KRAKATOA.ID — Hari Raya Iduladha adalah momentum ketika cinta, kepatuhan, dan filantropi berpadu dalam sebuah ritus yang indah. Setiap tahun, jutaan umat Islam di seluruh dunia—termasuk di Indonesia—dengan penuh suka cita merayakan ibadah kurban. Hewan-hewan disembelih, dagingnya dibagikan, dan kebahagiaan pun menyebar luas ke penjuru masyarakat.
Namun, di balik kemeriahan ibadah sosial tersebut, sebuah pertanyaan besar sering kali mengetuk kesadaran kita. Apakah ekspresi ketakwaan kita sudah berjalan selaras dengan kasih sayang kita terhadap bumi tempat kita berpijak?
Rekonstruksi Cara Pandang Melalui Kesalehan Sosial-Ekologis
Berangkat dari refleksi mendalam atas realitas di lapangan, filantropis Eddy Aqdhiwijaya menawarkan sebuah gagasan segar bernama “Green Kurban”. Sebab, ia kerap menyaksikan dampak buruk yang tertinggal pasca-kurban berlalu.
“Kita kerap menyaksikan bumi justru menanggung beban berat setelah kurban. Mulai dari gunungan sampah plastik kantong kresek, limbah darah, kotoran ternak yang mencemari lingkungan, hingga kurangnya perhatian pada aspek kesejahteraan hewan (animal welfare),” jelas Eddy Aqdhiwijaya kepada Krakatoa.id, Selasa (26/5/2026).
Oleh karena itu, Eddy menekankan pentingnya rekonstruksi cara pandang umat dalam beragama. Islam tidak pernah memisahkan antara kesalehan ritual kepada Allah dengan kesalehan sosial-ekologis kepada manusia dan alam.
Buku panduan ini hadir sebagai sebuah kompas praktis sekaligus konseptual. Melalui komitmen untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang ramah, damai, dan penuh cinta, gerakan ini ingin mengembalikan esensi kurban yang sesungguhnya. Green Kurban bukan sekadar tentang mengubah wadah plastik menjadi besek bambu atau daun jati. Lebih jauh dari itu, ini adalah sebuah gerakan budaya dan spiritualitas baru untuk menciptakan filantropi Islam yang inklusif serta berkelanjutan.
3 Lensa Penting dalam Membedah Kurban Hijau
Selanjutnya, Eddy Aqdhiwijaya membedah gagasan Kurban Hijau ini melalui beberapa lensa penting yang saling berkaitan:
- Teologi Islam Cinta dan Lingkungan: Memandang pelestarian alam sebagai manifestasi nyata dari keimanan dan kasih sayang seorang hamba kepada Sang Pencipta.
- Aksi Nyata Eco-Kurban: Menjadi panduan taktis bagi pengurus masjid, komunitas, dan panitia kurban untuk mengelola proses penyembelihan yang higienis. Dengan demikian, prosesnya bisa bebas sampah plastik dan minim limbah buruk (zero waste).
- Filantropi Hijau untuk Masa Depan: Mengajak generasi muda, khususnya Milenial dan Gen Z, untuk melihat bahwa kurban bukan sekadar urusan kaum mapan. Sebaliknya, ini adalah gaya hidup kepedulian yang adaptif terhadap isu perubahan iklim.
Undangan Terbuka untuk Menaikkan Kelas Ibadah Kurban
Dalam kesempatan ini, Eddy Aqdhiwijaya turut memberikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam. Ucapan tersebut ia tujukan kepada para ulama, pegiat lingkungan, serta rekan-rekan di Gerakan Islam Cinta (GIC) dan para mitra filantropi yang telah bertukar ide demi mematangkan gagasan ini.
“Langkah kecil gagasan Green Kurban ini tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya ketukan aksi nyata di lapangan,” ungkap Eddy dengan penuh harap.
Pada akhirnya, jelang perayaan Hari Raya Iduladha 1447 H, seruan Eco-Kurban ini menjadi undangan tulus bagi kaum Muslim sekalian—baik para pekurban, panitia di masjid-masjid, maupun para penggerak kemanusiaan.
“Mari kita naikkan kelas ibadah kurban kita. Mari kita tunjukkan pada dunia bahwa umat Islam mampu mempersembahkan kurban terbaik untuk Allah, sembari tetap menjaga titipan bumi ini agar tetap hijau dan lestari bagi generasi masa depan. Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H dan mari bersama-sama kita bumikan Green Kurban dengan penuh cinta!” tutup Eddy.***






