Belajar Etika Gunung dari Anak Krakatau: Antara Ilmu, Adab, dan Keselamatan

KRAKATOA.ID, LAMPUNG SELATAN — Anak Gunung Krakatau tak hanya menyuguhkan panorama vulkanik yang memesona, tetapi juga menghadirkan pelajaran mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya bersikap di hadapan alam. Di puncak gunung api muda yang lahir dari letusan dahsyat Krakatau 1883 itu, etika, keselamatan, dan kearifan lokal bertemu dalam satu kesadaran: alam bukan untuk ditaklukkan, melainkan dihormati.

Hal tersebut disampaikan Pemerhati budaya dan sejarah, Arya Mahessa, saat berada di Puncak Anak Gunung Krakatau, Sabtu (31/1/2026). Dengan tutur bahasa Jawa halus, ia mengingatkan bahwa gunung memiliki makna yang jauh melampaui penjelasan ilmiah semata.

Anak Gunung Krakatau punika boten namung tumpukaning watu saha geni. Panjenenganipun miyos saking geger agenging alam, lan tuwuh sajroning pangreksanipun wekdal. Para sarjana nyebat punika minangka prosesing bumi, dene para sepuh mangertos punika minangka pratandha gesanging daya alam ingkang kedah dipunajeni, (Anak Gunung Krakatau bukan sekadar tumpukan batu dan api. Ia lahir dari kegemilangan alam dan tumbuh dalam perlindungan waktu. Para ilmuwan menyebutnya sebagai proses bumi, sementara para tetua memahaminya sebagai tanda hidupnya kekuatan alam yang wajib dihormati),” ujarnya.

Menurut Arya, para leluhur sejak lama meyakini bahwa setiap tempat besar memiliki nilai penjagaan, bukan untuk disembah, tetapi sebagai pengingat agar manusia tidak bersikap sembrono dan angkuh.

Sinten ingkang eling lan waspada, badhé pinaringan wilujeng; dene ingkang nglirwakaken tata krama, badhé pinanggih piwales saking alam piyambak, (Mereka yang eling dan waspada akan diberi keselamatan; sebaliknya, yang melanggar tata krama akan menerima balasan dari alam itu sendiri),” katanya.

Ia kemudian menjelaskan makna tersebut dalam bahasa Indonesia. Anak Gunung Krakatau, kata Arya, adalah simbol hidupnya kekuatan alam. Ilmu pengetahuan modern menyebutnya proses geologi, sementara kearifan leluhur memaknainya sebagai pesan agar manusia hidup selaras dengan alam semesta.

BACA JUGA :  Bejat! Seorang Ayah di Tulang Bawang Barat Tega Setubuhi Anak Kandung yang Masih Berusia 13 Tahun

Keselarasan itu, lanjut Arya, salah satunya tercermin dari etika saat berada di gunung, termasuk dalam cara berpakaian. Tata krama berpakaian di gunung bukan sekadar soal estetika atau gaya, melainkan menyangkut keselamatan (safety) dan penghormatan terhadap nilai-nilai lokal yang hidup di sekitar kawasan gunung.

Secara umum, pendaki dianjurkan mengenakan pakaian yang menutupi tubuh. Baju berlengan dan celana panjang berfungsi melindungi kulit dari goresan vegetasi, gigitan serangga, serta perubahan cuaca ekstrem yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Sebaliknya, penggunaan pakaian yang terlalu terbuka—seperti tank top atau celana sangat pendek—selain kurang aman, juga kerap dianggap tidak sopan oleh masyarakat setempat yang memegang nilai adat dan budaya di sekitar lereng gunung.

Dari sisi bahan, pendaki dianjurkan menggunakan pakaian berbahan quick-dry seperti polyester yang cepat kering saat terkena hujan atau keringat. Penggunaan jeans sebaiknya dihindari karena berat saat basah dan dapat meningkatkan risiko hipotermia.

Lebih jauh, Arya juga mengingatkan pentingnya menghormati kearifan lokal. Beberapa gunung di Indonesia memiliki pantangan tertentu, termasuk larangan penggunaan warna atau jenis pakaian tertentu, yang merupakan bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.

“Bukan soal percaya atau tidak, tapi soal adab,” jelasnya. “Krakatau punika boten nyuwun dipunkuwasani, nanging dipunpahami. Boten nyuwun dipuntakuti, nanging dipunajeni.” (Krakatau tidak meminta untuk dikuasai, tetapi dipahami; tidak meminta untuk ditakuti, tetapi dihormati),” ucap Arya.

Di Anak Gunung Krakatau, ilmu pengetahuan dan kearifan leluhur berdiri berdampingan. Keduanya mengajarkan satu hal yang sama: bahwa manusia hanyalah tamu di alam, dan keselamatan sering kali berawal dari sikap hormat serta kesadaran untuk tidak melampaui batas.***