KRAKATOA.ID, PESAWARAN – Gerakan Nelayan Tani Indonesia (GNTI) baru saja membuat gebrakan baru di sektor agraria. Dalam hal ini, mereka sukses menggelar Panen Raya Jagung GNTI 2026 pada Sabtu (30/5/2026). Adapun kegiatan ini mengambil lokasi di Desa Sinar Jati, Tegineneng, Pesawaran, Lampung.
Melalui agenda besar ini, GNTI ingin menunjukkan komitmen kuatnya kepada publik. Sebab, mereka terus konsisten mendorong ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, salah satu caranya adalah lewat akselerasi modernisasi pertanian dan peningkatan kesejahteraan petani.
Pangkas Biaya Operasional Lewat Teknologi Modern
Berbeda dengan cara tradisional, proses panen raya kali ini menggunakan mesin Combine Harvester. Hasilnya, alat modern ini mampu memangkas waktu kerja secara signifikan di lapangan. Selain itu, mesin tersebut terbukti ampuh menekan biaya operasional para petani. Bahkan, alat canggih itu bisa meminimalisir kehilangan hasil panen hingga di bawah 3%.
Ternyata, proyek modernisasi pertanian ini sudah berjalan sejak awal masa tanam. Sebagai contoh, petani binaan GNTI mempraktikkan teknologi drone pertanian sejak beberapa bulan lalu. Secara teknis, alat canggih tersebut membantu petani menjalankan sistem pemupukan presisi.
Dengan menggunakan drone, petani menghasilkan distribusi pupuk yang lebih merata dan tepat dosis. Disamping itu, metode udara ini juga jauh lebih ramah lingkungan. Sebab, drone mampu mengurangi limpasan zat kimia berlebih ke dalam tanah.
Prof. Rokhmin Dahuri: Teknologi Pikat Minat Milenial
Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum GNTI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, hadir langsung untuk meninjau kegiatan. Sama halnya dengan informasi yang beredar, beliau juga aktif menjabat sebagai Ketua DPP PDI Perjuangan. Terkait kehadiran, sejumlah tokoh penting lintas sektor turut mendampingi Rokhmin di lokasi acara.
Beberapa di antaranya adalah Anggota DPR RI I Ketut Suwendra dan Mukhlis Basri. Kemudian, hadir pula Ketua DPD PDI Perjuangan Lampung Hj. Winarti, serta Bupati Pesawaran Hj. Nanda Indira.
Dalam sambutannya, Prof. Rokhmin Dahuri menegaskan pentingnya adopsi teknologi bagi petani lokal. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004 ini, modernisasi adalah langkah strategis yang mutlak. Artinya, teknologi menjadi kunci utama untuk mendongkrak produktivitas lahan. Oleh sebab itu, inovasi ini diyakini bisa menarik minat generasi muda untuk kembali bertani.
“Penggunaan drone dan combine harvester adalah bukti nyata. Jadi, petani Indonesia terbukti mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman,” tutur Rokhmin.
Selanjutnya, ia menambahkan bahwa esensi ketahanan pangan memiliki makna yang sangat luas. Artinya, hal ini tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan stok pangan di pasar semata. Namun, program ini juga wajib memperhatikan nilai ekonomi yang layak bagi para petani.
Sinergi Hulu ke Hilir Melalui Tiga Agenda Utama
Senada dengan hal itu, Sekretaris Jenderal GNTI, Sutrisno, merasa sangat optimistis melihat pergerakan ini. Maka dari itu, GNTI yakin produktivitas jagung nasional akan terus melonjak tajam ke depannya. Langkah tersebut siap memperkuat posisi petani sebagai pilar utama ekonomi pedesaan.
Sebagai penutup, rangkaian Panen Raya Jagung GNTI 2026 menghadirkan tiga agenda utama:
• Panen Simbolis: Langkah awal memulai aksi oleh Prof. Rokhmin Dahuri bersama pejabat yang memanen jagung memakai combine harvester.
• Demonstrasi Drone: Agenda berikutnya menampilkan pemaparan uji coba proses pemupukan presisi lewat udara di hadapan para petani.
• Komitmen Tertulis: Sesi terakhir memuat penandatanganan kerja sama antara GNTI dengan perwakilan petani terkait pendampingan teknologi dan jaminan akses pasar.
Dengan demikian, GNTI terus mengusung semangat “Petani Sejahtera, Pangan Berdaulat, Indonesia Kuat”. Akhirnya, mereka menargetkan model pertanian modern di Pesawaran ini menjadi percontohan nasional. Lalu, GNTI siap menerapkan sistem ini di sentra jagung lainnya di seluruh wilayah Indonesia.***






