AI Makin Cerdas, Pendidikan di Era AI Harus Tetap Humanis

Oleh: F. Joko Winarno

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG — Dulu, ada satu kebiasaan sederhana yang sering muncul di ruang kelas ketika seorang anak belum memahami materi pelajaran: mengangkat tangan dan bertanya kepada guru.

Kini, kebiasaan itu mulai berubah.

Di era kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), siswa dapat membuka telepon genggam, mengetik pertanyaan, dan dalam hitungan detik memperoleh penjelasan. Ketika jawaban tersebut belum mereka pahami, mereka pun dapat kembali bertanya dan meminta AI menjelaskannya dengan cara berbeda.

AI mampu memberikan jawaban dengan cepat, praktis, dan tersedia hampir kapan saja.

Lalu, muncul sebuah pertanyaan penting: Jika AI dapat menjawab hampir semua pertanyaan, apakah anak masih membutuhkan guru?

Pertanyaan ini penting bukan untuk mempertentangkan guru dengan AI. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mengajak kita merefleksikan kembali apa yang sebenarnya kita lakukan ketika mendidik anak di era AI.

AI dalam Pendidikan Mengubah Peran Guru

Paradigma lama yang menempatkan guru sebagai sumber utama pengetahuan melalui pola guru menjelaskan, siswa mendengarkan; guru memberi soal, siswa menjawab; guru memberikan tugas, siswa mengumpulkan perlu kita evaluasi kembali.

Dunia telah berubah.

Pengetahuan tidak lagi hanya berada di kepala guru atau tersimpan di dalam buku pelajaran. Kini, siswa dapat mengakses informasi dari berbagai sumber, kapan saja dan dari mana saja. Bahkan, mereka dapat menemukan informasi yang jauh lebih luas daripada materi yang sempat disampaikan guru di dalam kelas.

Lalu, apakah kondisi tersebut membuat peran guru semakin kecil?

Justru sebaliknya.

Dalam perspektif pendidikan humanistik, pendidikan pada hakikatnya merupakan proses membantu manusia tumbuh dan berkembang secara utuh. Pemikiran tersebut sejalan dengan gagasan Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan sebagai tuntunan bagi tumbuhnya anak serta pemikiran Paulo Freire mengenai pendidikan sebagai proses humanisasi.

BACA JUGA :  Respon cepat, Dalam Waktu 7 Hari Polda Lampung Berhasil Ungkap Pelaku Pelemparan Kantor MUI Lampung

Karena itu, kehadiran guru tetap memiliki peran yang sangat penting.

Pendidikan bukan sekadar proses mendapatkan jawaban atas berbagai pertanyaan. AI memang dapat membantu menjawab pertanyaan anak. Namun, apakah anak memahami jawaban tersebut?

Kemampuan menghasilkan jawaban tidak selalu sama dengan kemampuan memahami makna.

Sebuah tulisan dapat muncul dalam hitungan detik. Persoalannya, apakah siswa memahami gagasan, alasan, dan konteks di balik tulisan tersebut?

Begitu pula ketika AI menawarkan beberapa alternatif. Anak tetap perlu belajar mempertimbangkan pilihan, memahami konsekuensi, dan menentukan keputusan secara bertanggung jawab.

Di sinilah peran guru menemukan maknanya.

Guru Tidak Perlu Bersaing dengan AI

Salah satu ilustrasi sederhana dapat kita lihat dalam proses pendampingan anak.

Bayangkan seorang guru bertanya kepada siswa, “Apa itu kejujuran?”

Dengan mudah, anak dapat menggunakan AI untuk mencari jawabannya. Dalam hitungan detik, teknologi tersebut mampu memberikan definisi kejujuran, menjelaskan pentingnya kejujuran, memberikan contoh perilaku jujur, bahkan menguraikan dampak perilaku tidak jujur.

Namun, persoalan sesungguhnya muncul ketika anak menghadapi situasi nyata.

Bagaimana jika ia melihat temannya menyontek?

Apa yang akan ia lakukan ketika menemukan uang di halaman sekolah?

Bagaimana pula jika ia berada dalam tekanan untuk mengatakan sesuatu yang tidak benar?

Pada situasi tersebut, persoalannya tidak lagi sekadar pengetahuan. Anak harus memilih dan memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.

Di situlah pendidikan menemukan maknanya.

Kehadiran guru bukan hanya untuk membantu anak memahami apa yang benar. Lebih dari itu, guru mendampingi anak ketika ia belajar memilih dan melakukan apa yang benar.

