Bukan Cuma Soal Pupuk, Petani Lampung Tengah Bangun Pertanian dari Gotong Royong hingga Alsintan

KRAKATOA.ID, LAMPUNG TENGAH — Kekuatan pertanian di Desa Rama Nirwana, Kecamatan Seputih Raman, Lampung Tengah, tidak hanya bertumpu pada pupuk dan teknologi. Gotong royong petani justru menjadi salah satu modal utama untuk menjaga produktivitas sawah.

Di tengah penerapan teknologi pertanian modern dan penggunaan Pupuk Hayati Cair (PHC), kelompok tani Rama Nirwana terus memperkuat kerja sama. Mereka bergerak bersama untuk mengendalikan hama, mengatasi persoalan air, hingga membangun kemandirian alat dan mesin pertanian (Alsintan).

Pemerintah Provinsi Lampung melihat potensi tersebut saat meninjau produksi dan pemanfaatan PHC di Desa Rama Nirwana, Kamis (20/8/2026).

Bagi Pemprov Lampung, peningkatan produktivitas tidak cukup mengandalkan bantuan pupuk atau teknologi. Kelompok tani juga harus memiliki kemampuan mengelola kebutuhan pertanian secara mandiri.

Satu Hamparan, Satu Gerakan Lawan Hama

Kelompok tani di Rama Nirwana menerapkan pengendalian hama secara bersama-sama. Ketika tikus atau belalang menyerang, petani langsung bergerak tanpa membedakan kepemilikan lahan.

Surono dari Gapoktan Sri Rezeki 3 mengatakan warga terbiasa menangani persoalan hama dalam satu hamparan.

“Masalah kekompakan di sini. Kalau satu hamparan dikerjakan bersama-sama, insyaallah bisa berhasil. Untuk masalah tikus dan belalang juga kita kerjakan bersama. Kalau ada lubang tikus, tidak peduli itu sawah siapa, tetap kita tangani,” ujar Surono.

Pola gotong royong tersebut membantu petani menjaga kondisi tanaman secara lebih menyeluruh. Mereka tidak hanya melindungi lahan sendiri, tetapi ikut menjaga seluruh kawasan persawahan.

Sekitar 95 persen lahan pertanian di Rama Nirwana dapat ditanami.

Kondisi itu membuat Rama Nirwana menarik perhatian kelompok tani dari berbagai daerah. Selama empat bulan terakhir, petani dari Lampung Selatan, Tulang Bawang, dan daerah lain datang untuk mempelajari praktik budidaya padi di kawasan tersebut.

BACA JUGA :  Pj. Gubernur Samsudin Dorong Generasi Muda Mandiri Hadapi Tantangan Global

PHC Bantu Petani Dorong Produktivitas Padi

Selain mengandalkan kekompakan, kelompok tani Rama Nirwana mulai membangun kemandirian melalui produksi Pupuk Hayati Cair (PHC).

Sebelumnya, kelompok tani memproduksi sekitar 10 drum PHC. Kini mereka kembali membuat empat drum untuk memenuhi kebutuhan anggota dan petani di wilayah sekitar.

Penggunaan PHC juga mulai menunjukkan perubahan pada tanaman padi. Daun yang sebelumnya terlihat kekuningan berubah lebih hijau, sedangkan batang tanaman tumbuh lebih kuat.

Surono mengatakan perubahan tersebut mulai terlihat sekitar satu hingga 10 hari setelah petani menggunakan PHC.

“Waktu sebelum dikasih PHC, daunnya agak kuning-kuning. Setelah satu minggu sampai 10 hari, sudah bisa hijau benar. Batangnya kuat, sekarang helainya sampai ujung dan bulirnya juga bertambah,” kata Surono.

Suyono, petani lainnya, juga merasakan peningkatan hasil panen setelah menggunakan PHC.

Ia menyebut produktivitas yang sebelumnya berada di kisaran 5,2 hingga 5,5 ton per hektare meningkat menjadi sekitar 6,5 ton per hektare, termasuk saat musim rendeng.

“Rendeng kemarin biasanya 5,2 sampai 5,5 ton, setelah menggunakan ini bisa 6,5 ton. Hasilnya bagus,” ujar Suyono.

