Enam Tahun Menunggu Kaki Palsu, Deddy Efendi Tetap Berjuang Menghidupi Keluarga di Bandar Lampung

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Senyum Deddy Efendi tetap terlihat ketika ia melayani pembeli di warung kecil miliknya. Di tengah keterbatasan fisik, pria 48 tahun itu terus menjalani kehidupan dengan penuh keteguhan.

Namun, di balik aktivitasnya sehari-hari, Deddy menyimpan harapan besar yang belum terwujud. Ia ingin memiliki kaki palsu agar bisa berjalan lebih nyaman dan menjalani aktivitas tanpa terlalu bergantung pada tongkat.

Deddy merupakan penyandang disabilitas asal Lahat yang kini tinggal di Jalan Kopi, Rajabasa, Gedung Meneng, Bandar Lampung. Sebelumnya, ia menjalani kehidupan seperti masyarakat lainnya. Akan tetapi, kondisi berubah setelah kaki kanannya harus diamputasi pada 2020.

Luka Kecil Berujung Amputasi Kaki

Deddy masih mengingat jelas kejadian yang mengubah hidupnya. Saat itu, sekitar tahun 2010, ia mengalami kecelakaan kecil ketika membantu memperbaiki rumah keluarga.

“Itu awalnya tahun 2010. Kecucuk paku. Awalnya itu cucuk paku,” ujar Deddy saat ditemui Krakatoa.id di kediamannya, Jumat (17/7/2026).

Ketika itu, Deddy ikut membantu keluarga melalui kegiatan gotong royong. Saat melompat, tanpa sengaja kakinya terkena paku hingga menembus bagian kaki.

“Nah, saya itu lompat, ada paku. Tembus di kaki itu. Takut suntik saya waktu itu. Suntik sekali saja waktu di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung,” kenangnya.

Setelah kejadian tersebut, Deddy hanya menjalani pengobatan dan mengonsumsi obat. Namun, kondisi kakinya perlahan memburuk. Hingga akhirnya, pada 2020, masalah tersebut semakin parah.

“Nah, sudah habis itu saya minum obat. Puncak-puncaknya tahun 2020, pecah bagian ini,” katanya sambil menunjukkan bagian kaki yang pernah mengalami masalah.

Kemudian, dokter menyarankan tindakan amputasi untuk menyelamatkan kondisinya. Oleh karena itu, Deddy harus menerima kenyataan kehilangan kaki kanannya.

BACA JUGA :  Musrenbang RKPD 2027 Lampung Tengah Bahas Percepatan SDM dan Infrastruktur

“Ya itulah kata dokter di rumah sakit, disuruh potong. Dipotonglah dia,” ucap Deddy.

Tetap Bekerja Demi Keluarga

Meski kehilangan satu kaki, Deddy tidak menyerah. Sebaliknya, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan keluarga melalui usaha kecil yang ia jalankan setiap hari.

“Saya ini aslinya orang Lahat. Dari sana merantau ke sini,” katanya.

Saat ini, Deddy tinggal bersama keluarganya dan memiliki tiga anak. Anak pertamanya sedang menempuh pendidikan kuliah. Sementara itu, anak keduanya bersekolah di SMK kelas tiga. Selain itu, anak ketiganya masih duduk di kelas lima SD Negeri 1 Gedung Meneng.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Deddy mengandalkan warung sederhana miliknya. Melalui usaha kecil tersebut, ia terus berusaha bertahan.

“Usaha sehari-hari ya warung gini saja, dagang nasi uduk,” ujarnya.

Di sisi lain, keterbatasan fisik membuat Deddy harus menggunakan tongkat saat beraktivitas.

“Kalau saya nggak bisa lagi, paling bantu-bantu ibunya saja. Sehari-hari jalan pakai tongkat ini,” katanya.

Berharap Mendapatkan Kaki Palsu

Selama enam tahun terakhir, Deddy terus menunggu bantuan kaki palsu. Sebelumnya, ia sudah pernah mengajukan permohonan. Namun, hingga kini bantuan tersebut belum ia terima.

“Waktu itu sudah pernah mengajukan, tapi belum pernah dapat. Kalau saya dapat kaki palsu, harapannya lebih nyaman. Kalau jalan tidak terlalu susah,” ungkapnya.

Menurut Deddy, kaki palsu akan memberikan perubahan besar dalam kehidupannya. Selain membantu berjalan, alat tersebut juga membuatnya lebih mudah bekerja.

“Berdiri nggak terlalu capek. Dulu pernah ada yang datang ke sini tahun 2020. Sampai sekarang ditunggu-tunggu belum dapat. Sudah enam tahun ya,” ujarnya.

Meski demikian, Deddy tetap menyimpan harapan. Ia percaya bantuan tersebut dapat membuat aktivitasnya menjadi lebih ringan.

BACA JUGA :  Sinergi Pusat-Daerah: Rahmat Mirzani Djausal Kawal Peran Perempuan Desa di Kancah Nasional

Harapan untuk Gubernur Lampung

Di tengah perjuangannya, Deddy menyampaikan harapan kepada pemerintah, khususnya Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal.

Menurutnya, bantuan kaki palsu akan menjadi dukungan besar agar dirinya dapat kembali bergerak lebih bebas.

“Pak Gubernur Mirza, tolong bantu saya minta kaki palsu. Selama ini dari tahun 2020 belum pernah memakai kaki palsu. Saya benar-benar ingin punya kaki palsu,” harap Deddy.

Pada akhirnya, bagi Deddy, kaki palsu bukan hanya alat bantu berjalan. Lebih dari itu, alat tersebut menjadi harapan untuk bekerja lebih nyaman, membantu keluarga, dan menjalani hidup dengan lebih percaya diri.

Dengan demikian, kisah Deddy menjadi gambaran perjuangan seorang penyandang disabilitas yang tetap berusaha mandiri meski menghadapi keterbatasan.***