Legenda Batu Naga Emas Sriwijaya

KRAKATOA.ID, PALEMBANG — Legenda Batu Naga Emas Sriwijaya masih hidup dan terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat Palembang. Kisah lisan yang dipercaya telah ada sejak ratusan tahun lalu ini diyakini berkaitan erat dengan legitimasi kekuasaan dan kebangsawanan di wilayah Sungai Musi.

Pemerhati budaya dan sejarah Arya Mahessa, mengatakan bahwa legenda Batu Naga Emas merupakan salah satu cerita rakyat tertua yang hingga kini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat. Hal tersebut ia sampaikan di Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan pada 5 Oktober 2022.

“Batu Naga Emas Sriwijaya bukan sekadar benda pusaka, melainkan simbol kekuasaan dan kemakmuran yang memiliki makna adat dan spiritual sangat kuat,” ujar Arya.

Menurutnya, secara kasat mata batu tersebut tampak seperti batu biasa dengan warna gelap dan kilau samar. Namun, di dalam serat batunya terdapat pusaran warna keemasan yang oleh para tetua Palembang diyakini membentuk rupa seekor naga emas—makhluk penjaga kekuasaan sejak masa lampau.

Arya menjelaskan, pada masa Hindia Belanda, batu ini dikenal dengan sebutan Batu Naga Sriwijaya. Pusaka tersebut dipercaya hanya dimiliki oleh keluarga tertentu yang memiliki garis keturunan pemimpin adat dan penguasa Sungai Musi. Kepemilikan batu ini diyakini menjadi penanda legitimasi kepemimpinan.

“Siapa pun yang memilikinya akan diakui secara adat dan batin sebagai orang besar,” katanya.

Dalam legenda yang berkembang, Batu Naga Emas selalu disimpan secara tersembunyi dan dibungkus kain kuning tua. Batu tersebut hanya dikeluarkan pada momen-momen penting, seperti pengangkatan pemimpin, perjanjian rahasia, atau ketika Palembang berada di ambang konflik besar. Naga emas di dalamnya bahkan dipercaya “hidup” dan dapat bergerak mengikuti perubahan cahaya.

Setelah masa kolonial berakhir, keberadaan batu ini disebut menghilang. Ada versi cerita yang menyebutkan batu tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh satu garis keturunan bangsawan. Versi lain menyebutkan batu itu sengaja “ditidurkan” agar tidak jatuh ke tangan orang-orang yang memiliki niat buruk.

BACA JUGA :  Pj. Gubernur Samsudin Tutup Pelatihan Kepemimpinan Nasional Tingkat II Tahun 2024, Peserta Diarahkan Jadi Pemimpin Visioner dan Adaptif di Era VUCA

Nama Batu Naga Emas kembali mencuat pada 1983, ketika seorang kolektor besar yang disebut berasal dari luar negeri menawarnya dengan harga fantastis, yakni Rp18 miliar—angka yang tergolong sangat besar pada masa itu. Namun, tawaran tersebut ditolak.

Alasan penolakan itu, menurut Arya Mahessa, sangat sederhana namun sarat makna.

“Batu ini bukan untuk dijual. Ia memilih tuannya sendiri,” ungkapnya menirukan penuturan yang berkembang di masyarakat.

Sejak saat itu, banyak kolektor, pemburu pusaka, dan peneliti benda kuno terus berupaya menelusuri keberadaan Batu Naga Emas. Beberapa orang mengaku pernah melihatnya sekilas di sebuah rumah tua di tepian Sungai Musi. Bahkan ada yang mengaku merasakan hawa berat dan hangat ketika berada di dekat benda tersebut.

Hingga kini, sebagaimana disampaikan Arya Mahessa, Batu Naga Emas Palembang tetap menjadi legenda. Tidak semua orang bisa menemukannya, dan tidak semua yang menemukannya diyakini mampu memilikinya.***