Karena itu, guru tidak perlu berlomba dengan AI dalam hal kecepatan memberikan jawaban. Peran yang jauh lebih penting adalah mengajarkan anak bagaimana mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa informasi, memahami jawaban, dan menilai pilihan.

BACA JUGA :  Economic Fun Run 2025, Meriahkan Dies Natalis ke-60 FEB Unila

Pendidikan di Era AI Harus Tetap Mengajarkan Cara Berpikir

Di era AI, sekolah perlu mengajarkan satu prinsip penting: teknologi adalah alat, bukan pengganti proses berpikir.

Anak boleh menggunakan AI. Namun, ia tidak boleh kehilangan kebiasaan membaca, membandingkan informasi, mempertanyakan jawaban, berdiskusi, mengalami kegagalan, mencoba kembali, dan menganalisis masalah.

Semua kemampuan tersebut tidak otomatis tumbuh hanya karena seorang siswa memperoleh jawaban yang benar.

Sebaliknya, kemampuan berpikir berkembang melalui proses.

Kebingungan menjadi bagian dari proses belajar. Kesalahan memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri. Diskusi membuka ruang bagi perspektif baru. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Bahkan, persoalan yang tidak memiliki jawaban instan dapat melatih seseorang untuk berpikir lebih mendalam.

Di sinilah guru kembali memiliki ruang yang sangat penting.

Seorang guru dapat berkata, “Coba pikirkan lagi.”

Pada kesempatan lain, ia mungkin mengatakan, “Jawabanmu benar, tetapi cara berpikirmu perlu diperbaiki.”

Bahkan, guru juga perlu memiliki keberanian untuk berkata, “Saya tidak tahu jawabannya. Mari kita cari bersama.”

Kalimat tersebut bukan tanda kelemahan. Justru, sikap itu menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu berjalan satu arah dari guru kepada siswa.

Guru sebagai Pendamping, Bukan Sekadar Pemberi Jawaban

Dalam pendidikan di era AI, guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

Yang lebih penting, guru mampu menumbuhkan rasa ingin tahu dan membangun relasi yang baik dengan anak.

Ada kalanya seorang anak tidak membutuhkan jawaban. Ia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

Pada kesempatan lain, anak mungkin tidak membutuhkan solusi cepat. Ia membutuhkan waktu untuk berpikir.

Dalam situasi tertentu, siswa bahkan tidak membutuhkan orang yang langsung menentukan apa yang harus dilakukan. Mereka membutuhkan pendamping yang membantu memahami konsekuensi dari keputusan yang akan diambil.

BACA JUGA :  GNLC Juara 1 Pop & Jazz JICF 2026: Sambangi SMAN 1 Bandar Lampung Usai Boyong Gold Diploma

Lebih dari itu, guru perlu memiliki kepekaan untuk memahami sesuatu yang mungkin belum mampu diungkapkan anak.

Karena itu, pendidikan tetap membutuhkan guru yang mampu membantu anak berpikir, berdialog, mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan memiliki empati.

Semakin Pintar AI, Semakin Penting Pendidikan Humanis

Teknologi akan terus berkembang.

Setiap saat, AI menjadi semakin canggih. Kemampuannya dalam memahami bahasa, mengolah informasi, menghasilkan tulisan, membuat gambar, dan membantu manusia menyelesaikan berbagai pekerjaan juga akan terus meningkat.

Namun, semakin pintar teknologi, semakin penting pula kehadiran manusia yang memiliki kebijaksanaan dalam menggunakannya.

Sekolah karena itu tidak cukup hanya menghasilkan anak-anak yang paling banyak tahu.

Lebih dari sekadar mengumpulkan pengetahuan, sekolah perlu menjadi tempat bagi anak untuk belajar menjadi manusia yang tahu apa yang harus dilakukan dengan pengetahuan yang mereka miliki.

Pengetahuan memberi kemampuan untuk mengetahui.

Pendidikan memberi kemampuan untuk memahami.

Sementara itu, pendidikan humanis membantu anak menggunakan pengetahuan dengan pertimbangan, tanggung jawab, empati, dan kesadaran moral.

Pada akhirnya, AI mungkin dapat membantu anak menemukan banyak jawaban. Namun, pendidikan harus tetap membantu mereka menemukan pertanyaan yang tepat, pilihan yang bertanggung jawab, dan alasan untuk melakukan hal yang benar.

Jadi, ketika anak bisa bertanya kepada AI, guru tidak kehilangan peran.

Justru ketika jawaban semakin mudah ditemukan, kehadiran guru menjadi semakin penting untuk membantu anak memahami mengapa sebuah jawaban penting, bagaimana menggunakannya, dan untuk apa pengetahuan itu digunakan.***