KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG –— Tim dosen lintas kampus di Provinsi Lampung menciptakan sebuah inovasi kemasan pangan ramah lingkungan. Saat ini, mereka mengembangkan penelitian berskala laboratorium mengenai pemanfaatan limbah pengolahan kopi. Melalui pendekatan sains modern, para peneliti mengekstrak senyawa polisakarida dari kulit dan pulp kopi. Langkah strategis tersebut bertujuan nyata untuk menciptakan matriks edible film atau lapisan pembungkus makanan yang aman manusia konsumsi.
Mengenai hal itu, pertumbuhan industri hilir kopi terus melonjak seiring tren peningkatan konsumsi global. Namun, aktivitas produksi ini juga menghasilkan residu atau hasil samping dalam volume yang sangat besar. Tentu saja, tumpukan limbah organik tersebut berpotensi mencemari lingkungan sekitar jika manajemen penanganan kurang tepat. Oleh karena itu, kolaborasi dosen teknik pertanian membalikkan ancaman ekologis tersebut menjadi peluang bisnis baru.
Kolaborasi Dua Kampus Unggulan Lampung Terapkan Ekonomi Sirkular
Lalu, jalannya riset aplikatif ini melibatkan formasi lengkap akademisi dari dua perguruan tinggi swasta dan negeri. Ir. Febrina Delvitasari, S.T.P., M.Si., IPM. dari Politeknik Negeri Lampung (Polinela) bertindak memimpin proyek riset. Ia menggandeng rekan sejawat, Ir. Maryanti, S.T.P., M.Si., serta Bigi Undadraja, S.T.P., M.Si. dari Universitas Dharma Wacana (UDW). Mereka menggabungkan kompetensi keilmuan guna menyukseskan konsep ekonomi sirkular pada sektor perkebunan kopi nasional.
Sementara itu, konsep ekonomi sirkular menekankan pentingnya mempertahankan nilai guna suatu bahan selama mungkin. Para peneliti tidak lagi memandang kulit kopi sebagai sampah sisa proses produksi yang tidak berguna. Bahkan, mereka melihat kandungan polisakarida di dalam limbah sebagai aset utama pembentuk material pelapis. Keberhasilan riset ini akan memberikan nilai tambah ekonomi baru bagi para petani kelolaan komoditas kopi.
Gelombang Ultrasonik Percepat Proses Ekstraksi Senyawa Karbohidrat
Berikutnya, tim peneliti menggunakan aplikasi teknologi ultrasonik guna mengatasi kelemahan metode ekstraksi konvensional. Metode konvensional umumnya menghabiskan waktu terlalu lama dan memerlukan pelarut kimia cair skala besar. Sebaliknya, gelombang ultrasonik mampu memicu fenomena kavitasi mikroskopis di dalam medium cair secara kilat. Proses mekanis ini merusak dinding sel jaringan bahan sehingga senyawa target keluar lebih cepat.
“Teknologi ultrasonik menawarkan pendekatan yang menarik untuk membantu proses ekstraksi. Gelombang ultrasonik dapat menghasilkan fenomena kavitasi di dalam medium cair,” tulis Ir. Febrina Delvitasari dalam laporan ilmiahnya.
Kemudian, optimalisasi variabel suhu, waktu kontak, dan jenis pelarut menjadi fokus utama kerja laboratorium. Langkah ini memastikan kualitas ekstrak polisakarida memenuhi standar kelayakan fisik untuk pembentukan struktur lapisan tipis. Sebab, karakteristik akhir edible film sangat bergantung pada tingkat kemurnian senyawa hasil ekstraksi tersebut.
Edible Film Berbasis Limbah Kopi Siap Gantikan Kemasan Plastik
Selanjutnya, pergeseran tren pasar dunia mendorong pelaku industri mencari alternatif kemasan pengganti plastik konvensional. Masyarakat global mulai menyadari bahaya tumpukan sampah plastik yang sulit terurai oleh alam. Oleh karena itu, material edible film berbasis biomassa hadir sebagai jawaban solutif yang adaptif. Polisakarida limbah kopi terbukti mampu membentuk matriks film dengan fleksibilitas dan kekuatan mekanik yang baik.
Pada tahap akhir, tim dosen Polinela dan UDW masih perlu menguji tingkat permeabilitas uap air. Mereka juga wajib memastikan aspek keamanan pangan atau food safety sebelum memproduksi massal produk ini. Kesimpulannya, inovasi canggih ini membuka jalan lebar menuju visi industri kopi masa depan tanpa sisa (zero waste).***






