Di Usia 78 Tahun, Babeh Kupang Akhirnya Menginjak Anak Gunung Krakatau

KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN — Angin laut berembus pelan, aroma belerang tipis bercampur udara segar menyapa langkah kaki Babeh Kupang sore itu. Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, lelaki sederhana asal Way Halim, Bandar Lampung, itu akhirnya menapakkan kaki di Anak Gunung Krakatau, sebuah mimpi yang ia simpan puluhan tahun lamanya.

Wajahnya berseri, napasnya terengah namun matanya berbinar. Sesekali ia tersenyum, seolah tak percaya bahwa langkah kakinya kini benar-benar berada di gunung legendaris yang selama ini hanya ia pandangi dari kejauhan.

“Kesannya indah sekali, segar, indah dipandang, sejuk di hati. Berkat doa restunya anak dan cucu-cucu dan istri, sampai juga saya di sini. Tercapai juga cita-cita saya ini, sudah umur 78 tahun bisa menginjak kaki di Anak Gunung Krakatau,” tutur Babeh Kupang, saat mengikuti open trip Pulau Sebesi yang diselenggarakan Atlas Adventure, Sabtu (31/1/2026).

Tak hanya berjalan perlahan, Babeh Kupang bahkan berlari kecil menaiki jalur Anak Gunung Krakatau. Sesuatu yang membuat banyak peserta trip takjub.

“Saya juga sebagai orang tua ini tidak menyangka bisa menginjak kaki di Anak Gunung Krakatau sambil berlari. Dari semua yang saya cita-citakan, mungkin dorongan dari Yang Kuasa di Atas memberi saya kekuatan dan kesehatan,” ungkapnya dengan suara bergetar penuh syukur.

Bagi Babeh Kupang, perjalanan ini bukan sekadar wisata, melainkan pesan hidup. Pesan untuk anak, cucu, dan generasi muda agar tidak menyerah pada usia, malas bergerak, atau takut bermimpi.

“Pesan untuk anak cucu, lihatlah kakek ini yang usianya sudah renta. Jangan malas, bergairahlah, berolahragalah. Injaklah Anak Gunung Krakatau yang indah rasanya tidak terkira. Tidak terduga saya seumur sekarang bisa menginjak kaki gunung Krakatau yang indah, sejuk, damai di hati suasananya,” ucapnya.

BACA JUGA :  Desa Roworejo Pesawaran Lakukan Rekrutmen dan Seleksi Perangkat Desa Secara Transparan

Bahkan, Babeh Kupang sempat berandai-andai ingin lebih lama tinggal di sana.

“Kalau bisa dua atau tiga malam saya menginap di sini. Sejuk ya, biar tambah wawasan saya setua ini,” katanya sambil tertawa kecil.

Di balik langkah kuatnya hari itu, ada doa dan dukungan keluarga yang tak pernah putus.

“Cucu, anak, istri dan mantu mendoakan saya semuanya, kasih support semangat biar sehat,” ujarnya lirih.

Menjelang turun dari gunung, Babeh Kupang menyampaikan ajakan tulus kepada siapa pun yang mendengar kisahnya.

“Boleh kawan-kawan, sahabat-sahabat, injaklah Anak Gunung Krakatau ini. Nikmati rasanya. Jangan dengar saya ngomong saja, coba injaklah, baru bisa mengalami indahnya alam Anak Gunung Krakatau,” pesannya.

Ia menutup perjalanannya dengan doa sederhana, penuh kerendahan hati.

“Mudah-mudahan diberikan umur panjang dan rezekinya senantiasa sepanjang masa. Ya sekian dulu, saya ucapkan terima kasih kepada Yang Di Atas, Tuhan Semesta Alam beserta penguasa gunung ini,” tutupnya.

Langkah Babeh Kupang mungkin pelan, tapi mimpinya melampaui usia. Di Anak Gunung Krakatau, ia membuktikan bahwa selama doa, semangat, dan rasa syukur masih ada, tak ada kata terlambat untuk menggapai cita-cita.***