KRAKATOA.ID, LAMPUNG TIMUR — Siswa kelas XI SMA Xaverius Bandar Lampung berangkat ke desa dengan berbekal koper berisi perlengkapan pribadi. Mereka memasuki gerbang sekolah untuk menuju Desa Selorejo dan Desa Sambikarto, Lampung Timur. Senyum hangat satu per satu mewarnai keberangkatan hari itu. Didukung cuaca yang cukup cerah, mereka melangkahkan kaki memasuki bus. Selama sepekan, 23–27 Februari 2026, para siswa akan mengikuti kegiatan “Live In”.
Kegiatan Live In kali ini memilih Desa Selorejo dan Desa Sambikarto, Lampung Timur. Pemilihan desa melalui proses panjang. Panitia melakukan survei secara langsung untuk menentukan lokasi yang tepat dan bermanfaat bagi siswa dalam belajar berbagai hal. Kedua desa ini memiliki beragam jenis usaha masyarakat, mulai dari produksi tempe, tahu, tape, peternakan kambing, sapi, babi, hingga pertanian sawah.
Perjalanan dari Bandar Lampung menuju Desa Selorejo dan Sambikarto ditempuh sekitar dua jam. Meski jaraknya tidak terlalu jauh dari Kota Bandar Lampung, para siswa menemukan suasana yang berbeda setibanya di sana.
Live In menjadi wadah untuk menyelami makna kebersamaan secara lebih mendalam. Kebersamaan bukan sekadar berkumpul atau berada di tempat yang sama, melainkan menyangkut nilai batin, sikap, dan tindakan. Pengalaman ini menjadi bahan refleksi ketika siswa berhadapan dengan perbedaan, kesederhanaan, serta proses membangun kepercayaan.
Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran di luar kelas yang memberi kesempatan belajar langsung dari kehidupan masyarakat. Siswa tinggal bersama keluarga setempat dan terlibat dalam aktivitas sehari-hari. Pengalaman tersebut menumbuhkan ikatan emosional dan pemahaman tentang arti kebersamaan dengan warga yang memiliki suku, pendapat, dan latar belakang berbeda. Proses inilah yang diharapkan menjadi benih yang tumbuh dalam diri siswa, sehingga bukan lagi “mereka”, melainkan “kita”.
Selain itu, Live In juga dirancang sebagai sarana pengembangan jiwa kewirausahaan. Selama kegiatan berlangsung, siswa diperkenalkan pada berbagai usaha produktif masyarakat, seperti industri rumahan, kerajinan, serta aktivitas kreatif lainnya. Melalui keterlibatan langsung, siswa belajar memahami proses kerja, pentingnya kreativitas, ketekunan, tanggung jawab, serta cara memanfaatkan potensi lingkungan sekitar secara sederhana namun bermakna. Pengalaman ini diharapkan menumbuhkan sikap mandiri dan kemampuan berpikir kreatif dalam menghadapi berbagai situasi.

Salah satu peserta, Rayna Lexi, membagikan kesannya mengikuti Live In tahun ini.
“Seru banget karena saya banyak belajar hal baru. Tinggal di lingkungan yang asing dan menyesuaikan diri selama lima hari, meskipun waktunya singkat, tapi saya senang bisa bertemu dan belajar hal baru yang tidak bisa saya temukan di kehidupan sehari-hari. Yang paling saya suka adalah solidaritasnya, karena semua orang saling peduli, ramah, saling membantu, simpati, dan empatinya tinggi. Semoga hubungan kami dengan orang tua asuh di Desa Sambikarto tetap terjalin dengan baik,” tutur Rayna.
Kegiatan Live In diharapkan mampu membantu siswa mengembangkan kepekaan sosial, kemandirian, serta semangat berwirausaha sejak dini. Interaksi dan kebersamaan dengan masyarakat menjadi pembelajaran hidup yang berharga serta bekal penting dalam membentuk karakter yang peduli, adaptif, kreatif, dan bertanggung jawab.
Xavepa, Hebat!***
Kontributor: Skolastika Ria, S.Pd.
Editor: Dewi Kristiani






