Food Waste Rumah Tangga Capai 11 Persen, Lampung Gencarkan Gerakan Selamatan Pangan

KRAKATOA.ID, BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung mengajak masyarakat mengurangi sampah makanan melalui Gerakan Selamatan Pangan. Program ini mendorong warga memanfaatkan pangan yang masih aman dikonsumsi agar tidak berakhir menjadi limbah.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Distribusi Pangan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung, Ely Nuratni Sari, S.P., M.M., mengatakan pihaknya menjalankan sosialisasi Gerakan Selamatan Pangan selama empat tahun terakhir.

“Kemarin, Sabtu (1/8/2026), kami mengisi acara Komunitas Ayo Menanam Indonesia di Kedaton, Bandar Lampung. Kami mengenalkan gerakan selamatan pangan kepada masyarakat yang hadir,” kata Ely saat ditemui di kantornya, Senin (3/8/2026).

Ely menjelaskan gerakan tersebut mengajak masyarakat menyelamatkan makanan yang masih layak makan. Warga dapat memanfaatkan makanan tersebut untuk konsumsi sendiri atau membagikannya kepada orang lain.

Menurut Ely, persoalan pangan terbuang masih menjadi tantangan besar dunia. Data FAO tahun 2011 mencatat masyarakat dunia membuang sekitar 1,3 miliar ton pangan setiap tahun.

Jumlah pangan yang terbuang tersebut sebenarnya mampu memenuhi kebutuhan sepertiga populasi dunia.

“Di Indonesia, masyarakat membuang sekitar 21 sampai 23 ribu ton pangan,” ujar Ely.

Rumah Tangga Menjadi Penyumbang Food Waste Terbesar

Ely mengatakan masyarakat perlu memahami dua istilah penting, yaitu food loss dan food waste. Food loss terjadi ketika pangan hilang sejak proses produksi, distribusi, hingga sebelum sampai ke meja makan.

Sementara itu, food waste muncul ketika masyarakat membuang makanan yang sudah siap konsumsi.

“Sekitar 19 persen pangan terbuang berasal dari food waste, sedangkan sekitar 12 persen berasal dari food loss,” jelas Ely.

Ia menyebut rumah tangga menjadi penyumbang terbesar food waste. Masyarakat rumah tangga menghasilkan sekitar 11 persen dari total makanan terbuang. Sementara sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) menyumbang sekitar 5 persen.

BACA JUGA :  Briptu Diqy, Sosok Polisi Yang Ramah dan Baik Di Mata Anak-Anak

“Karena itu, kami terus mengajak ibu-ibu rumah tangga melalui PKK untuk mengurangi makanan yang terbuang,” katanya.

DKPTPH Lampung Perkuat Edukasi Penyelamatan Pangan

Ely menilai keluarga memiliki peran besar dalam mengurangi sampah makanan. Masyarakat bisa mengambil makanan secukupnya, menyimpan makanan dengan benar, dan memanfaatkan kembali makanan yang masih layak.

Dalam acara Komunitas Ayo Menanam Indonesia di Kedaton, Bandar Lampung, Ely melihat banyak warga tertarik mempelajari gerakan tersebut.

“Banyak peserta yang baru mengetahui gerakan ini. Sekarang mereka ikut bergerak bersama untuk menyelamatkan pangan yang masih bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Ely mengajak masyarakat menjadikan penyelamatan pangan sebagai kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, langkah sederhana dari rumah dapat membantu menjaga ketahanan pangan Lampung.

“Jangan langsung membuang pangan yang masih bisa dimanfaatkan. Kita bisa menyelamatkannya agar memberi manfaat bagi orang lain,” pungkas Ely.***