GIC dan BAZNAS RI Berkolaborasi Luncurkan Gerakan 1000 Filantropis Perempuan

KRAKATOA.ID, JAKARTA — Dunia hari ini memang tidak pernah kekurangan masalah. Namun, dunia juga tidak pernah kekurangan orang-orang baik. Di tengah berbagai tantangan kemanusiaan, sebuah kekuatan besar sering kali lahir dari tempat yang tenang. Kekuatan itu memancar dari dalam hati seorang perempuan.

Melihat potensi besar tersebut, Yayasan Islam Cinta Indonesia (GIC) dan BAZNAS RI meluncurkan sebuah gagasan besar. Oleh karena itu, mereka menginisiasi gerakan “Menciptakan 1000 Filantropis Perempuan” sebagai solusi nyata.

Filantropis Eddy Aqdhiwijaya menegaskan bahwa gagasan ini bukan sekadar narasi tentang memberi. Sebaliknya, aksi nyata ini menjadi pemantik kesadaran baru bagi masyarakat. Kedermawanan bukanlah monopoli kaum elite atau mereka yang bergelimang harta semata.

“Filantropi adalah tentang komitmen, empati, dan keberanian untuk mengambil peran. Kita harus berani menyelesaikan persoalan di sekitar kita,” ujar Eddy Aqdhiwijaya.

Mengapa Harus Filantropis Perempuan?

Eddy Aqdhiwijaya menjelaskan bahwa kaum perempuan memiliki intuisi yang tajam terhadap penderitaan. Selain itu, mereka mempunyai kemampuan alami untuk merawat (nurturing). Oleh sebab itu, langkah nyata seorang filantropis perempuan jarang sekali menghasilkan dampak yang bersifat tunggal.

Menurut Eddy, keterlibatan aktif kaum hawa dalam dunia kedermawanan akan menciptakan efek domino yang luar biasa. Berikut adalah beberapa dampak positif tersebut:

  • Pemberdayaan Keluarga: Perempuan cenderung menginvestasikan kembali sumber dayanya untuk pendidikan dan kesehatan keluarga.

  • Ketahanan Komunitas: Inisiatif sosial yang lahir dari tangan perempuan biasanya berakar kuat pada kebutuhan riil di tingkat akar rumput.

  • Keberlanjutan Generasi: Pada akhirnya, nilai kedermawanan seorang ibu akan menjadi warisan karakter yang berharga bagi masa depan.

Meskipun terdengar ambisius, GIC dan BAZNAS RI tetap optimis mencetak “1000 Filantropis Perempuan”. Eddy menilai angka tersebut bukan batas akhir. Melainkan, angka itu adalah simbol critical mass—sebuah titik balik saat tindakan kecil kolektif mampu menggulirkan perubahan besar.

BACA JUGA :  Menuju Iduladha 1447 H: Eddy Aqdhiwijaya Ajak Umat Islam Bumikan Gagasan "Green Kurban"

Mematangkan Gerakan Melalui Pelatihan Filantropis Perempuan

Untuk mewujudkan gagasan besar ini, GIC dan BAZNAS RI mengemas program nyata. Mereka menggelar “Pelatihan Filantropis Perempuan”. Melalui program ini, para peserta akan mendalami tiga poin krusial:

1. Filosofi Filantropi Modern

Tujuan utama kelas ini adalah menggeser paradigma lama. Dengan demikian, fokus gerakan tidak lagi sekadar “memberi umpan”. Tetapi, lembaga ini berfokus “membuat kail” untuk mengubah sistem sosial yang pincang.

2. Berbagi Kisah Inspiratif

Sementara itu, forum ini juga menghadirkan rekam jejak para tokoh perempuan inspiratif. Mereka adalah orang-orang yang memulai langkah kebaikan dari apa yang mereka miliki, baik berupa waktu, keahlian, jaringan, maupun dana.

3. Panduan Praktis di Era Digital

Selanjutnya, peserta akan menerima pembekalan mengenai strategi merancang gerakan sosial. Aksi tersebut harus berdampak nyata, transparan, dan berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi digital saat ini.