PM-AAS Lengkapi Teknologi Budidaya

Program Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) turut memperkuat praktik budidaya di Rama Nirwana.

Teknologi tersebut mencakup pemanfaatan silika, pestisida, hormon, dan molybdenum untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Penerapan teknologi PM-AAS juga membantu petani mempercepat masa panen hingga sekitar 10 hari. Selain itu, petani mulai memanfaatkan informasi mengenai pH tanah untuk menentukan pengelolaan lahan secara lebih tepat.

Pemprov Lampung melihat teknologi tersebut memiliki peluang besar untuk meningkatkan produktivitas sekaligus pendapatan petani.

Jika hasil panen meningkat satu ton gabah per hektare, tambahan produksi tersebut dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi petani.

BACA JUGA :  Ilmuwan: Sebuah Gua di Bulan Dapat Menjadi Tempat Berlindung Bagi Astronaut

Persoalan Air Masih Jadi Tantangan

Kemajuan teknologi belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan pertanian di Rama Nirwana. Ketersediaan air masih menjadi tantangan, terutama ketika petani menghadapi musim kemarau.

Perbedaan elevasi dan kondisi saluran irigasi membuat air sulit menjangkau sejumlah lahan persawahan.

Pemerintah mendorong kelompok tani memanfaatkan sumur bor dan pompa sebagai solusi pendukung. Namun, keterbatasan jumlah bantuan membuat pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan seluruh kelompok secara bersamaan.

Gubernur Lampung meminta petani menghidupkan kembali semangat gotong royong untuk mengatasi persoalan tersebut.

“Pemerintah memang membantu pompa, tetapi bantuannya terbatas dan tidak bisa semuanya sekaligus. Sambil menunggu, kita dorong gotong royong. Ada yang dapat bantuan, ada yang belum, yang belum kita bantu bersama. Yang penting semuanya kebagian air,” ujar Gubernur.

Ia juga mendorong Gapoktan membahas mekanisme pembayaran setelah panen atau yarnen untuk membantu membiayai operasional pompa.

Gapoktan Didorong Punya Alsintan Sendiri

Pemprov Lampung juga ingin Gapoktan membangun kemandirian alat dan mesin pertanian (Alsintan).

Traktor, combine harvester, dan peralatan pertanian lainnya dapat menjadi aset kelompok. Gapoktan kemudian dapat mengelola alat tersebut sebagai layanan bagi anggota.

Model itu membuat Gapoktan tidak hanya berfungsi sebagai wadah petani. Kelompok juga dapat berkembang menjadi unit usaha yang menghasilkan pendapatan.

Kepemilikan Alsintan secara mandiri dapat mengurangi ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. Selama ini, jumlah bantuan terbatas dan pemerintah menyalurkannya secara bertahap.

Rama Nirwana Jadi Contoh Pertanian Modern

Rama Nirwana kini menarik perhatian petani dari berbagai daerah bukan hanya karena hasil panennya. Desa tersebut juga menunjukkan bagaimana kelompok tani membangun sistem pertanian melalui kerja sama.

Kelompok tani memproduksi PHC, menerapkan teknologi PM-AAS, mengendalikan hama secara bersama, mengelola kebutuhan air, serta mulai membangun kemandirian Alsintan.

BACA JUGA :  Unila Jalin Kerja Sama Internasional dengan Refles University Malaysia

Kombinasi tersebut menunjukkan bahwa pertanian modern tidak selalu bergantung pada mesin mahal. Teknologi memang penting, tetapi kekompakan, pengetahuan, akses air, dan kemampuan mengelola usaha juga menentukan keberhasilan petani.

Pemprov Lampung ingin pola tersebut berkembang ke wilayah lain. Pemerintah akan terus mendorong kolaborasi antara petani, Gapoktan, pemerintah daerah, dan berbagai pihak untuk memperkuat ekosistem pertanian.

Jika model Rama Nirwana mampu berkembang lebih luas, Lampung tidak hanya berpeluang meningkatkan produksi padi. Provinsi ini juga dapat mencetak petani yang lebih mandiri, kompak, dan siap menghadapi tantangan pertanian modern.***