KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Lampung mencatat prestasi dalam pengobatan tuberkulosis (TBC). Tingkat keberhasilan pengobatan TBC di provinsi ini mencapai sekitar 92 persen.
Namun, capaian tersebut menghadapi tantangan besar. Pemerintah masih harus menemukan ribuan kasus TBC yang belum terdeteksi.
Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P, FISR menyebut capaian pengobatan TBC Lampung termasuk yang tertinggi di Indonesia.
“Kalau perkara ngobatin sudah pasti bagus. Keberhasilan pengobatan TBC juga bagus, Lampung 92 persen, bahkan nomor satu di Indonesia,” kata Benjamin.
Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri peluncuran Peduli TB Lampung di Hotel Emersia, Bandar Lampung, Jumat (4/9/2026).
Kegiatan tersebut juga menghadirkan Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela. Jihan sekaligus mengukuhkan Koalisi Organisasi Profesi Indonesia Tuberkulosis (KOPI TB) se-Provinsi Lampung Tahun 2026.
30.745 Kasus TBC Lampung Jadi Perhatian
Pemprov Lampung memperkirakan terdapat 30.745 kasus TBC pada 2026. Namun, hingga akhir Agustus 2026, petugas baru menemukan sekitar 38 persen dari estimasi tersebut.
Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan besar dalam penemuan kasus. Banyak penderita TBC kemungkinan masih berada di tengah masyarakat tanpa diagnosis.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela meminta seluruh pihak memperkuat penemuan kasus. Ia menilai pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan fasilitas kesehatan.
“Ini bukan tugas insan kesehatan saja, tetapi seluruh stakeholder, seluruh lapisan masyarakat,” ujar Jihan.
Jihan ingin gerakan penanggulangan TBC melibatkan seluruh unsur masyarakat. Ia bahkan membandingkannya dengan gerakan Pekan Imunisasi Nasional.
Masalah TBC Bukan Hanya Pengobatan
Jihan menegaskan pemerintah tidak boleh berhenti setelah menemukan dan mengobati pasien TBC.
Petugas harus menemukan penderita sejak dini. Mereka juga perlu memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas.
Selain itu, petugas harus memeriksa anggota keluarga pasien. Pemeriksaan juga perlu menyasar orang yang memiliki kontak erat.
Masyarakat yang memenuhi syarat juga perlu mendapat terapi pencegahan.
“Ketika satu kasus tuberkulosis ditemukan secara terlambat, dampaknya tidak berhenti pada satu pasien saja,” kata Jihan.
Menurutnya, TBC dapat memengaruhi keluarga dan lingkungan. Penyakit tersebut juga dapat mengganggu produktivitas masyarakat.
Pemerintah Perkuat Deteksi TBC di 15 Kabupaten dan Kota
Kementerian Kesehatan menyiapkan pemeriksaan aktif untuk mempercepat penemuan kasus TBC di Lampung.
Program tersebut akan menjangkau 15 kabupaten dan kota. Pemerintah menargetkan sekitar 1.571 titik lokasi untuk pemeriksaan.
Kemenkes juga menyiapkan 26 unit x-ray portable. Teknologi NPOC turut mendukung pemeriksaan di lapangan.
Pemeriksaan tersebut akan menjangkau 322 puskesmas di Lampung. Pemerintah berharap langkah ini dapat menemukan lebih banyak kasus TBC.
Semakin cepat petugas menemukan penderita, semakin cepat pasien mendapat pengobatan. Langkah tersebut juga dapat membantu memutus rantai penularan.
Peduli TB Lampung Buka Akses Skrining
Pemprov Lampung juga meluncurkan platform Peduli TB Lampung. Platform tersebut membantu masyarakat melakukan skrining awal secara mandiri.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) ikut menggagas inovasi tersebut. Pemerintah juga ingin mengintegrasikan skrining TBC dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Tim telah melakukan uji coba di RSUD Abdul Moeloek. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan RS Muhammadiyah Metro juga ikut dalam uji coba tersebut.
Program uji coba telah menjangkau lebih dari 1.000 orang. Pemprov Lampung ingin memperluas jangkauan skrining tersebut.
Jihan bahkan ingin pemerintah menyasar masyarakat yang masuk ke Lampung melalui bandara dan pelabuhan.
Investigasi Kontak Baru Capai 63 Persen
Penemuan kasus TBC juga membutuhkan investigasi kontak yang kuat. Saat ini, capaian investigasi kontak kasus bakteriologis di Lampung baru sekitar 63 persen.
Pemerintah menargetkan angka tersebut mencapai 90 persen.
Jihan meminta petugas segera memeriksa keluarga setiap pasien TBC. Orang yang memiliki kontak erat juga harus menjalani pemeriksaan.
Langkah tersebut penting untuk menemukan penderita lain. Pemeriksaan juga membantu pemerintah memberikan terapi pencegahan kepada kelompok yang membutuhkan.
367 Rumah Pasien TBC Masuk Usulan Perbaikan
Pemprov Lampung juga memperhatikan kondisi tempat tinggal pasien TBC dari keluarga tidak mampu.
Pemerintah telah mengajukan 367 usulan rumah tidak layak huni (RTLH) bagi pasien TBC. Sebanyak 217 usulan telah terverifikasi sebagai calon penerima.
Program tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan TBC tidak hanya membutuhkan pendekatan medis.
Kondisi lingkungan tempat tinggal juga ikut memengaruhi upaya pengendalian penyakit. Karena itu, pemerintah perlu menggabungkan pengobatan dengan perbaikan kondisi sosial pasien.
Jihan Minta Semua Pihak Turun Tangan
Lampung memiliki wilayah yang luas dan jumlah penduduk sekitar 9,5 juta jiwa. Provinsi ini terdiri atas 13 kabupaten dan dua kota.
Wilayah tersebut mencakup 229 kecamatan dan ribuan desa. Kondisi itu membuat pemerintah membutuhkan dukungan banyak pihak.
Jihan mendorong camat, lurah, RT, RW, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas ikut membantu menemukan kasus TBC.
TNI dan Polri juga dapat mendukung gerakan tersebut. Fasilitas kesehatan, organisasi profesi, komunitas, dan masyarakat juga memiliki peran penting.
Menurut Jihan, kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat penemuan penderita. Pemerintah juga dapat memutus rantai penularan lebih cepat.
Lampung Kejar Target Eliminasi TBC 2030
Jihan menilai keberhasilan pengobatan 92 persen menjadi modal penting bagi Lampung. Namun, pemerintah harus memperkuat penemuan dan pencegahan.
“Kita semua mempunyai cara pandang yang sama bahwa eliminasi tuberkulosis tidak akan tercapai hanya dengan mengobati,” ujar Jihan.
Pemprov Lampung ingin mempercepat eliminasi TBC. Pemerintah menargetkan penanggulangan yang lebih agresif menuju Indonesia bebas TBC 2030.
Jihan berharap Lampung dapat menjadi salah satu provinsi yang memimpin percepatan tersebut.
Kuncinya bukan hanya mengobati pasien. Pemerintah harus menemukan kasus lebih awal, memeriksa kontak, memberikan terapi pencegahan, dan memperbaiki lingkungan pasien.
Dengan strategi tersebut, Lampung memiliki peluang mempercepat penurunan penularan TBC. Capaian pengobatan yang tinggi juga dapat menjadi modal untuk mengejar target eliminasi TBC.
Tantangan Lampung kini jelas: mempertahankan keberhasilan pengobatan sekaligus menemukan lebih banyak kasus TBC yang masih tersembunyi di masyarakat.***






