KRAKATOA.ID, BANDARLAMPUNG – Tim dekorasi Paroki Telukbetung menyiapkan dekorasi untuk upacara penahbisan Uskup Keuskupan Tanjungkarang. Tim yang berada di bidang liturgi itu mempersiapkan dekorasi secara matang.
Mereka mempertimbangkan kebutuhan liturgi dalam upacara penahbisan yang sakral. Selain itu, tim mengusung konsep minimalis yang selaras dengan alam dan budaya Lampung.
Gunakan Anggrek Hidup dan Tapis
Winarti Muharto, koordinator tim dekorasi, memilih bunga anggrek hidup dalam pot untuk menghias altar. Ia juga menggunakan selendang tapis sebagai bagian dari dekorasi.
“Kami ingin menonjolkan Lampung yang kaya akan keindahan. Yang utama adalah keindahan alam. Karena itu, kami menggunakan tanaman hidup,” ujar Winarti.
Menurut Winarti, pilihan tersebut juga mengikuti panduan Uskup dan Romo Apol. Keduanya tidak menganjurkan penggunaan bunga potong.
Selanjutnya, tim akan memperbanyak daun sebagai hiasan. Mereka juga menggunakan kayu, batu, gerabah tanah liat, dan berbagai ornamen alami lainnya.
Tapis Hiasi Lorong Gereja
Tim dekorasi juga menyiapkan kain tapis untuk menghiasi lorong utama. Mereka akan menyematkan kain tersebut pada bangku menuju altar.
Dengan konsep itu, nuansa Lampung langsung terlihat saat umat memasuki Gereja Ratu Damai Telukbetung. Gereja tersebut menjadi lokasi upacara penahbisan.
Namun, Winarti mengaku tim mengubah konsep dekorasi dari rancangan awal. Mereka sebelumnya sudah menyiapkan konsep tersebut sejak tahun lalu.
Awalnya, tim ingin menghadirkan nuansa Lampung yang lebih kuat di panti imam. Mereka merancang gambaran laut dan hutan. Bahkan, tim sempat berencana menghadirkan bentuk perahu.
Seiring perkembangan persiapan, tim kemudian mengubah rancangan tersebut.
“Altar kami buat lebih tinggi dan luas karena kebutuhan liturgi. Jadi, kami mengubah konsep awal menjadi lebih minimalis agar tidak mengganggu jalannya upacara penahbisan,” jelas Winarti.
Tim Dekorasi Terus Ikuti Persiapan
Hingga tahap akhir, Winarti dan tim dekorasi terus mengikuti perkembangan persiapan. Mereka mengikuti gladi yang dilakukan bagian liturgi.
Selain itu, mereka memantau penataan bangku dan panggung oleh bagian perlengkapan. Karena itu, tim masih membuka kemungkinan melakukan perubahan kecil.
Perubahan konsep tersebut menjadi tantangan terbesar bagi Winarti dan timnya. Meski demikian, ia tetap bersyukur mendapat tanggung jawab tersebut.
“Ini perayaan besar bagi Keuskupan Tanjungkarang yang berlangsung di Paroki Telukbetung. Kami mendapat tanggung jawab mengerjakan dekorasi sesuai pengalaman kami,” ujarnya.
Menurut Winarti, banyak tamu dari berbagai daerah akan menghadiri perayaan tersebut. Karena itu, ia dan tim merasa sangat antusias.
“Kami menerima tugas ini dengan sukacita,” tambah Winarti.***






