itu, industri lokal berpeluang memperluas kesempatan kerja di sekitar sentra produksi.
Mirza juga mendorong pemerintah memperkuat koperasi dan usaha lokal. Dalam hal ini, koperasi dapat menghubungkan petani dengan pedagang, distributor, dan industri pengolahan.
“Pasal 33 itu menyatakan koperasi, ekonomi disusun secara bersama-sama, dari atas sampai bawah. Bawah itu dikuatkan dulu. Koperasi adalah anchor, hub-hub ekonomi yang ada di desa-desa,” ujar Mirza.
Ia menegaskan bahwa strategi ekonomi berbasis desa sejalan dengan semangat Pasal 33 UUD 1945 dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah ingin mendorong pertumbuhan ekonomi dari tingkat desa hingga industri.
Mirza Minta Daerah Bangun Fasilitas Pengolahan
Untuk mempercepat hilirisasi, Mirza meminta bupati dan wali kota menyusun program sesuai potensi wilayah masing-masing. Ia mendorong pembangunan fasilitas pengeringan atau dryer, sentra peternakan, serta kawasan industri beras rakyat.
Fasilitas tersebut dapat membantu petani menjaga kualitas panen. Selain itu, infrastruktur yang memadai dapat memperlancar distribusi dan mendukung kegiatan industri.
Tak hanya membangun infrastruktur, pemerintah daerah juga perlu meningkatkan keterampilan tenaga kerja. Karena itu, Mirza menekankan pentingnya pendidikan vokasi sejak bangku sekolah.
Melalui pendidikan tersebut, generasi muda dapat mempelajari keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri lokal. Pada akhirnya, dunia usaha memiliki peluang lebih besar untuk merekrut tenaga kerja dari daerah sekitar.
Di sisi lain, pemerintah perlu memperhitungkan pasokan bahan baku, akses pasar, pembiayaan, dan biaya logistik. Dengan perencanaan yang matang, pelaku usaha dapat mengembangkan industri secara berkelanjutan.
Pendapatan Petani Jadi Penggerak Ekonomi Desa
Selain mendorong hilirisasi, Mirza menyoroti kebijakan harga gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Menurutnya, kebijakan pemerintah pusat turut memperkuat posisi tawar petani dan meningkatkan pendapatan mereka.
Mirza menyebut pendapatan petani Lampung mencapai Rp3 juta hingga Rp5 juta per bulan. Ia juga mengklaim margin keuntungan petani mencapai 48 persen.
“Ketika HET dinaikkan, harga beras naik? Iya naik, tapi naiknya di tangan petani, naiknya di tangan ini. Keuntungan petani naik 30%. Hari ini keuntungan 48%, ada di petani,” katanya.
Peningkatan pendapatan tersebut berpotensi menggerakkan perdagangan di desa. Sebab, ketika petani memiliki daya beli lebih kuat, mereka dapat meningkatkan belanja rumah tangga dan mengembangkan usaha.
Lebih lanjut, perputaran uang di desa dapat membuka peluang bagi pedagang, penyedia jasa, dan pelaku usaha kecil. Oleh karena itu, Mirza ingin pemerintah menghubungkan sektor pertanian dengan koperasi, perdagangan, dan industri pengolahan.
Pertumbuhan Ekonomi Lampung Capai 5,29 Persen
Dalam kesempatan tersebut, Mirza menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Lampung mencapai 5,29 persen pada semester II 2026. Ia menyebut capaian itu menempatkan Lampung pada posisi kedua tertinggi di Sumatera.
Selain itu, Mirza menyatakan bahwa angka kemiskinan Lampung turun 1 persen dalam satu tahun.
Ia juga mengutip data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) yang mencatat kenaikan pembelian kendaraan baru sebesar 43 persen. Secara terperinci, pembelian truk meningkat 220 persen, van 123 persen, dan pikap 78 persen.
Menurut Mirza, peningkatan tersebut mencerminkan aktivitas usaha dan kebutuhan logistik yang semakin besar. Terutama, kendaraan niaga mendukung distribusi pangan dan kegiatan perdagangan.
Tak hanya itu, Mirza menyebut transaksi hewan kurban turut meningkat. Pembelian sapi naik 109 persen, sedangkan domba meningkat 141 persen. Ia juga menyoroti peningkatan perjalanan umrah masyarakat.
Meski demikian, redaksi perlu memeriksa periode dan sumber setiap angka sebelum publikasi. Dengan begitu, berita dapat menyajikan data secara akurat dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai perkembangan ekonomi Lampung.
Gubernur Mirza Ajak Daerah Perkuat Ekonomi Desa
Mirza meminta seluruh bupati dan wali kota memusatkan perhatian pada potensi ekonomi desa. Ia ingin setiap daerah mengembangkan komoditas unggulan sekaligus memperkuat fasilitas produksi dan pengolahan.
Selain itu, pemerintah daerah perlu memperluas peran koperasi. Melalui koperasi, petani dapat memperkuat kemitraan usaha, menjangkau pasar, dan meningkatkan posisi tawar dalam rantai pasok.
Mirza menilai kerja sama antardaerah juga memegang peranan penting. Karena itu, pemerintah kabupaten dan kota perlu menyelaraskan program pembangunan agar pengembangan komoditas berjalan lebih terarah.
“Maka kabupaten/kota, kita sama-sama fokus ke desa. Desanya naik kelas, Bapak Ibu sekalian. Saya yakin kalau ini dilakukan secara terorganisir, secara gotong-royong, ini akan menjadi basis utama kita. Kita basisnya kuat, bisa tumbuh di Provinsi Lampung,” pungkas Mirza.
Kegiatan diseminasi tersebut melibatkan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Lampung, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Lampung, dan Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung. Sementara itu, para kepala daerah, unsur Forkopimda, pimpinan lembaga keuangan, asosiasi usaha, akademisi, dan pimpinan media massa turut menghadiri acara tersebut.
Pada akhirnya, Lampung perlu mengubah potensi komoditas menjadi kegiatan industri yang menghasilkan nilai tambah. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah harus memperkuat infrastruktur, keterampilan tenaga kerja, akses pembiayaan, dan jaringan pasar.
Dengan langkah yang terarah, hilirisasi berpeluang memperluas kesempatan kerja sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Dengan demikian, desa dapat tumbuh sebagai pusat produksi, perdagangan, dan industri pengolahan yang menopang ekonomi Lampung.***






